<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063</id><updated>2011-04-22T13:14:12.827+08:00</updated><title type='text'>Kabar Positif</title><subtitle type='html'>Ruang menyimpan dan membagi peristiwa, cerita, masalah, harapan, serta semua hal tentang HIV/AIDS di Bali</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>76</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-1825587038568543902</id><published>2007-02-08T10:59:00.000+08:00</published><updated>2007-01-31T18:12:07.008+08:00</updated><title type='text'>Resistensi HIV Ancam ODHA Bali</title><content type='html'>Resistensi HIV Ancam ODHA Bali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Anton Muhajir, angota Komunitas Jurnalis Peduli AIDS Bali]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya mata, masa depan Agung sebagai ODHA pun makin gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan Agung, 34 tahun, makin samar. Mata kanannya sudah tak bisa dipakai melihat sama sekali. Mata kirinya makin dipenuhi titik hitam. Padahal pekerjaan bapak satu anak ini tergantung pada mata, selain kemampuan menyetir. Tiap hari Agung mengemudikan truk tangki bensin 5000 liter dari Pesanggaran, Denpasar Selatan ke berbagai industri pelanggannya. Tapi melihat benda berjarak lebih dari lima meter pun kini dia tak bisa melakukannya dengan baik. Dua bulan lalu dia pindah ke kursi sebelah, sebagai kernet. “Itu pun sering tak masuk,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agung mulai merasakan ada masalah di matanya sejak tiga bulan lalu. Menurut dokter yang memeriksanya, Agung terserang cytomegalovirus (CMV). CMV temasuk salah satu infeksi oportunistik (IO) pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Agung positif human immunodeficiency virus (HIV), virus penyebab acquired immune deficiancy syndrome (AIDS) atau sindrom menurunnya sistem kekebalan tubuh, akibat perilakunya bergantian jarum ketika masih aktif menggunakan narkoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut teori, setelah HIV menyerang sistem kekebalan tubuh, IO akan dengan mudah menyerang ODHA. Salah satunya CMV yang menyerang bagian tubuh terutama mata dan mengakibatkan radang pada retina mata. Jika tidak segera ditangani, CMV dapat menyebabkan kebutaan total. Agung belum pada kondisi ini. Dia masih bisa melihat dengan mata kirinya meski kini penuh titik hitam yang terus bergerak. Tapi dia sudah pasrah. “Mau apa lagi?” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CMV menyerang mata pada ODHA dengan jumlah sel darah putih yang menunjukkan sistem kekebalan (CD4) di bawah 100. Berdasarkan tes terakhir, CD4 Agung hanya 19. Padahal pada orang normal CD4 berkisar antara 500 hingga 1.600. Rendahnya CD4 di tubuh Agung membuatnya rentan terkena IO. Dia pernah kena penyakit tuberculosis (TBC). Luka bekas operasi kelenjar TB di lehernya masih terlihat. Saat ini, selain CMV, dia juga terserang jamur (candidiasis). Sepanjang lengan dan sebagian wajahnya terlihat bercak putih. Dia berkali-kali menggaruknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghindari terjadinya infeksi oportunistik, ODHA biasa minum anti-retroviral (ARV). Obat ini berfungsi menekan laju replikasi HIV di dalam tubuh. Agung sudah minum ARV sejak April 2004. Ketika mulai terapi, Agung minum duviral dan neviral. Tapi karena masih mengalami candidia, sejak enam bulan lalu, dokter menyarankan dia mengganti dua jenis tersebut dengan stavudin, nevirapin, dan lamivudin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Yusuf Rey Noldy, konselor di Bali, agar terapi ARV berjalan optimal, ODHA harus patuh minum obat. Kepatuhan ini dilihat dari waktu minum obat yang harus tepat. Misalnya biasa minum obat pukul 9 pagi dan malam, maka tiap hari harus minum obat pada waktu yang sama. Selain waktu yang sama, obat ini juga harus diminum seumur hidup. Kalau pindah waktu minum atau lupa minum satu hari, maka ARV tidak akan berfungsi optimal menekan virus. Malah, HIV di dalam tubuh ODHA bisa resisten, kebal dengan ARV yang diminumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agung sudah berusaha agar tidak terlambat minum tiga pil tersebut. Selain dengan alarm di handphone, anak dan istrinya pun selalu mengingatkan waktu minum obat. Toh, meski sudah patuh, resistensi virus masih mengancamnya. “Mungkin karena telat minum obat,” Agung menduga. Dia sendiri mulai minum ARV setelah operasi TB kelenjar, salah satu infeksi oportunistik. Sebelum terserang TB kelenjar, dia tidak sadar kalau di tubuhnya ada HIV, bahkan sudah pada fase AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agung tak sendiri. Frans, 30 tahun, mengalami hal yang sama. Mantan injecting drugs user (IDU) ini pun kemungkinan mengalami resistensi virus. Karena tahu positif HIV, Frans minum ARV sejak 2003. “Empat tahun pakai ARV, hasilnya tidak jelas,” katanya.&lt;br /&gt;Tidak jelasnya hasil terapi itu bisa dilihat dari CD4 Frans. Menurut teori, terapi ARV berhasil ditandai dengan kenaikan CD4. Tapi terakhir kali cek ternyata CD4 Frans malah turun jadi 117 dari yang sebelumnya 172.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain melalui CD4, keberhasilan terapi ARV juga dilihat dari turunnya jumlah virus di darah atau viral load. Viral load di Frans memang pernah turun, dari 750 ribu copy jadi 85 ribu copy. Tapi terakhir tes, viral load-nya naik lagi jadi 120 ribu. Karena itulah Frans sangat yakin dia mengalami resistensi. “Padahal aku sudah patuh minum ARV,” ujar Frans yang juga konselor ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frans mengaku pernah satu dua kali telat minum ARV. Tapi tak lama. Paling dari yang seharusnya pukul 7 pagi dia minum pukul dua jam kemudian. Itu pun, lanjutnya, hanya tiga atau empat kali selama empat tahun minum ARV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya secara fisik Frans belum pernah –,”Dan semoga tidak,” katanya- mengalami infeksi oportunistik. “Paling ya flu ringan dan batuk-batuk. Itu kan biasa,” tambahnya. Berat badannya pun naik. Tapi resistensi toh masih mengancam Frans dan ribuan ODHA lain di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Yusuf Rey Noldy, juga petugas lapangan (PL) lembaga swadaya masyarakat (LSM) penanggulangan AIDS di kalangan IDU Yayasan Hatihati, resistensi bisa terjadi jika tidak ada respon terhadap penyakit maupun virus di tubuh ODHA yang ikut terapi ARV. Misalnya masih muncul IO meski sudah minum ARV, seperti terjadi pada Agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resistensi terjadi akibat dua hal. Pertama akibat ketidakpatuhan ODHA minum ARV. Kepatuhan ini mulai ketepatan waktu minum ARV dan kemauan minum ARV selama hidup. “Sekali saja ODHA itu tidak minum ARV, maka ada kemungkinan virus di tubuhnya akan resisten,” kata Noldy. Pelanggaran terhadap kepatuhan ini terjadi akibat ketidaktahuan, ODHA bosan minum ARV, atau karena efek samping ARV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua resistensi juga bisa terjadi jika ODHA terinfeksi virus yang sudah resisten. Jadi ada virus yang sudah resisten pada satu ODHA lalu virus tersebut ditularkan pada orang lain. Virus di tubuh ODHA itu sudah jadi mutan sehingga imun (kebal) pada ARV yang diminum. Namun untuk tahu obat mana yang tidak berpengaruh pada HIV di tubuh, jalan satu-satunya adalah tes resistensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya hingga saat ini Indonesia belum punya fasilitas tes resistensi. Eri, 40 tahun, ODHA lain di Bali, harus mengirim sampel darahnya ke Australia untuk tahu apakah dia resisten atau tidak. Biayanya pun hingga Rp 4 juta sekali tes. Hasilnya, virus di tubuh staf yayasan penanggulangan AIDS di Denpasar ini memang imun pada nevirapine dan sidovudine, dua dari tiga obat yang diminumnya sejak dua tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya HIV dan AIDS itu sendiri, resistensi pada ODHA pun bisa jadi adalah fenomena gunung es. Kasus yang muncul hanya puncak yang terlihat dari kondisi nyata di bawahnya. Eri beruntung karena bisa melakukan tes resistensi sehingga bisa terlihat kalau dia mengalami resistensi HIV. Agung dan Frans masih menduga-duga meski kemungkinan resisten pada mereka juga besar. Tapi bisa jadi 4000 ODHA di Bali, berdasarkan estimasi Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Bali Desember 2006 lalu, juga mengalami ancaman yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini bisa dilihat dari ODHA yang berhenti ikut terapi ARV. Misalnya Ariawan, 41 tahun. Sejak Februari tahun lalu Ariawan berhenti minum ARV. Padahal dia sadar betul dengan risiko resistensi yang akan dihadapinya. Ariawan berhenti minum ARV karena merasa tidak kuat dengan efek samping. Delapan bulan setelah mulai terapi sejak September 2004, dia mulai merasa kurang darah. Hemoglobin, sel darah merahnya, jadi delapan dari yang sebelumnya 13. Dia pun berganti obat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun meski sudah berganti obat, Ariawan masih merasakan efek samping. Kali ini dia sampai tidak bisa menggerakkan kaki saking kakunya. Dia kena kram (neuropati) pada kaki. Tiap bangun tidur, kakinya kesemutan. “Kalau digerakkan sakitnya bukan main,” akunya. Ariawan yang belajar banyak soal efek samping ARV itu sadar kalau terancam efek samping permanen. Dia pun memutuskan berhenti minum ARV. “Ini keputusanku. Aku siap dengan risikonya,” kata Ariawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ariawan hanya satu dari belasan ODHA yang sudah berhenti terapi ARV. Menurut data Klinik voluntary, counseling, and testing (VCT) Rumah Sakit Sanglah Denpasar, hingga Januari lalu 23 ODHA sudah tak lagi minum ARV, 19 orang tak pernah mengambil ARV sedangkan empat lainnya memang mengaku berhenti minum ARV. Ada yang bosan ikut terapi. Ada yang tidak kuat efek samping. Ada pula yang mencoba obat alternatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah, meski sudah punya gejala resistensi, Agung dan Frans masih terus minum ARV. Mereka tak menyerah pada ancaman virus yang imun. “Saya hanya tidak mau orang lain mengalami resistensi seperti saya,” kata Agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kalangan LSM penanggulangan AIDS di Bali, resistensi memang sudah jadi bahan diskusi beberapa kali meski secara informal. Namun belum ada langkah antisipasi pada ancaman resistensi. Bali+, sebagai kelompok dukungan bagi ODHA di Bali, misalnya sampai saat ini belum pernah menindaklanjuti laporan adanya ancaman ini. “Memang sudah ada laporan, tapi kami belum pernah membicarakan di Bali Plus,” jawab Kadek Dharmawan, staf Bagian Pendampingan ODHA Bali+ ketika ditanya masalah resistensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban yang sama didapat Agung ketika dia menyampaikan masalah resistensi tersebut pada aktivis LSM lain di Bali. Padahal, menurut Agung, LSM seharusnya membantu dia sebagai ODHA. “Saya ingin teman-teman di yayasan bisa memperjuangkan adanya tes resistensi bagi ODHA. Tidak hanya sibuk dengan proyek yang mengatasnamakan ODHA tapi mereka sendiri yang menikmati hasilnya,” harap Agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi keluhan tersebut Tuti Parwati, Koordinator Care, Support, and Treatment (CST) KPA Bali sudah berusaha mengantisipasi. Tuti, dokter penemu kasus HIV/AIDS pertama di Bali pada 1987, mengaku sudah mendapat laporan dari pasien maupun ODHA lain di Bali tentang ancaman resistensi tersebut. “Karena itu KPA Bali dan KPA Nasional sudah berkoordinasi dengan lembaga penelitian mikrobiologi di Jakarta yang meneliti masalah resistensi,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, lanjut dokter spesialis penyakit dalam itu, KPA Bali juga sudah mengajukan proposal agar ada yang bersedia memberikan tes resistensi gratis bagi ODHA. “Kalau KPA Bali yang mebiayai, aduh, itu besar sekali,” ujar Tuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menunggu proposal itu disetujui, Agung dan ODHA lain tetap harus berjuang sendiri menghadapi ancaman resistensi. [***]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-versi bahasa Inggris tulisan ini, dengan editing di beberapa bagian, dimuat The Jakarta Post [8/2].&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-1825587038568543902?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/1825587038568543902/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=1825587038568543902&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/1825587038568543902'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/1825587038568543902'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2007/02/resistensi-hiv-ancam-odha-bali.html' title='Resistensi HIV Ancam ODHA Bali'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-6028747392850029359</id><published>2007-01-31T17:56:00.000+08:00</published><updated>2007-01-31T18:09:57.723+08:00</updated><title type='text'>Perlunya Tes Resistensi bagi ODHA</title><content type='html'>Perlunya Tes Resistensi bagi ODHA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Yusuf Rey Noldy, konselor, anggota Ikatan Korban Napza (IKON) Bali]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu orang dengan HIV/AIDS (Odha) terkejut melihat hasil tes kekebalan tubuh (CD4) dan hasil tes viral load, yang mengukur jumlah virus HIV dalam darah. Hasil tes CD4-nya tidak menunjukkan peningkatan. Hasil tes viral load juga tinggi, di atas 10 ribu copy. Dia sangat terkejut. Sebab dia telah ikut terapi anti-retroviral (ARV) kurang lebih tiga tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara teori, terapi ARV dianggap berhasil jika jumlah kekebalan tubuh Odha meningkat dan jumlah viral load dalam tubuh tidak terdeteksi. Tapi teman itu tidak. Dia malah mengalami penurunan CD4 dan peningkatan viral load. Apa sebenarnya yang terjadi pada teman Odha ini? Apakah virus di tubuhnya mengalami resistensi atau kebal terhadap salah satu jenis obat? Atau bahkan resisten terhadap tiga jenis obat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya ini menjadi pertanyaan bagi teman Odha tersebut. Kalau pun obat ini resisten terhadap virus di dalam tubuhnya, apakah obat yang sudah jelas tidak menunjukkan hasil yang baik harus tetap aku minum? Apakah tidak ada efek yang negatif apabila dia terus mengkonsumsi obat yang sudah jelas tidak memberikan hasil baik pada hasil tes yang telah dia jalani?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa faktor penyebab resistenai adalah ketidakpatuhan Odha mengkonsumsi ARV, ketidakpahaman Odha akan terapi ARV yang seharusnya dikonsumsi seumur hidup, serta Odha tersebut terinfeksi virus HIV yang sudah resisten. Untuk mengetahui apakah Odha tersebut resisten terhadap obat ARV hanya bisa dipastikan melalui tes resisten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya tes resistansi belum tersedia di Indonesia. Tes resisten hanya ada di negara maju. Harganya pun masih sangat mahal. Tentunya ini menjadi bahan pertanyaan bagi teman-teman Odha, apakah pihak layanan kesehatan tidak menganggap bahwa resistensi pada terapi ARV bukan satu masalah yang harus disikapi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di salah satu media nasional yang terbit pada 19 Desember 2006, Samsuridjal Djauzi dari Kelompok Diskusi Khusus AIDS FKUI/RSCM, menyatakan pencapaian CST (care, support and treatment) di Indonesia menggembirakan. Saat ini ada 260 tempat layanan tes HIV sukarela (voluntary counselling and testing/VCT), obat ARV juga mendapat subsidi penuh, bahkan ARV lini kedua untuk Odha yang mengalami resistensi obat sudah tersedia. Obat anti jamur yang cukup mahal juga tersedia gratis. Jumlah pengguna ARV tercatat 8.000 orang di seluruh Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sudahkah pemerintah atau pihak terkait penanggulangan AIDS di negeri ini sudah mengantisipasi persoalan resistensi tesebut. Misalnya bagaimana menentukan terapi gagal? Dengan tidak tersedianya tes resistensi di Indonesia, adakah cara lain untuk mengetahui secara pasti bahwa Odha tersebut resisten terhadap terapi yang sedang dijalankannya? Bagaimanakah cara untuk mendapatkan obat ARV lini kedua? Sebab, katanya, obat ARV lini kedua sudah tersedia di Indonesia. Bagaimana dengan tindak lanjut pada teman Odha yang sampai saat ini belum mendapatkan kepastian apakah terapi ARV yang dijalankannya gagal? Kalau pun teman Odha ini harus mengganti obat yang dinilai gagal, bagaimana cara mengaksesnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus yang terjadi pada Odha yang kemungkinan mengalami resistensi itu hanya satu dari banyak kasus. Di luar sana mungkin banyak teman Odha yang resisten terhadap obat ARV lini pertama. Artinya tes resistensi di Indonesia sudah diperlukan sebab sudah ada 8000 orang menggunakan ARV. Apakah 8000 orang yang mengakses ARV tersebut sudah mendapat jaminan bahwa mereka tidak mengalami resisten?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa mengurangi rasa hormat dan rasa terimakasih pada pemerintah maupun pihak lainnya yang sudah mendukung dan menyediakan obat ARV, sepertinya kita harus memikirkan lebih serius, sudah saatnya di Indonesia diperlukan adanya peralatan tes resistensi untuk mendukung program 3 by 5 yang sudah dicanagkan pemerintah. Semoga ini bisa menjadi bahan refleksi bahwa semakin banyak Odha yang mengakses ARV, kemungkinan yang resisten juga sangat makin banyak. Bagaimana tindakan pihak penyedia layanan? Apakah kita menunggu semakin banyak teman Odha yang mengalami resisten baru kita bertindak? [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-6028747392850029359?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/6028747392850029359/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=6028747392850029359&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/6028747392850029359'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/6028747392850029359'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2007/01/perlunya-tes-resistensi-bagi-odha.html' title='Perlunya Tes Resistensi bagi ODHA'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-7773351515490422965</id><published>2007-01-30T17:58:00.000+08:00</published><updated>2007-01-31T18:12:07.052+08:00</updated><title type='text'>Mengubah Persepsi untuk Membendung HIV</title><content type='html'>Mengubah Persepsi untuk Membendung HIV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Anton Muhajir, anggota Komunitas Jurnalis Peduli AIDS Bali]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi sebagian besar orang, terutama yang melihat dari kaca mata moral, kegiatan Wayan Sarijo mungkin dipandang negatif. Sehari-hari, bapak empat anak ini mengelola kamar di rumahnya sebagai tempat prostitusi. Wayan Sarijo salah satu dari sekitar sebelas germo di Desa Pengulon, Kecamatan Gerokgak, Buleleng. Empat kamar di rumahnya tak jauh dari Pelabuhan Celukan Bawang jadi tempat transaksi hubungan seks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi marilah kita melihat dari persepktif lain. “Saya melakukan itu justru agar laki-laki yang baru selesai berlayar tidak masuk ke desa untuk mencari cewek,” kata Sarijo akhir Desember lalu. Apa yang dilakukan Sarijo ternyata malah untuk melindungi desanya agar tidak dijadikan pelayar untuk memuaskan berahi. Dulu, sebelum Sarijo dan germo lain menyediakan kamar untuk tempat transaksi seks, pelayar sering datang ke desa. Kini, tak ada lagi pelayar masuk ke desa untuk mencari cewek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi lain, penyediaan tempat transaksi seks itu juga memudahkan penanggulangan HIV dan AIDS. Hubungan seksual berganti pasangan tanpa menggunakan kondom adalah salah satu penyebab penularan human immunodeficiacny virus (HIV), virus penyebab acquired immune deficiancy syndrome (AIDS) atau sindrom menurunnya sistem kekebalan tubuh. Hingga Oktober 2006 lalu dari 1220 jumlah kasus HIV dan AIDS di Bali 38 persen terjadi akibat hubungan seks. Kasus terbesar masih dari pengguna narkoba suntik (44,5 persen).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan jarum suntik tidak steril secara bergantian adalah cara penularan HIV yang lain. Selain itu penularan HIV bisa terjadi dari ibu pada anaknya saat melahirkan atau ketika menyusui. Namun, di Bali, maupun Indonesia umumnya, penularan terbesar masih terjadi dari penggunaan jarum suntik tidak steril dan hubungan seksual tanpa kondom itu tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, germo berperan dalam pencegahan penularan HIV. Sebagai pengelola tempat transaksi seks, mereka bisa melakukan intervensi langsung pada pekerja seks komersial (PSK) yang mereka bina. Sarijo dan germo lain pun melakukan pencegahan ini. “Kami selalu menyarankan agar PSK menggunakan kondom ketika melakukan hubungan seks,” kata Sarijo. Tujuannya untuk menghindari penularan infeksi seksual menular (IMS), termasuk HIV itu tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran itu muncul setelah Sarijo dan germo lain di Pengulon mendapat penjangkauan dari Yayasan Citra Usadha Indonesia (YCUI), lembaga penanggulangan AIDS di Bali yang memang menyasar desa-desa sebagai lokasi penjangkauan. Pelan-pelan germo di Pengulon pun mulai tahu tentang IMS serta HIV dan AIDS. Tidak hanya menyarankan pada PSK agar menggunakan kondom, secara rutin pun mereka memeriksa kesehatan PSK tiap bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tes kesehatan itu dilakukan di Klinik IMS Keliling milik Puskesmas II Gerokgak. Menurut I Gusti Ngurah Anom Supradnya, dokter di Puskesmas II Gerokgak, IMS yang banyak terjadi adalah GO. “Sampai saat ini belum ditemukan kasus HIV di Pengulon,” kata dokter kelahiran 24 Mei 1973 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Bali Kesuma Kelakan mendukung usaha yang dilakukan Sarijo dan germo lain di Pengulon dalam penanggulangan AIDS tersebut. “Ini tidak berarti mendukung prostitusi. Mari kita lihat masalah ini dari sudut pandang kesehatan. Bahwa apa yang mereka lakukan adalah untuk mencegah dampak lebih buruk yaitu makin menularnya HIV pada orang lain,” kata Alit ketika berkunjung ke Pengulon bersama pejabat terkait dari Pemerintah Provinsi Bali dan Kabupaten Buleleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemprov Bali sendiri telah mengesahkan Komitmen Sanur pada 7 Mei 2004 lalu yang salah satu isi komitmen tersebut adalah meningkatkan penggunaan kondom pada setiap aktifitas seksual berisiko dengan target 60 persen pada akhir tahun 2005 dan menjadi 80 persen pada akhir tahun 2007. Perda No 3 tahun 2006 tentang penangulangan AIDS pun mengakui perlunya penggunaan kondom untuk mencegah penularan HIV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ya sayangnya masih banyak orang melihat masalah HIV dan AIDS itu dari kaca mata kuda. Membicarakan kondom sebagai alat pencegahan, misalnya, masih dianggap sebagai sesuatu yang tabu. Karena itu sudah saatnya kita mengubah sudut pandang. Mari melihat masalah ini dari sudut pandang kesehatan. Kalau kita bisa mencegahnya, kenapa tidak dilakukan? [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-7773351515490422965?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/7773351515490422965/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=7773351515490422965&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/7773351515490422965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/7773351515490422965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2007/01/mengubah-persepsi-untuk-membendung-hiv.html' title='Mengubah Persepsi untuk Membendung HIV'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-2631539756045948769</id><published>2007-01-23T17:53:00.000+08:00</published><updated>2007-01-31T18:07:04.995+08:00</updated><title type='text'>Meningkatkan Pengetahuan Lewat Study Club</title><content type='html'>&lt;span&gt;&lt;/span&gt;Meningkatkan Pengetahuan Lewat Study Club&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Asep Hidayat, anggota Kelompok Dukungan Sebaya Addict+]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memahami dan meningkatkan pengetahuan HIV dan AIDS serta isu-isu kesehatan lainnya, beberapa orang dengan HIV dan AIDS (Odha) saat ini rutin mengikuti kegiatan peningkatan kapasitas diri melalui kegiatan Study Club. Kegiatan di lembaga dukungan bagi Odha Yayasan Bali + ini diadakah setiap Rabu sore. Tujuannya untuk meningkatkan pengetahuan Odha tentang masalah kesehatan, sekaligus menerapkan ilmu yang mereka dapat dalam menjalani hidup dengan human immunodeiciancy virus (HIV), virus penyebab sindrom menurunnya sistem kekebalan tubuh, acquired immuno deficiancy syndrome (AIDS).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat banyaknya masalah kesehatan bagi Odha, misalnya ketika mengalami efek samping saat menjalankan terapi anti-retroviral (ARV), maka, kegiatan seperti ini sangat penting untuk dilaksanakan oleh orang yang mempunyai masalah dengan kesehatannya khususnya Odha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa peserta aktif dalam pertemuan ini mengaku setelah beberapa kali mengikuti Study Club mereka lebih paham mengenai kondisi kesehatannya sendiri. Banyak juga peserta berpendapat bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat untuk menghadapi berbagai gangguan kesehatan akibat dari HIV dan efek samping obat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan ini sebetulnya bisa diikuti oleh siapa saja yang memang butuh informasi tentang HIV dan AIDS serta isu-isu kesehatan lainnya. Sayangnya peserta Study Club termasuk sedikit. Odha yang datang tak sampai sepuluh orang. Padahal harapannya semua orang yang terkena dampak langsung HIV maupun Odha bisa hadir dalam kegiatan ini. Namun terlepas dari semua, kembali lagi kepada masing-masing orang. Sebab tiap orang pasti mempunyai kebutuhan masing-masing. Mungkin mereka yang tidak datang punya alasan tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan selama satu hingga dua jam ini banyak membahas teknis penerapan kesehatan bagi Odha. Misalnya, menghadapi efek samping, mengenal gejala-gejala awal infeksi oportunistik (kumpulan gejala penyakit yang diakibatkan menurunnya sistem kekebalan tubuh yang disebabkan HIV), kebutuhan asupan gizi, kesehatan reproduksi, dan tempat tempat layanan rujukan kesehatan bagi Odha. Sehingga semua peserta lebih mengetahui tindakan apa yang harus mereka lakukan jika mengalami gangguan kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chika (23 tahun), pasangan Odha, mengaku bisa memberikan dukungan pada suaminya setelah aktif mengikuti kegiatan Study Club. Apa lagi saat ini suaminya tengah mengikuti terapi ARV. “Setelah saya mengerti apa itu HIV, bagaimana cara penularannya, dan segala macamnya, saya tidak lagi takut atau merasa was-was terhadap orang yang hidup dengan HIV,” kata perempuan yang sudah tiga tahun mendampingi suaminya ini. Namun tantangannya saat ini adalah berusaha mempertahankan status HIV-nya agar tetap negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dirinya menyadari bahwa mempunyai risiko tertular HIV dari suaminya, Chika berupaya menerapkan metode pencegahan penuralaran HIV melalui hubungan seksual dengan selalu menggunakan kondom. Pengetahuan tentang pencegahan penularan HIV ini, juga ia peroleh melalui Study Club. Alhasil meski sudah tiga tahun hidup dengan pengidap HIV, virus tersebut tidak serta merta masuk ke tubuhnya. “Saya sudah tiga kali melakukan test darah, tapi untungnya hasil test darah tersebut negatif,” kata anggota Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Tunjung Putih ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun pertemuan Study Club dilaksanakan satu kali seminggu, namun hasilnya sangat memuaskan. Sebab, pada tiap kesempatan, penyelenggara selalu menghadirkan nara sumber yang berkompeten sesuai dengan materi yang akan disampaikan. Pertemuan ini bersifat lepas dan tidak berbentuk kelompok. Sebab, sejauh ini peserta yang hadir hanya orang itu-itu. Bahkan sebagian besar mereka juga telah bergabung di KDS masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menambah pengetahuan tentang HIV dan AIDS, menjadi menu sehari-hari Odha. Sebab ilmu pengetahuan tentang HIV dan AIDS selalu mengalami perekembangan sangat pesat. Maka, khususnya bagi pengidap HIV, disarankan selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan HIV dan AIDS. Salah satunya dengan mengikuti kegiatan-kegiatan atau pertemuan guna meningkatkan pengetahuan tentang HIV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuntungan yang bisa kami dapatkan dalam mengikuti setiap kegiatan atau pertemuan guna meningkatkan pengetahuan HIV/AIDS antara lain menambah wawasan, banyak memiliki teman, mendapat dukungan dari sebaya, dan yang terpenting adalah tidak ketinggalan informasi. Sebab kegiatan seperti Study Club ini juga kerap membahas beberapa informasi terhangat baik mengenai HIV/AIDS maupun isu kesehatan lainnya yang berhubungan dengan HIV. Manfaat lain mengikkuti Study Club adalah kami bisa lebih mengerti dunia kesehatan dibandingkan dengan siswa atau mahasiswa sekalipun. Sebab, selain karena rajin mencari informasi, kami juga merasakan dan mengalami langsung beberapa gangguan keseahatan tersebut. Karena itu, Odha sebaiknya ikut aktif dalam Study Club. [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-2631539756045948769?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/2631539756045948769/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=2631539756045948769&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/2631539756045948769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/2631539756045948769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2007/01/meningkatkan-pengetahuan-lewat-study.html' title='Meningkatkan Pengetahuan Lewat Study Club'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-7389938554029060531</id><published>2007-01-21T17:53:00.000+08:00</published><updated>2007-01-31T17:55:55.466+08:00</updated><title type='text'>Diperlukan Pendidikan Seks yang Benar untuk Remaja</title><content type='html'>Diperlukan Pendidikan Seks yang Benar untuk Remaja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[IGN Pramesemara, Mahasiswa FK Unud, Relawan KISARA PKBI Bali]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari sepertiga masalah pacaran ke telepon KISARA PKBI Bali hingga Desember 2006 berkaitan dengan aktivitas seksual remaja. Terdapat kecenderungan remaja baru berkonsultasi setelah melakukan aktivitas seksual aktif. Remaja berhubungan seksual pranikah karena coba-coba dan tanpa direncanakan, terbawa suasana, dan adanya dorongan seksual akibat pengaruh media pornografi. Dalam konseling tatap muka juga ada remaja kelas 2 SMP yang melakukan kebiasaan masturbasi berlebihan. Awalnya kebiasaan ini pun karena coba-coba akibat ajakan dan pengaruh teman-teman sebayanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh itu hanyalah sengelintir dari permasalan remaja berkaitan dengan aktivitas seksual. Belum lagi kasus-kasus kekerasan seksual (trauma), hubungan seksual pra nikah (HSPN), kehamilan tidak diinginkan (KTD) pada remaja, aborsi remaja, pernikahan dini (usia muda), penyalahgunaan narkoba hingga kriminalitas para remaja, yang nampaknya masih belum banyak diangkat dan dibahas secara mendalam. Masalah itu ibarat fenomena gunung es, yang terlihat hanya puncaknya, padahal di dasarnya banyak kasus belum terdeteksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus di atas terjadi akibat pengetahuan seks remaja saat ini sering tidak tepat guna. Tidak jarang, pengetahuan seks yang diperoleh hanyalah sebatas informasi belaka, bukan berupa pendidikan. Itu terjadi karena remaja  tidak mendapatkan pendidikan seks di dalam sekolah atau lembaga formal lainnya. Akibatnya, keingintahuan yang sangat berlebihan mengenai seks didapatkan dari berbagai media yang salah. Berdasarkan survey sederhana Kisara tahun 2004, hampir 60 persen remaja SMP-SMA sudah melihat media-media porno, baik itu dari situs internet, VCD, atau buku-buku porno lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, orang tua selaku mitra bina utama para remaja yang notabene anak remaja sendiri hendaknya memberikan pendidikan seks kepada anak-anaknya sejak dini. Orang tua harus menjawab dengan jujur dan tepat ketika anaknya bertanya soal seks. Jawaban-jawaban yang diberikan hendaknya mudah dimengerti dan sesuai dengan usia anak, hingga tidak terjadi salah penafsiran. Karena itulah, orang tua dituntut membekali diri dengan pengetahuan cukup tentang seks dan psikologi remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa ingin tahu para remaja seringkali kurang disertai pertimbangan rasional akan efek lanjut perbuatannya. Hal ini terjadi akibat kurangnya kontrol orang tua dan minimnya pendidikan seks dari sekolah atau lembaga formal lainnya. Sementara itu, berbagai informasi seks dari media massa yang tidak sesuai dengan norma-norma yang dianut dijadikan pedoman oleh remaja. Maka tidaklah mengherankan kalau akhirnya menyebabkan keputusan-keputusan yang diambil remaja mengenai masalah cinta dan seks begitu kompleks. Akibatnya, timbulah gesekan-gesekan dengan orang tua maupun juga terhadap lingkungan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenikmatan cinta dan seks di berbagai media mengakibatkan fantasi-fantasi seks berkembang cepat tidak terarah. Di sinilah titik rawan dan gejolaknya pun muncul. Dorongan seks remaja sudah dimulai sejak memasuki pubertas. Sementara saat itu, remaja masih bersekolah dan kemudian melanjutkan ke dunia kuliah sehingga belum memungkinkan siap diri dan matang secara mental untuk menikah. Akibatnya remaja menyalurkan dorongan seksual yang tinggi dengan melakukan masturbasi atau onani maupun HSPN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehamilan remaja, pengguguran kandungan (aborsi), terputusnya sekolah, perkawinan di usia muda, perceraian muda, kriminalitas remaja, infeksi kelamin (IMS), penyalahgunaan narkoba  serta HIV dan AIDS pada remaja terjadi akibat kurangnya pemahaman terhadap cinta dan seks saat remaja. Untuk itu, pendidikan seks bagi remaja SMP dan SMA sebaiknya diberikan agar remaja sadar bagaimana menjaga organ reproduksinya tetap sehat. Bagi siswa SMP dan SMA ditekankan pada abstinence atau puasa seks. Jangan melakukan hubungan seks jika belum siap bertanggungjawab!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mustahil melarang remaja saling berinteraksi dengan lawan jenisnya. Proses interaksi yang lebih lanjut biasanya diwujudkan dengan berpacaran. Secara medis psikiatri merupakan hal yang wajar dan baik bagi perkembangan aspek kematangan emosional remaja itu sendiri. Namun, haruslah tetap ada rambu-rambu yang dipasang agar tidak terjadi berpacaran yang berlebihan, apalagi sampai melakukan hubungan seksual. Akibatnya, terjadi kehamilan yang tidak diinginkan sehingga memutuskan mengambil jalan pintas dengan melakukan aborsi.&lt;br /&gt;Berdasarkan data Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), kasus aborsi di Indonesia sebanyak 2,3 juta pertahun. Sekitar 15-30 persen di antaranya adalah remaja. Itulah yang menjadi salah satu faktor penunjang yang mengakibatkan tingginya angka kematian ibu (AKI) di Indonesia. Aborsi biasanya dilakukan oleh remaja wanita hamil, baik yang sudah atau belum menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa alasan dilakukan pengguguran kandungan adalah tidak ingin memiliki anak sebab khawatir mengganggu sekolah, karier dan belum bisa bertanggungjawab. Selain itu, karena tidak memiliki cukup uang untuk merawat anak dan sebagian lainnya karena tidak memiliki ayah (remaja pria tidak mengakui perbuatannya). Bahkan, alasan lain yang sering dilontarkan karena remaja masih terlalu muda atau akan menjadi aib keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan seks yang benar dan disesuaikan kondisi masyarakat kita dapat mengurangi konflik dan mitos-mitos salah yang selama ini berkembang di masyarakat. Tentunya, setelah mengetahui kesehatan reproduksi dan risiko-risiko serta konsekuensi yang harus ditanggung jika melakukan hubungan seks di luar nikah, yang akan membuat remaja kita lebih berhati-hati dan menjaga dirinya, termasuk ketika memutuskan untuk berpacaran. Dengan adanya pendidikan seks, maka diharapkan mampu meningkatkan kemampuan intelektualisasi remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, jadilah remaja bertanggung jawab. Untuk itu diperlukan kerjasama sinergis semua pihak dari orang tua, remaja, masyarakat (lingkungan) dan pemerinta untuk bersama-sama peduli terhadap remaja. [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-7389938554029060531?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/7389938554029060531/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=7389938554029060531&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/7389938554029060531'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/7389938554029060531'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2007/01/diperlukan-pendidikan-seks-yang-benar.html' title='Diperlukan Pendidikan Seks yang Benar untuk Remaja'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-8671823448658410005</id><published>2007-01-16T17:51:00.000+08:00</published><updated>2007-01-31T17:52:10.407+08:00</updated><title type='text'>Imbangi Terapi dengan Perilaku Sehat</title><content type='html'>Imbangi Terapi dengan Perilaku Sehat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Alvien Cartner, staf Yayasan Bali+]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang dengan HIV/AIDS (Odha), seperti yang sudah kita ketahui, adalah orang yang sangat rentan terkena berbagai penyakit infeksi oportunistik (IO) atau kumpulan gejala penyakit. IO yang sering menyerang itu misalnya candidiasis yaitu jamur pada mulut dan tenggorokan lalu diikuti tuberkulosis yang menyerang paru. IO terjadi karena sistem kekebalan tubuh semakin menurun akibat rusaknya sel darah putih yang sudah diserang human immunodeficiancy virus (HIV), virus penyebab menurunnya sistem kekebalan tubuh atau acquired immune deficiancy syndrome (AIDS).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Odha bukan berarti harus berdiam diri dan menyesali diri apalagi membiarkan persoalan ini berlarut-larut dan tidak ditindak lanjuti. Hal yang lebih penting adalah mencari jalan keluar dan informasi tepat agar HIV tidak terus menerus menggerogoti sistem kekebalan tubuh Odha. HIV sendiri termasuk jenis smart virus artinya virus yang sangat cerdas karena bisa mereplikasi. HIV bisa memperbanyak diri pada sel darah putih pada manusia. Dalam dunia medis sel darah putih ini disebut CD4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bagian dari penanggulangan HIV/AIDS sendiri, pemerintah sudah memberikan bantuan seperti subsidi obat anti-retroviral (ARV) untuk menekan jumlah virus di dalam tubuh Odha. Berbagai pihak baik dokter, perawat, maupun konselor sudah memberikan perhatian khusus pada mereka yang dinyatakan terinfeksi HIV dan sudah mengalami gejala oportunistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai obat terapi, ARV seharusnya diminum secara disiplin oleh Odha. Namun dalam berbagai kasus, kurangnya kesadaran dari Odha untuk patuh minum ARV justru jadi bumerang. Biasanya Odha tidak disiplin minum ARV dengan alasan efek samping yang sangat mengganggu pola hidup Odha. Efek samping ini biasa dialami Odha yang baru mulai terapi ARV yaitu merasakan mual, kepala pening, dan sebagainya. Efek samping penggunaan obat ARV ini sebenranya bersifat sementara. Gejala-gejala seperti itu tadi menandakan tubuh berinteraksi, merespon dan mulai menyesuaikan diri dengan ARV. Biasanya gejala tersebut akan berangsur-angsur hilang dalam kurun paling lama dua bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu ada baiknya jika Odha yang baru mulai terapi mulai ARV juga mengimbangi dengan kegiatan sehari-hari. Misalnya melakukan aktivitas olah raga dan pola hidup sehat seperti tidur teratur dan mendengarkan musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidur yang baik normalnya tujuh sampai delapan jam semalam. Dengan tidur yang cukup seorang Odha sudah melakukan pembuangan sampah penyebab kelelahan. Karena sebagian kegiatan ada pada otot, sedangkan otot terdiri dari dioksida dan asam laktat yang menumpuk dalam darah yang juga sarat mempunyai efek toksik penyebab rasa lelah dan rasa kantuk. Selama tidur sampah ini akan dibuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengarkan musik juga bisa jadi bagian hidup sehat. Karena dengan mendengarkan musik dapat berpengaruh dengan hidup. Musik juga juga bisa menjadi alat terapi karena musik merupakan salah satu bentuk rangsang suara yang merupakan stimulus khas untuk indera pendengaran. Akibatnya jika mendengarkan musik cenderung kita mengetukan tangan pada meja atau menghentakan kaki pada lantai dan itu berarti memberikan kesan harmoni pada diri kita. Jadi musik akan memberikan sensasi menyenangkan. Hal ini bisa mengurangi stress.&lt;br /&gt; Untuk itu sebaiknya Odha yang sudah terapi ARV agar selalu mengimbangi dengan pola hidup sehat dan menjaga perilaku. Sehat itu mahal tetapi menjaga kesehatan itu sangat murah. [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-8671823448658410005?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/8671823448658410005/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=8671823448658410005&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/8671823448658410005'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/8671823448658410005'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2007/01/imbangi-terapi-dengan-perilaku-sehat.html' title='Imbangi Terapi dengan Perilaku Sehat'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-7915576400917372272</id><published>2007-01-14T15:48:00.001+08:00</published><updated>2007-01-31T17:50:15.143+08:00</updated><title type='text'>ODHA juga Harus Melaksanakan Kewajiban</title><content type='html'>ODHA juga Harus Melaksanakan Kewajiban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Kartini, anggota Kelompok Dukungan Sebaya Tunjung Putih]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini banyak orang meneriakkan tentang perlunya operlindungan hak asasi manusia (HAM) bagi orang dengan HIV/AIDS (Odha). Teriakan yel-yel, tentang HAM bergema di seluruh pelosok negeri, bahkan di seluruh permukaan bumi. Meski demikian, tak sedikit masyarakat kita yang awam tentang pengertian HAM itu sendiri. Bahkan sebagian masyarakat juga ada yang tidak tahu sama sekali apa sebenarnya “hak asasi”. Inilah yang patut kita renungkan, kita kaji lebih jauh, dan kita adakan perbaikan cara penyampaian informasi tentang pengertian HAM. Agar ke depannya tidak ada lagi yang salah persepsi tentang HAM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang jadi otokritik adalah kendati pun kita semua mempunyai hak, tapi jangan kita terus lupa diri, bahwa sebelum mendapatkan hak, kita juga harus melaksanakan kewajiban. Hal itu perlu digarisbawahi agar semua berjalan seimbang. Jangan mentang-mentang ODHA, lalu mau seenak gue. Pastikan dan yakinkan pada masyarakat dan pemerintah bahwa ODHA dan injecting drug user (IDU) atau pengguna narkoba suntik mampu mandiri dan tidak selalu bergantung pada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dari dulu ODHA dan IDU menuntut Stop Diskriminasi dan Stigma, bagaimana jadinya jika stigma dan diskriminasi itu justru datangnya dari sikap dan perilaku ODHA dan IDU sendiri? Di sinilah justru letak egoisme kita. Ironisnya justru ODHA dan IDU itu biasanya cenderung ingin disayang, ingin dimengerti, ingin dipahami, dan selalu ingin didengar pendapatnya. Padahal jika sadar, justru mereka tidak pernah menyayangi dirinya sendiri.  Tidak sedikit ODHA yang justru dengan cueknya masih menggunakan narkoba padahal mereka tahu itu sesuatu yang merugikan kesehatan. Bahkan, tak terhitung jumlah ODHA yang masih asik merokok padahal mereka pasti tahu rokok bisa memicu infeksi oprtunistik. Inilah renungan yang perlu diperhatikan. Bagaimana orang lain mau peduli pada masalah Anda jika Anda sendiri tidak peduli pada masalah Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakpedulian pada kesehatan diri sendiri ini pun terjadi di skala lebih besar. Contoh nyata baru-baru ini terjadi dan sempat membikin heboh pihak rumah sakit dan beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM) penanggulangan AIDS di Bali. Gara-garanya ada ODHA yang lari ketika dirawat di rumah sakit. Padahal LSM pendampingan sudah susah payah dan melakukan semua usaha agar klien mendapat pelayanan medis mengingat kondisi klien memang harus mendapat perawatan secara intensif. Karena klien tidak mampu menanggung biaya rumah sakit, maka dirujuk ke LSM dan dilanjutkan ke rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut peraturan, pasien telantar menjadi tanggung jawab Dinas Kesejahteraan Sosial (Dinsos). Mengingat ODHA dan IDU juga punya hak untuk mendapat layanan kesehatan tanpa harus membedakan status apapun itu namanya. Kendati pun begitu, proses untuk jadi pasien telantar tidaklah mudah karena ada syarat-syarat yang harus dipenuhi klien. Salah satunya harus siap dipulangkan ke daerah asal setelah sembuh dari sakitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang sangat disayangkan, justru si klien yang sudah dibantu semaksimal mungkin oleh rumah sakit dan LSM justru lari ketika dirawat. Padahal sakitnya sudah parah dan harus terapi OAT (obat anti TBC).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru yang rugi total adalah pasien itu sendiri, karena sudah tidak dapat perawatan yang maksimal. Selain itu walau pun sampai saat ini yang bersangkutan masih diperbolehkan kontrol, tapi dia harus nebus resep sendiri karena masuk kategori pasien umum. Padahal semula dia mendapat perawatan gratis. Nah kalau sudah begitu siapa yang rugi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran yang bisa kita ambil adalah jangan pernah menuntut mendapatkan layanan kesehatan lagi, jika tidak mau melaksanakan kewajiban untuk perduli sama kesehatan diri sendiri. Karena bukan cuma satu ODHA yang perlu bantuan dan pertolongan. Ada ratusan bahkan mungkin ribuan ODHA yang perlu perawatan dan dukungan juga. Jika rumah sakit dan pihak lain sudah tidak menggubris program ini lagi, dan tidak mau bekerjasama dengan LSM-LSM yang ada, bagaimana jadinya nasib teman-teman ODHA yang perlu perawatan medis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poin yang ingin saya sampaikan bagi semua ODHA dan IDU adalah sadarlah walaupun sama-sama punya hak, boleh menuntut hak, tapi jangan lupa utamakan kewajiban. Bagi para relawan juga dermawan, jangan bosan-bosan membantu ODHA dan IDU. Karena tidak semua ODHA dan IDU mempunyai pikiran yang negatif, melainkan tak sedikit ODHA dan IDU berpikiran positif dan ingin maju. Bantuan yang kami maksud di sini bukan saja sekedar materi, tapi mereka juga perlu dukungan emosional dan yang utama adalah bimbingan. Agar ke depannya nanti mereka tidak cuma bisa menadahkan tangan, melainkan bisa sebaliknya. Mereka bisa jadi usahawan dan donatur yang kuat. Dan yang perlu di ingat apapun status mereka,yang pasti mereka adalah tetap manusia yang punya hak untuk hidup layak seperti manusia lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berharap tidak ada pihak yang tersinggung dengan adanya tulisan ini. Karena ini bukan suatu kritik, melainkan suatu masukan atau pembelajaran bagi kita semua untuk memahami arti sebuah hak dan kewajiban. [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-7915576400917372272?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/7915576400917372272/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=7915576400917372272&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/7915576400917372272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/7915576400917372272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2007/01/odha-juga-harus-melaksanakan-kewajiban_14.html' title='ODHA juga Harus Melaksanakan Kewajiban'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-3915536188775918027</id><published>2007-01-14T15:48:00.000+08:00</published><updated>2007-01-31T17:50:07.911+08:00</updated><title type='text'>ODHA juga Harus Melaksanakan Kewajiban</title><content type='html'>ODHA juga Harus Melaksanakan Kewajiban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Kartini, anggota Kelompok Dukungan Sebaya Tunjung Putih]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini banyak orang meneriakkan tentang perlunya operlindungan hak asasi manusia (HAM) bagi orang dengan HIV/AIDS (Odha). Teriakan yel-yel, tentang HAM bergema di seluruh pelosok negeri, bahkan di seluruh permukaan bumi. Meski demikian, tak sedikit masyarakat kita yang awam tentang pengertian HAM itu sendiri. Bahkan sebagian masyarakat juga ada yang tidak tahu sama sekali apa sebenarnya “hak asasi”. Inilah yang patut kita renungkan, kita kaji lebih jauh, dan kita adakan perbaikan cara penyampaian informasi tentang pengertian HAM. Agar ke depannya tidak ada lagi yang salah persepsi tentang HAM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang jadi otokritik adalah kendati pun kita semua mempunyai hak, tapi jangan kita terus lupa diri, bahwa sebelum mendapatkan hak, kita juga harus melaksanakan kewajiban. Hal itu perlu digarisbawahi agar semua berjalan seimbang. Jangan mentang-mentang ODHA, lalu mau seenak gue. Pastikan dan yakinkan pada masyarakat dan pemerintah bahwa ODHA dan injecting drug user (IDU) atau pengguna narkoba suntik mampu mandiri dan tidak selalu bergantung pada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dari dulu ODHA dan IDU menuntut Stop Diskriminasi dan Stigma, bagaimana jadinya jika stigma dan diskriminasi itu justru datangnya dari sikap dan perilaku ODHA dan IDU sendiri? Di sinilah justru letak egoisme kita. Ironisnya justru ODHA dan IDU itu biasanya cenderung ingin disayang, ingin dimengerti, ingin dipahami, dan selalu ingin didengar pendapatnya. Padahal jika sadar, justru mereka tidak pernah menyayangi dirinya sendiri.  Tidak sedikit ODHA yang justru dengan cueknya masih menggunakan narkoba padahal mereka tahu itu sesuatu yang merugikan kesehatan. Bahkan, tak terhitung jumlah ODHA yang masih asik merokok padahal mereka pasti tahu rokok bisa memicu infeksi oprtunistik. Inilah renungan yang perlu diperhatikan. Bagaimana orang lain mau peduli pada masalah Anda jika Anda sendiri tidak peduli pada masalah Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakpedulian pada kesehatan diri sendiri ini pun terjadi di skala lebih besar. Contoh nyata baru-baru ini terjadi dan sempat membikin heboh pihak rumah sakit dan beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM) penanggulangan AIDS di Bali. Gara-garanya ada ODHA yang lari ketika dirawat di rumah sakit. Padahal LSM pendampingan sudah susah payah dan melakukan semua usaha agar klien mendapat pelayanan medis mengingat kondisi klien memang harus mendapat perawatan secara intensif. Karena klien tidak mampu menanggung biaya rumah sakit, maka dirujuk ke LSM dan dilanjutkan ke rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut peraturan, pasien telantar menjadi tanggung jawab Dinas Kesejahteraan Sosial (Dinsos). Mengingat ODHA dan IDU juga punya hak untuk mendapat layanan kesehatan tanpa harus membedakan status apapun itu namanya. Kendati pun begitu, proses untuk jadi pasien telantar tidaklah mudah karena ada syarat-syarat yang harus dipenuhi klien. Salah satunya harus siap dipulangkan ke daerah asal setelah sembuh dari sakitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang sangat disayangkan, justru si klien yang sudah dibantu semaksimal mungkin oleh rumah sakit dan LSM justru lari ketika dirawat. Padahal sakitnya sudah parah dan harus terapi OAT (obat anti TBC).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru yang rugi total adalah pasien itu sendiri, karena sudah tidak dapat perawatan yang maksimal. Selain itu walau pun sampai saat ini yang bersangkutan masih diperbolehkan kontrol, tapi dia harus nebus resep sendiri karena masuk kategori pasien umum. Padahal semula dia mendapat perawatan gratis. Nah kalau sudah begitu siapa yang rugi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran yang bisa kita ambil adalah jangan pernah menuntut mendapatkan layanan kesehatan lagi, jika tidak mau melaksanakan kewajiban untuk perduli sama kesehatan diri sendiri. Karena bukan cuma satu ODHA yang perlu bantuan dan pertolongan. Ada ratusan bahkan mungkin ribuan ODHA yang perlu perawatan dan dukungan juga. Jika rumah sakit dan pihak lain sudah tidak menggubris program ini lagi, dan tidak mau bekerjasama dengan LSM-LSM yang ada, bagaimana jadinya nasib teman-teman ODHA yang perlu perawatan medis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poin yang ingin saya sampaikan bagi semua ODHA dan IDU adalah sadarlah walaupun sama-sama punya hak, boleh menuntut hak, tapi jangan lupa utamakan kewajiban. Bagi para relawan juga dermawan, jangan bosan-bosan membantu ODHA dan IDU. Karena tidak semua ODHA dan IDU mempunyai pikiran yang negatif, melainkan tak sedikit ODHA dan IDU berpikiran positif dan ingin maju. Bantuan yang kami maksud di sini bukan saja sekedar materi, tapi mereka juga perlu dukungan emosional dan yang utama adalah bimbingan. Agar ke depannya nanti mereka tidak cuma bisa menadahkan tangan, melainkan bisa sebaliknya. Mereka bisa jadi usahawan dan donatur yang kuat. Dan yang perlu di ingat apapun status mereka,yang pasti mereka adalah tetap manusia yang punya hak untuk hidup layak seperti manusia lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berharap tidak ada pihak yang tersinggung dengan adanya tulisan ini. Karena ini bukan suatu kritik, melainkan suatu masukan atau pembelajaran bagi kita semua untuk memahami arti sebuah hak dan kewajiban. [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-3915536188775918027?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/3915536188775918027/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=3915536188775918027&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/3915536188775918027'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/3915536188775918027'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2007/01/odha-juga-harus-melaksanakan-kewajiban.html' title='ODHA juga Harus Melaksanakan Kewajiban'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-3504639921391283370</id><published>2007-01-11T17:46:00.000+08:00</published><updated>2007-01-31T17:48:02.181+08:00</updated><title type='text'>Memperhatikan Kecukupan Asupan Gizi Odha</title><content type='html'>Memperhatikan Kecukupan Asupan Gizi Odha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Made Putri Ayu Rasmini, relawan Kisara dan Sobat]&lt;br /&gt;                                                                      &lt;br /&gt;Kebutuhan zat-zat gizi, baik kuantitas maupun kualitasnya, sangat penting bagi semua orang apalagi mereka yang sedang sakit. Kebutuhan ini apalagi pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Ketika tubuh ODHA memerangi infeksi oportunsitik atau infeksi HIV sekali pun, maka tubuh memakai lebih banyak tenaga. Akibatnya ODHA harus makan lebih banyak dibanding keadaan normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang yang terinfeksi mempunyai status gizi yang baik, maka daya tahan tubuhnya akan lebih baik sehingga memperlambat memasuki tahap AIDS. Status gizi ODHA sangat dipengaruhi kebutuhan dan asupan gizinya. ODHA yang tidak memenuhi kebutuhan dan asupan gizinya akibat infeksi HIV akan menyebabkan kekurangan gizi yang bersifat kronis. Pada stadium AIDS terjadi keadaan kurang gizi yang kronis dan drastis yang mengakibatkan penurunan resistensi terhadap infeksi lainnya. Untuk mengatasi hal tersebut penatalaksanaan gizi yang baik untuk ODHA amat berguna  untuk meningkatkan kualitas hidup seseorang dengan HIV/AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gizi kadang kala menjadi masalah bagi ODHA. Ada beberapa penyebab yang mengakibatkan ODHA kekurangan gizi. Pertama, apabila kita merasa sakit maka kita akan makan lebih sedikit dibanding dengan waktu keadaan normal, hal ini disebabkan pada waktu sakit kita kehilangan nafsu makan. Kedua, gangguan penyerapan sari makanan pada alat pencernaan. Bagi ODHA yang mengkonsumsi obat antiretroviral (ARV), makanan yang dikonsumsi mempengaruhi penyerapan ARV dan obat infeksi oportunistik. Namun sebaliknya, penggunaan ARV dan obat infeksi oportunistik dapat menyebabkan gangguan gizi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Hilangnya cairan tubuh akibat muntah dan diare. Beberapa ARV dapat mengganggu perut dan berbagai infeksi oportunistik dapat mempengaruhi mulut atau tenggorokan. Hal ini mengakibatkan sulit makan. Lagipula beberapa obat dan infeksi menyebabkan diare. Pada saat  diare tubuh sebenarnya memakai lebih sedikit dari apa yang kita makan. Selain itu gangguan metabolisme juga mengakibatkan kekurangan gizi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat adanya gangguan tersebut di atas, kesehatan umum ODHA cepat menurun. Mereka akan mengalami penurunan berat badan dan hal ini berkaitan erat dengan kurang gizi. Sekitar 97 persen ODHA menunjukkan kehilangan berat badan sebelum meninggal. Kehilangan berat badan tidak dapat dihindarkan dari konsekuensi dari infeksi HIV.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip gizi medis pada ODHA adalah Tinggi Kalori Tinggi Protein (TKTP). Pemberian diberikan secara bertahap secara oral (melalui mulut). Makanan yang dikonsumsi harus kaya vitamin, mineral, dan cukup air. Gizi yang baik berarti mendapat cukup bahan gizi makro dan mikro. Bahan gizi makro mengandung kalori (energi). Bahan gizi makro tersebut misalnya protein, karbohidrat, dan lemak. Semua zat ini membantu mempertahankan berat badan. Kebutuhan kalori ODHA sekitar 2.000-3.000Kkcal/hari dan protein 1,5 - 2gram/kg/BB/hari. Pada ibu hamil dengan HIV kalori dan protein ditambah sekitar 300-400 Kkcal/hari dan protein 15gram /hari. Bahan mikro meliputi vitamin (terutama sekali B12, B6, A, E) dan zat mineral (Zn, Se, dan Cu).Kedua zat ini menentukan sel tubuh tetap bekerja dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai bahan makanan yang banyak didapatkan di Indonesia yang dianjurkan dikonsumsi ODHA seperti tempe (protein dan vitamin B12), kelapa (sumber energi dan lemak), wortel (beta karoten yang tinggi, vitamin C dan E. Meningkatkan daya tahan tubuh juga sebagai bahan pembentuk CD4,  sel darah putih yang bertanggung jawab atas sistem imunitas tubuh dan melindungi tubuh terhadap infeksi), kembang kol (tinggi kandungan Zn, Fe, Mn, Se untuk mengatasi dan mencegah defisiensi zat gizi mikro dan untuk pembentukan CD4), sayuran hijau dan kacang-kacangan (vitamin neorotropik B1, B6, B12, dan zat gizi mikro yang berguna untuk pencegahan anemia dan pembentukan CD4) dan buah alpukat (mengandung lemak tinggi, sebagai antioksidan dan mengandung glutathionin untuk menghambat replikasi HIV)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minum banyak cairan (air) dapat membantu mengurangi efek samping beberapa obat. ODHA dianjurkan untuk mengkonsumsi paling sedikit delapan gelas cairan sehari untuk memperlancar metabolisme terutama pada penderita yang demam. Dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi teh, kopi, minuman cola, coklat, dan alkohol karena dapat menghilangkan cairan tubuh. Namun justru minuman-minuman jenis ini yang paling banyak dikonsumsi ODHA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski pemenuhan kebutuhan dan asupan gizi sangat dianjurkan pada ODHA, pemberian suplemen vitamin dan mineral dalam jumlah besar (megadosis) justru harus berkonsultasi ke dokter. Karena pemberian yang berlebihan justru akan menurunkan imunitas tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penambahan berat otot akan membantu memerangi HIV. Banyak orang ingin mengurangi berat badannya, tapi bagi ODHA, ini dapat berbahaya. Wasting atau penurunan berat badan lebih dari 5 persen berat badan bisa membunuh ODHA. Hal ini bisa jadi karena kehilangan lemak atau mengalami penyusutan otot. Olahraga ringan dapat membantu tubuh membentuk zat makanan menjadi otot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain faktor kuantitas gizi itu, kualitas makanan dan miuman juga perlu diperhatikan. Kualitas ini termasuk, misalnya, faktor kebersihan. Menjaga kebersihan  dan keamanan makanan dan minuman sangat penting untuk mengurangi kontaminasi bahan makanan dan minuman. Kontaminasi ini dapat menimbulkan risiko keracunan dan  melindungi dari infeksi yang bisa terbawa oleh makanan atau air minum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara menjaga kualitas makanan ini dilakukan dengan beberapa cara. Antara lain selalu memeriksa tanggal kedaluarsa makanan dan minuman untuk keamanan (buang apabila sudah kedaluarsa), mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan, menjaga kebersihan dapur (peralatan, permukaan dan ruang dapur), selalu mencuci makanan, dan hati-hati menyiapkan dan menyimpan makanan. Hindari mengkonsumsi bahan makanan dan air mentah atau dimasak setengah matang atau tidak dimasak dengan benar. Sebaiknya memanaskan makanan sebelum dimakan, hindari susu dan produk susu yang tidak dipasteurisasi. Hindari makanan yang sudah berjamur dan basi. Beberapa kuman disebarkan melalui air ledeng. Sebaiknya menggunakan air kemasan botol yang sudah mengalami proses sterilisasi dan mutu terjamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua kebutuhan baik kuantitas maupun kualitas gizi itu itu tetap harus didukung pola hidup sehat. Pola hidup sehat ini misalnya olahraga dan senantiasa menjaga keamanan dan kebersihan makanan dan minuman.  Dengan memperhatikan semua hal itu, ODHA akan lebih bisa menjaga kesehatan dan menghindari mudahnya terkena infeksi oportunsitik. [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-3504639921391283370?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/3504639921391283370/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=3504639921391283370&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/3504639921391283370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/3504639921391283370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2007/01/memperhatikan-kecukupan-asupan-gizi.html' title='Memperhatikan Kecukupan Asupan Gizi Odha'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-9053296755263075149</id><published>2007-01-09T16:44:00.000+08:00</published><updated>2007-01-31T17:45:41.055+08:00</updated><title type='text'>Merokok Mengurangi Kerja Obat Anti-Retroviral</title><content type='html'>Merokok Mengurangi Kerja Obat Anti-Retroviral&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Andy Mansrianto, Petugas Lapangan Yayasan Hatihati]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini ditemukan makin banyak orang meninggal mendadak karena infeksi oportunistik (IO), penyakit yang menyerang pada orang dengan HIV/AIDS (Odha). Hal ini terjadi akibat keterlambatan untuk melakukan voluntary counseling and testing (VCT) atau konsultasi dan tes suka rela. Keterlambatan VCT mengakibatkan keterlambatan Odha untuk mengakses layanan anti-retroviral (ARV), obat untuk menghambat replikasi HIV, virus penyebab AIDS, di dalam tubuh. Padahal program VCT sudah berjalan dan mudah bagi orang-orang yang berisiko tertular kalau ingin melakukan tes HIV secara gratis. Juga sudah mudah mengakses layanan yang sudah tersedia di Bali, seperti mendapatkan ARV, obat TB dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun terapi juga bukan segalanya. Banyak Odha meninggal karena IO akibat kurang menjaga kesehatan. Banyak Odha yang masih merokok, minum-minuman berakohol, atau masih aktif menggunakan narkoba. Padahal kalau masih rutin dengan hal-hal seperti ini, kerja obat ARV pun tidak optimal.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;Mengapa merokok berbahaya untuk Odha? Penelitian menunjukkan bahwa merokok dapat mengganggu fungsi paru pada orang sehat. Sedangkan pada Odha, merokok dapat membuatnya lebih sulit melawan infeksi yang berat. Penggunaan ARV dilakukan agar Odha bertahan hidup semakin lama. Namun mutu hidup jangka panjang ini terganggu akibat merokok dan masalah terkait.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;Merokok melemahkan sistem kekebalan tubuh. Padahal sistem kekebalan tubuh ini untuk melindungi kita dari IO. Lemahnya sistem kekebalan tubuh ini membuat Odha rentan terkena infeksi, terutama infeksi berkaitan dengan paru. Risiko ini juga meliputi merokok ganja bukan hanya tembakau. HIV meningkatkan risiko penyakit paru kronis. Merokok pun dapat memperburuk masalah hati, misalnya hepatitis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merokok pun memperparah efek samping akibat terapi ARV. Misalnya mengakibatkan osteoporosis (tulang lemah yang lebih rentan patah). ART sendiri memang sedikit meningkatkan risiko penyakit jantung. Tetapi di antara risiko serangan jantung dan strok akibat kegiatan hidup yang kita dapat kendalikan, merokok adalah yang terbesar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merokok juga memudahkan munculnya infeksi oportunistik seperti kandidiasis (jamur) dan pneumonia pnemocystis (PCP). Pada perempuan merokok dapat meningkatkan risiko penyakit pada leher rahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini, bakteri yang menyebabkan mycobacterium avium complex ( MAC ) dikaitkan dengan merokok. Bakteri ini ditemukan pada tembakau, kertas rokok, dan saringan rokok walaupun benda tersebut sudah terbakar. Karena itu merokok sangat berbahaya bagi Odha. Teman-teman yang positif HIV perlu berhati-hati untuk menjaga kesehatan, terutama kalau masih merokok, masih minum akohol, maupun aktif memakai narkoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya semua pilihan kembali pada pelaku. Dalam kehidupan ini banyak masalah yang harus dihadapi. Banyak jalan menuju ke arah lebih baik. Namun jalan yang baik itu belum tentu disepakati semua orang. Tinggal sejauh mana teman-teman Odha sadar dan mau mengambil pilihan yang lebih baik bagi kesehatan sendiri. [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-9053296755263075149?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/9053296755263075149/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=9053296755263075149&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/9053296755263075149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/9053296755263075149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2007/01/merokok-mengurangi-kerja-obat-anti.html' title='Merokok Mengurangi Kerja Obat Anti-Retroviral'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-4707877002382958493</id><published>2007-01-04T19:41:00.000+08:00</published><updated>2007-01-31T17:44:19.680+08:00</updated><title type='text'>Bencana AIDS di Kalangan Remaja Bali</title><content type='html'>Bencana AIDS di Kalangan Remaja Bali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Edy Suryawan, Koordinator Lapangan Yayasan Hatihati Bali]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Indonesia sedang mengalami kesulitan. Saat ekonomi terpuruk, bencana alam bertubi-tubi menerpa negeri kita ini. Mulai dari tanah longsor, gempa bumi, ledakan bom sampai bencana tsunami yang meratakan sebagian wilayah Sumatra dan Jawa. Di awal tahun baru ini pun bencana akibat alam datang tak kunjung henti. Ada kapal tenggelam di laut Jawa, ada pula pesawat hilang di Sulawesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa mengecilkan semua bentuk bencana itu, Indonesia pun menghadapi bencana dalam bentuk lain yaitu makin banyaknya kasus HIV/AIDS di kalangan remaja. Tiap hari kasus HIV/AIDS baru muncul tanpa bisa dicegah kedatangannya. Mulai dari orang dewasa, remaja, ibu rumah tangga sampai pada anak-anak tidak berdosa harus menerima beban HIV pada tubuh mereka. Epidemi ini kini telah melanda seluruh wilayah Indonesia ini, termasuk Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai September 2006, jumlah kasus HIV/AIDS di Bali menunjukkan hingga angka 1.136 kasus. Data menurut Dinas Kesehatan Provinsi Bali tersebut meningkat sampai 25 persen dibanding 2005 lalu. Pada 2005 kasus HIV/AIDS di Bali mencapai 880 kasus. Hal yang mengkhawatirkan adalah 627 kasus (55,19 persen) berasal dari usia muda yaitu golongan umur 20-29 tahun. Kondisi ini memaksa berbagai pihak pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk melakukan pendekatan pada kelompok remaja. Pendekatan itu mulai dari penyuluhan narkoba dan HIV/AIDS hingga melibatkan remaja pada kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan HIV dan narkoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyuluhan dan pelibatan remaja dalam kegiatan tentang HIV/AIDS dilakukan untuk mengajak remaja agar tahu dan peduli pada persoalan ini. Sebab remaja sebagai aset bangsa perlu dijaga agar terhindar dari cengkeraman narkoba dan HIV/AIDS. Dengan demikian kasus narkoba dan HIV/AIDS di kalangan remaja bisa ditekan sedini mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laju penularan HIV/AIDS di kelompok remaja di Bali saat ini bisa dikatakan sebagai bencana. Jika penyebaran virus HIV di kelompok remaja ini tidak mendapatkan perhatian serius maka bisa dipastikan pulau dewata tercinta ini  akan mengalami bencana yang lebih besar dari tsunami dimana generasi muda sebagai penerus bangsa sudah habis terpapar HIV/AIDS. Tempat yang sangat strategis dan memiliki keindahan alam serta keunikan budaya  membuat hampir semua tempat di Bali memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal maupun manca negara. Hal ini juga menjadi salah satu kebanggaan masyarakat bali khususnya para remaja disaat dirinya diakui sebagai orang bali.  Namun yang perlu diwaspadai adalah Bali saat ini merupakan daerah yang memiliki peluang sebagai tempat penyebaran Virus HIV/AIDS melalui para pendatang ataupun wisatawan asing kepada masyarakat Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di balik keindahannya Bali juga banyak memiliki perilaku risiko yang begitu lekat di lokasi-lokasi wisata yang di kunjungi wisatawan, dimana perilaku beganti pasangan dan penggunaan narkoba yang menjadi trend para wisatawan telah membaur dalam kehidupan sosial masyarakat bali sejak 20 tahun lalu. Perilaku seks berisiko dikalangan remaja saat ini telah menjadi salah satu bentuk jasa pelayanan bagi wisatawan yang memiliki nilai tukar yang cukup tinggi. Sehingga tidak jarang terlihat beberapa pekerja seks komersial (PSK) muda belia tidak segan untuk mengambil risiko ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal tahun 2000 Pemakaian narkoba mulai dari cara hisap sampai dengan cara penyuntikan telah berjalan seiring dengan perilaku seks di kalangan remaja di Bali. Data yang Yayasan Hatihati sejak tahun 1999 hingga Desember 2004 menunjukkan bahwa usia rata-rata pengguna narkoba berasal dari golongan umur 15-20 tahun (91%) Hal ini membuktikan bahwa begitu besarnya pengaruh Narkoba dan Perilaku seks dalam meningkatkan kasus HIV/AIDS di kalangan remaja di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bali sebagai pusat pariwisata dunia sejak dulu telah menyedot perhatian para wisatawan asing sehingga bisa dikatakan Bali sebagai daerah transit perilaku risiko baik perilaku seks maupun penyalahgunaan Narkoba. Sejak kasus HIV/AIDS di temukan di Bali pada 1987 sampai sekarang menunjukan begitu besarnya pengaruh wisatawan  asing terhadap perilaku risiko di Bali. Begitu banyaknya devisa yang telah dihasilkan dari aspek pariwisata ini namun hasil ini tidak sebanding dengan salah satu dampak yang ditimbulkan dari para wisatawan yang datang ke Bali dimana narkoba dan seks telah membaur dalam kehidupan wisata di Bali. Akankah ini menjadi pemikiran bagi pihak-pihak pejuang pariwisata untuk ikut ambil bagian dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS di Bali?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sepantasnya pihak pemerintah daerah memikirkan hal ini secara serius. Namun hal yang lebih penting lagi ialah bagaimana menjaga agar perilaku risiko tersebut tidak lagi membayang-bayangi kehidupan para remaja. Sehingga program pencegahan HIV/AIDS dan Narkoba di kalangan remaja harus terus di promosikan dan mendapat dukungan dari pemerintah daerah maupun pusat. [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-4707877002382958493?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/4707877002382958493/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=4707877002382958493&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/4707877002382958493'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/4707877002382958493'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2007/01/bencana-aids-di-kalangan-remaja-bali.html' title='Bencana AIDS di Kalangan Remaja Bali'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-1395141705215201464</id><published>2007-01-03T16:35:00.000+08:00</published><updated>2007-01-31T17:38:09.342+08:00</updated><title type='text'>SENI untuk menekan Stigma dan Diskriminasi</title><content type='html'>SENI untuk menekan Stigma dan Diskriminasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Nicholas Alfendro, Koordinator SENI wilayah Bali]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata memiliki keterbatasan sebagai alat komunikasi. Padahal komunikasi adalah hal terpenting untuk berdialog, untuk mengurangi kesalahpahaman. Maka, seni adalah salah satu metode untuk berdialog dengan cara lain. Apakah itu seni rupa, seni suara, atau seni dalam bentuk apa pun. Seni adalah sesuatu yang universal. Hal inilah yang mendasari lahirnya SENI yaitu jaringan kerja mandiri untuk menekan stigma dan diskriminasi dalam persoalan HIV/AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SENI bekerja sama dengan masyarakat untuk mengadvokasi kesadaran terhadap HIV/AIDS dengan menggunakan seni sebagai pertukaran bahasa. Sebab orang yang memiliki informasi dengan benar, mampu menentukan pilihan mereka sendiri. Seni merupakan bahasa yang bersifat pribadi untuk masing-masing dari kita. Bagaimana pun juga kita berharap kita dapat berhubungan satu sama lain melalui bahasa seni. Jadi apa pun pandangan Anda, masalah sosial, ekonomi, budaya, lingkungan atau apapun bahasa dan dialek yang anda gunakan, tidak satupun dari semua hal tersebut sebanyak seperti penjelmaan visual yang kita gunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok ini terdiri dari Tim Inti yang memiliki pengetahuan tentang HIV dan AIDS. Namun SENI juga bekerja sama dengan masyarakat baik itu siswa, lembaga swadaya masyarakat (LSM), Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), banjar, serta dokter di Gianyar dan Denpasar. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran terhadap persoalan HIV/AIDS. Bentuk seni itu dilakukan melalui seni publik, kostum seni, dan pameran lukisan tim inti dari Sulawesi dan Bali. SENI mengadvokasi kesadaran akan HIV/AIDS melalui bahasa seni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada peringatan hari AIDS se-Dunia 1 Desember lalu pun SENI melibatkan diri. Dari tahun ke tahun tema hari AIDS sedunia berpusat pada masalah gender, keterlibatan lebih besar pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA), stigma, diskriminasi, dan kesehatan. Hal ini pun jadi perhatian SENI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tahun ke tahun makin terlihat komitmen pemerintah. Komitmen pemerintah itu misalnya bisa dilihat dari pernyataan wakil presiden Jusuf Kalla di media massa yang menyatakan, “Tidak berdosa untuk memakai kondom, ini lebih baik untuk melindungi diri sendiri dan orang lain. Jika ada yang keberatan, beritahu mereka kalau itu perintah saya.” SENI berharap penyataan tersebut dapat mendukung kesetaraan gender dan mengurangi kerusakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun persoalan HIV/AIDS tetap memerlukan perhatian dari semua kelompok masyarakat. Karena itulah tim inti SENI berkimitmen untuk berkolaborasi dengan masyarakat umum dengan cara secara terus menerus menambah pengetahuan agar mampu memberikan informasi yang benar dengan kepekaan terhadap budaya sekitar dan agar orang-orang dapat menentukan pilihannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterlibatan masyarakat umum merupakan bagian dari Pengembangan Budaya Komunitas atau Community Culture Development (CCD). Pola ini telah digunakan di seluruh dunia selama sepuluh tahun. Pada Agustus 2006 Jambore Jangkar yang kedua di Makasar, proses SENI diperkenalkan. Setelah itu SENI baru dibentuk. Peserta yang terlibat di Jambore Makassar menyadari bahwa seni sebagai pertukaran bahasa dapat membuat suatu perubahan untuk mengurangi kerusakan, stigma dan diskriminasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui dukungan dan sponsor dari GloballyAware, Jaringan Kerja Harm Recution (Jangkar), Yayasan Matahati, dan CW Printing, masyarakat umum dan tim inti telah mengadakan pelatihan visi Proses Seni di Ubud Bali November lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencananya SENI akan menyelenggarakan pelatihan di Bali sepanjang 2007 dengan melibatkan siswa, banjar, dan masyarakat umum. Saat ini tim inti sedang merancang pelatihan 10 hari di Yogyakarta untuk melanjutkan peningkatan pengetahuan mereka. Pelatihan ini melibatkan masyarakat umum. Selain itu pada Mei nanti akan ada pelatihan di Papua untuk Malam Renungan AIDS Nusantara (MRAN).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua kegiatan dilakukan agar masyarakat makin peduli pada persoalan HIV/AIDS. Dan, nantinya makin mengurangi stigma dan diskriminasi. [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-1395141705215201464?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/1395141705215201464/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=1395141705215201464&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/1395141705215201464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/1395141705215201464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2007/01/seni-untuk-menekan-stigma-dan.html' title='SENI untuk menekan Stigma dan Diskriminasi'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-8636309120694995143</id><published>2007-01-02T17:31:00.000+08:00</published><updated>2007-01-31T17:32:29.192+08:00</updated><title type='text'>Melibatkan Musisi dalam Penanggulangan HIV/AIDS</title><content type='html'>Melibatkan Musisi dalam Penanggulangan HIV/AIDS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Anton Muhajir, anggota Komunitas Jurnalis Peduli AIDS Bali]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musisi punya cara tersendiri untuk terlibat dalam penanggulangan acquired immune deficiancy syndrome (AIDS) atau sindrom menurunnya sistem kekebalan tubuh manusia akibat human immunodeficiancy virus (HIV). Mereka jelas punya massa yang tak sedikit. Nanoe Biroe misalnya punya Baduda yang jumlahnya paling tidak mencapai 40.000 di Bali. Karena itu musisi jelas bisa mempengaruhi orang lain, terutama fans berat mereka. Katakanlah seperti Baduda Nanoe Biroe yang memang fenomenal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat potensi tersebut, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Bali pun berusaha merangkul musisi Bali dalam program Aku Ingin Terlibat. Program Aku Ingin Terlibat sebenarnya membidik semua public figure di Bali. Tidak hanya musisi tapi juga seniman lukis, teater, sastrawan, dan seterusnya. Namun untuk saat ini, musisi yang jadi prioritas karena kemampuan mereka mempengaruhi orang serta banyaknya massa mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara tidak langsung, keterlibatan musisi ini sudah terjadi misalnya pada konser amal Rock on for AIDS Desember 2005 lalu serta Rock on for AIDS II Desember 2006 lalu. Pada beberapa konser lain pun demikian. Masalahnya pada konser itu masih sedikit musisi yang bisa berbicara tentang HIV/AIDS. Musisi masih jadi semacam daya tarik untuk peduli tapi belum berbicara tentang persoalan itu secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, pertengahan Desember lalu KPA Bali mengadakan pelatihan tentang HIV/AIDS bagi musisi Bali. Pelatihan di Gallery Griya Santrian Sanur  itu melibatkan musisi kelas atas Bali seperti antara lain Nanoe Biroe, Lolot, Joni Agung, Jun Bintang, Desy Ladies Room, Gus Adi Endium, Wicak Puzzle, dan Ayu Saraswati. Sebagai fasilitator ada Mercya Soesanto dari KPA Bali dan Oka Negara dari Kita Sayang Remaja (Kisara), LSM yang selama ini intens memberikan informasi tentang HIV/AIDS dan narkoba terutama pada remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama setengah hari mereka mendapat tambahan ilmu tentang HIV/AIDS. Misalnya kenyataan bahwa HIV/AIDS tidak lagi hanya pada kelompok tertentu seperti pengguna narkotika suntik, pekerja seks komersial (PSK), pelanggan PSK, atau mereka yang punya orientasi seks sejenis. Di Bali, HIV/AIDS juga terjadi pada anak-anak dan ibu rumah tangga yang tak pernah menggunakan narkoba suntik atau berganti pasangan. Buktinya ada Ikha Widari yang hari itu memberikan testimoni di depan musisi-musisi tersebut. Ika, panggilan akrabnya, tertular HIV dari suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain testimoni, pelatihan itu juga diisi pengetahuan tentang apa itu HIV/AIDS, cara penularan HIV, cara pencegahan HIV/AIDS, dan bagaimana musisi bisa terlibat dalam penanggulangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku Ingin Terlibat adalah salah satu contoh bagaimana kita merespon secara positif terhadap tantangan HIV/AIDS. Melalui kegiatan ini para musisi akan jauh lebih mengerti tentang HIV/AIDS. Mudah-mudahan realita yang ada akan menggugah kepedulian mereka untuk menyuarakan kesadaran tentang HIV/AIDS. Bahkan mereka akan menunjukkan kepedulian itu melalui karya-karya mereka,” kata dr Oka Negara, salah satu fasilitator pelatihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oka menambahkan saat ini HIV/AIDS telah menginfeksi 3000 orang di Bali. “Makin banyaknya virus ini dari tahun ke tahun menuntut keterlibatan banyak pihak untuk bersama-sama melakukan aksi nyata untuk mengurangi laju penyebaran HIV,” kata Oka. Dalam skala nasional, posisi Bali tidak pernah bergeser dari urutan lima besar sebagai provinsi dengan jumlah kasus HIV/AIDS. Data ini makin meningkat sejak pertama kali ditemukan pada 1987.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musisi peserta pelatihan itu sendiri mengaku antusias dengan pelatihan tersebut. “Kami jadi lebih tahu tentang HIV/AIDS dibanding sebelumnya,” kata Nanoe Biroe. Namun menurut Nanoe akan lebih berarti kalau pengetahuan itu bisa dipakai untuk mengubah orang lain. “Akan lebih bagus kalau kami bisa mengubah perilaku orang lain. Misalnya yang semula pakai narkoba kemudian berhenti pakai. Yang semula merasa keren karena pakai narkoba jadi merasa bahwa memakai narkoba itu tidak keren sama sekali,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama dikatakan penyanyi lain. Lolot mengaku testimoni yang disampaikan Ika mungkin jadi inspirasi untuk membuat lagu tentang HIV/AIDS. Demikian pula Jun, vokalis Bintang. Pada album kedua dan ketiga, ada beberapa lagu Bintang bertemakan narkoba seperti Rambo Olo-Olo. Isinya kurang lebih tentang seseorang yang memakai narkoba. “Pelatihan ini sangat penting agar pada saat manggung nanti nggak perlu ragu nyampein informasi tentang HIV/AIDS,” kata Jun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang memang jadi harapan sejak awal. Bahwa kepedulian para musisi Bali itu akan diwujudkan dalam tiap aksi dan karya mereka. “Dengan begitu bisa memberi kesejukan terhadap cara pandang, sikap, dan perilaku untuk melindungi diri dan orang lain dari HIV serta melahirkan kepedulian kemanusiaan,” ujar Oka Negara.&lt;br /&gt; Keterlibatan musisi ini jadi bukti bahwa setiap orang dengan talenta, kemampuan, dan peran masing-masing dapat ambil bagian dalam penanggulangan HIV/AIDS di Bali. [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-8636309120694995143?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/8636309120694995143/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=8636309120694995143&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/8636309120694995143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/8636309120694995143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2007/01/melibatkan-musisi-dalam-penanggulangan.html' title='Melibatkan Musisi dalam Penanggulangan HIV/AIDS'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-47750270998765176</id><published>2006-12-30T17:58:00.000+08:00</published><updated>2007-01-31T17:28:16.926+08:00</updated><title type='text'>Peran Orang Tua dalam Pencegahan HIV/AIDS</title><content type='html'>Peran Orang Tua dalam Pencegahan HIV/AIDS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Alvien Cartner, staf Yayasan Bali Plus, mantan pecandu narkoba]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran orang tua dalam penanggulangan HIV/AIDS jarang dibicarakan. Padahal sebagai orang yang paling dekat dengan anak, terutama yang masih remaja, orang tua berperan besar dalam mempengaruhi perilaku anak. Peran ini bisa dimulai dan sangat efektif terutama dalam proses pencegahan penularan HIV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua berperan dalam memberikan perhatian kepada anak yang mulai remaja. Sebab  remaja di dalam lingkungan pasti akan berkomunikasi dan berhubungan dengan siapa saja yang dianggap cocok dengan pencarian jati diri terutama pada fase remaja. Orang tua, bagaimanapun adanya, tetap adalah orang yang paling dekat dengan anak. Biasanya kedekatan itu ditandai juga dengan perhatian pada anak. Orang tua biasa memberikan kebebasan pada anak sebagai bagian dari perhatian. Suatu hal yang positif jika remaja bisa diberikan kebebasan  berkomunikasi dengan diiringi pula dengan kegiatan positif seperti berolah raga, belajar berkelompok bersama dan kegiatan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kebebasan yang berlebihan justru bisa jadi bumerang. Memberikan kebebasan berlebihan justru akan menjerumuskan anak atau remaja kepada hal-hal negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pada fase remaja, anak cenderung ingin tahu dan mulai mencoba hal baru untuk bisa mengekpresikan masa remaja. Mereka merasa masa remaja adalah masa yang tepat untuk bersenang-senang, hura-hura dan bebas bergaul dengan siapa saja. Pada saat hal itu tidak terkendali dari kontrol orang tua maka hal-hal yang negatif akan mudah diserap dan dilakukan oleh si anak. Coba-coba ini bisa dari yang sepele hingga paling berat. Misalnya mencoba-coba narkoba dengan berbagi jarum suntik bersama kawannya. Tanpa disadari HIV, virus penyebab AIDS, sudah menulari mereka lewat perilaku berisiko tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam hal mencoba-coba seperti pemakaian narkoba dengan jarum suntik, awalnya adanya komunikasi antara yang menawarkan dan memberikan janji-janji muluk tentang kenikmatan yang akan didapat setelah memakai narkoba. Melihat sesuatu yang baru si remaja pun tertarik. Apalagi diiming-imingi bahwa dengan memakai narkoba semua masalah akan selesai, selalu merasa senang dan tak ada masalah yang tak selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal sebaliknya. Menggunakan narkoba berakibat sangat fatal untuk masa depan si remaja yang seharusnya menjadi generasi penerus bangsa dan kebanggaan orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali mencoba berarti kontrak seumur hidup dengan narkoba. Karena sifat narkoba itu sendiri memberikan efek ketergantungan yang tidak pernah putus-putus. Nikmat satu jam sengsara berjam-jam bahkan tak kenal waktu jika sudah ketergantungan. Pecandu selalu dikejar untuk mendapatkan kenikmatan namun tanpa disadari akan dibarengi dengan kesakitan karena efek adiksi yang harus selalu memakai untuk menutupi rasa sakaw atau sakit akibat putus obat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketergantungan si anak pada narkoba akan berdampak pada orang tua. Dari si anak yang awalnya rajin belajar akan mulai berubah dalam perilaku di rumah, si anak akan mulai terlihat malas dan acuh tak acuh pada keluarga, si anak akan mulai pintar berbohong pada orang tua untuk mencari kesempatan lebih sering keluar rumah yang tak biasanya dilakukan sebelum kecanduan narkoba. Jika hal demikian sudah terjadi perlu dicurigai dan disikapi dengan memberikan perhatian khusus seperti melihat langsung kegiatan si anak apakah benar dengan alasan-alasan dan kegiatan yang dilakukan di luar rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jika hal seperti ini didiamkan saja oleh orang tua para orang tua akan mulai muncul permasalahan baru.dari yang berbohong, menggadai barang di rumah, meminta uang yang jumlahnya tak wajar seperti biasanya sampai mencuri barang di rumah dan yang lebih buruk lagi akan dilakukan diluar rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa sampai seperti itu perilaku si anak? Tentu saja stimulan ketergantungan dari narkoba sudah melekat di kehidupan si anak yang dari awalnya mencoba, iseng, gengsi kalau tidak pakai, sampai hanya untuk menutupi rasa sakit daripada kenikmatan narkoba itu sendiri dikarenakan dosis yang semakin lama semakin meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sampai di sini saja masalah baru akan muncul yaitu tanpa disadari pemakaian jarum suntik secara bergantian akan memberi kesempatan HIV untuk menular ke tubuh orang lain. Anak itu bisa tertular dan bisa menularkan. Virus itu sendiri tidak memandang latar belakang orang, baik itu suku, dan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu peran orang tua adalah kunci untuk mengantisipasi dan membimbing si anak agar tidak terjerumus pada narkoba. Karena di sini kedekatan orang tua dan anak adalah nyata dalam keluarga. Orang tua perlu memonitoring pergaulan dalam lingkungan si anak. Untuk itu orang tua  perlu tahu pengetahuan dan dampak buruk narkoba sampai pencegahan HIV/AIDS. Pengetahuan ini bisa didapat melalui lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) penanggulangan AIDS atau lembaga lain. Salah satu LSM tersebut adalah Bali+. Dengan bertanya pada orang yang tepat orang tua dapat mengakses informasi seputar HIV/AIDS dan dapat dibagikan kepada anak khususnya pada remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita sikapi lewat pencegahan HIV/AIDS dan pemberian informasi kepada anak cucu kita karena mereka adalah generasi penerus bangsa.Indonesia yang sehat tentu saja Indonesia yang kuat. [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-47750270998765176?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/47750270998765176/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=47750270998765176&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/47750270998765176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/47750270998765176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/12/peran-orang-tua-dalam-pencegahan.html' title='Peran Orang Tua dalam Pencegahan HIV/AIDS'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-3995324800797520706</id><published>2006-12-28T17:16:00.000+08:00</published><updated>2007-01-31T17:23:00.755+08:00</updated><title type='text'>Mengenal Lebih Dalam tentang Harm Reduction</title><content type='html'>Mengenal Lebih Dalam tentang Harm Reduction&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Andy Mansrianto, Petugas Lapangan Yayasan Hatihati Denpasar]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bali masih masuk lima provinsi dengan kasus HIV/AIDS terbanyak di Indonesia hingga saat ini. Jumlah kasus HIV/AIDS di Bali hingga September lalu ada 1136 kasus. Kasus terbesar masih terjadi di kalangan injecting drug user (IDU) atau pengguna narkoba suntik (penasun) yaitu 44,5 persen, diikuti heteroseksual 38 persen, homo/biseksual 9 persen, tidak diketahui 8 persen, dan kelahiran 0,5 persen. Masih besarnya kasus di kalangan penasun membuat pemerintah, masyarakat, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM),  saat ini mau tidak mau harus terus menjalin kerjasama. Strategi pencegahan, sosialisasi informasi, dan advokasi itu bisa dilakukan melalui program harm reduction.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bali butuh proses panjang untuk memulihkan pariwisata agar kembali seperti semula. Namun Bali butuh proses pula untuk memotong mata rantai penularan HIV/AIDS. Semua itu tergantung pada peran pemerintah, LSM, dan masyarakat. Misalnya terkait kebijakan, program, serta situasi dan kondisi ekonomi dan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun belakangan banyak bukti menujukkan bahwa penggunaan dan peredaran narkoba serta penyebaran HIV sangat cepat di daerah yang kondisi sosial, ekonomi serta politiknya yang kurang baik. Setiap hari setiap enam detik satu orang terinfeksi HIV di seluruh dunia. Dalam 20 tahun terakhir dari seluruh penduduk bumi lebih dari 60 juta orang telah terinfeksi HIV. Dan menurut data badan kesehatan dunia WHO dan lembaga AIDS internasional UNAIDS sampai Desember 2004 sebanyak 44,3 juta orang terinfeksi HIV/AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Asia secara tradisional opium dipakai dengan cara dihisap. Akan tetapi seiring waktu, pembuatan serta penggunaan opium beralih kepada heroin yang pada awalnya dipakai dengan cara hisap namun kemudian dengan cara suntik agar hemat, irit dan lebih nikmat. Penggunaan heroin dengan cara suntik inilah yang akhirnya mengakibatkan epidemi human immunodeficiency virus (HIV), virus penyebab sindrom menurunnya sistem kekebalan tubuh atau acquired immunde deficiancy syndrome (AIDS) di kalangan IDU di sejumlah negara maju dan berkembang semakin tinggi kasus HIV-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harm reduction adalah upaya penanggulangan dan pencegahan yang menekankan pada tujuan jangka pendek dan dilakukan secara cepat dan tepat untuk mengurangi segala dampak buruk akibat penggunaan narkoba suntik tidak steril serta hubungan seks tanpa kondom. Artinya siapapun yang menggunakan jarum tidak steril atau seks bebas tanpa kondom, berarti membuka peluang tertular HIV, hepatitis maupun penyakit lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada penggunaan narkoba suntik bukan heroinnya yang mengakibatkan penularan HIV tetapi perilaku dari penggunaan jarum suntik yang tidak steril yang mengakibatkan tingginya risiko penularan HIV di kalangan penasun. Sampai saat ini tingginya penularan HIV di kalangan penasun menarik perhatian secara nasional dan dunia internasional. Nah salah satu upaya dari makin tingginya jumlah kasus HIV di penasun, adalah dengan cara menerapkan harm reduction yaitu upaya memotong mata rantai dari penularan HIV/AIDS di kalangan IDU. Caranya penasun selalu menggunakan jarum steril saat memakai narkoba. Demikian halnya bagi yang melakukan hubungan seks agar selalu menggunakan kondom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu contoh (ilustrasi secara umum) strategi dari pengurangan dampak buruk yang sering kita lihat di masyarakat adalah penggunaan sabuk pengaman maupun penggunaan helm. Sabuk pengaman dan helm tidaklah berfungsi 100 persen mencegah terjadinya kecelakaan mobil maupun sepeda motor. Namun juka terjadi kecelakaan maka pemakaian sabuk keselamatan dan helm inilah yang besar jasanya dalam mengurangi jumlah korban. Dalam hal ini pemerintah mengetahui pada kenyataannya pengendara kendaraan baik roda dua maupun roda empat, sering terjadi tindakan ugal-ugalan di saat berada di jalan-jalan raya. Filosofi yang sama mendasari pula pendekatan pengurangan dampak buruk (harm reduction).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harm reduction merupakan “payung” dari 12 aktivitas yang sampai saat ini diterapkan di Indonesia khususnya di Bali dan telah menjadi strategi nasional. Program harm reduction meliputi: 1) Penjangkauan; 2) Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE); 3) Konseling Pengurangan Resiko; 4) Pengurangan Infeksi, 5) Pertukaran Jarum Suntik (NEP); 6)  Clean Up Day dan Pemusnahan Jarum Suntik Bekas, 7) Perawatan dan Rehabilitasi Narkoba, 8) Substitusi Oral Methadone; 9) Pelayanan Kesehatan Dasar; 10) Pendidikan Sebaya (PE), 11) Konseling dan Tes HIV (VCT); serta 12) Perawatan dan Dukungan pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua aktivitas harm reduction tersebut bertujuan agar HIV/AIDS makin bisa ditangani dan tidak menular pada banyak orang. Selain itu juga agar tidak lagi terjadi salah paham terhadap masalah HIV/AIDS. Namun penekanan harm reduction, sekali lagi, adalah untuk mengurangi dampak buruk akibat penggunaan narkoba suntik. Harm reduction tidak hanya membagi jarum suntik atau subtitusi oral tapi keseluruhan aktivitas tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari upaya-upaya di atas sudah jelas, bahwa harm reduction tidaklah menganjurkan penasun untuk terus menggunakan narkoba karena adanya jarum. Harm reduction hanya memberikan pilihan-pilihan serta pandangan dari aktivitas di atas tersebut, pada penasun atau kelompok berisiko lain. Pemakaian jarum suntik yang tidak steril dan berhubungan seks bebas tanpa kondom, adalah pintu awal membuka peluang HIV/AIDS, hepatitis dan penyakit lainnya masuk ke dalam tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali juga terjadi bahwa program harm reduction, secara tidak langsung berperan menurunkan jumlah pengguna narkoba. Sebab program harm reduction hanya pintu masuk bagi penasun untuk ikut terapi substitusi yang pada akhirnya juga membuatnya sampai pada abstinence atau berhenti sama sekali. [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-3995324800797520706?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/3995324800797520706/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=3995324800797520706&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/3995324800797520706'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/3995324800797520706'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/12/mengenal-lebih-dalam-tentang-harm.html' title='Mengenal Lebih Dalam tentang Harm Reduction'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-5790850300052680606</id><published>2006-12-26T17:53:00.000+08:00</published><updated>2007-01-30T17:54:18.315+08:00</updated><title type='text'>Lapas Kerobokan untuk Mengubah Lebih Baik</title><content type='html'>Lapas Kerobokan untuk Mengubah Lebih Baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[dr AA Gede Hartawan, Ketua Pokja Lapas Klas IIA Kerbokan Denpasar]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, HIV/AIDS hanya dikenal di kalangan kelompok yang berperilaku seksual suka berganti pasangan. Karena itu muncul anggapan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIA Kerobokan pun seolah-olah tak tersentuh persoalan HIV/AIDS. Namun ketika ditemukan kasus pertama pada 2000 di Lapas Kerobokan, semua pihak tersentak. Apalagi waktu itu, kasus HIV/AIDS di Lapas jadi kasus terbanyak di Bali meski “hanya” 35 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besarnya kasus HIV/AIDS tersebut ditemukan melalui sero survey Dinas Kesehatan Bali. Besar kemungkinan mereka yang positif HIV ketika di penjara, sebenarnya tertular ketika masih aktif menggunakan narkoba suntik dengan bergantian jarum di luar Lapas. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa penularan pun terjadi ketika warga binaan tersebut sudah di penjara. Selain itu ada pula asessment oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM) penanggulangan HIV/AIDS di Bali tentang perilaku penasun yang berisiko menularkan HIV melalui jarum suntik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Publikasi adanya HIV/AIDS di Lapas oleh media tanpa disertai penjelasan yang cukup membuat warga binaan dan keluarganya pun khawatir. Padahal ketakutan itu terlalu erlebihan. Human immunodeficiancy virus (HIV), virus penyebab sindrom menurunnya sistem kekebalan tubuh, acquired immune deficiancy syndrome (AIDS) tidak menular melalui kontak sosial, termasuk di dalam penjara bersama. HIV hanya menular melalui hubungan seks tanpa kondom, pemakaian jarum suntik bergantian, dan dari air susu ibu ke anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ditemukannya kasus dan munculnya kekhawatiran warga binaan dan keluarga itu mendorong beridirnya Kelompok Kerja Penanggulangan AIDS di Lapas Kerobokan, biasa dikenal sebagai Pokja Lapas. Pokja Lapas ini digagas pada Juni 2003 dan diresmikan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Bali pada Februari 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi yang diterapkan adalah menyadarkan warga binaan dengan pengetahuan tentang HIV/AIDS. Strategi ini dilakukan melalui penyuluhan-penyuluhan tentang HIV/AIDS. Misalnya apa itu HIV/AIDS, penularannya, pencegahan, hingga kesehatan reproduksi secara umum. Penyuluhan rutin ini diberikan oleh LSM penanggulangan AIDS, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Bali, maupun Pokja Lapas sendiri. Tujuannya agar tidak ada kesalahpahaman tentang HIV/AIDS. Selain itu juga untuk menghapus stigma dan diskriminasi pada orang dengan HIV/AIDS (Odha).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi kedua adalah dengan menerapkan kesinambungan program. Penjara adalah tempat orang keluar masuk. Warga binaan sering kali berganti. Karena itu perlu adanya transfer pengetahuan tentang HIV/AIDS antar-napi. Dibentuklah peer educator atau pendidik sebaya. Warga binaan yang sudah mengerti tentang HIV/AIDS memberikan pengetahuannya pada warga binaan baru. Ketika baru dibentuk pada 2002, sudah ada 20 pendidik sebaya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berjalan selama tiga tahun lebih, program-program itu pun terasa hasilnya. Bagi sebagian orang mungkin hasilnya belum memuaskan. Hal ini wajar. Penilaian orang bisa berbeda-beda tergantung pada sudut pandang dan alasannya. Namun sebagai salah satu yang terlibat sejak awal hingga saat ini dalam persoalan tersebut, saya menilai sudah banyak kemajuan dalam penanggulangan HIV/AIDS di Lapas Kerobokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama adanya pengetahuan tentang HIV/AIDS di kalangan warga binaan. Pengetahuan ini dibuktikan dengan kesadaran mereka untuk tes HIV. Warga binaan yang sadar punya perilaku berisiko tinggi seperti berganti pasangan seks tanpa kondom dan bertukar jarum suntik saat pakai narkoba pun banyak yang minta agar dites. Semula tes HIV hanya bisa dilakukan dua bulan menjelang keluarnya warga binaan bersangkutang karena belum adanya infrastruktur seperti konselor, obat anti-retroviral (ARV), dan obat IO. Namun sejak 2004, tes ini sudah bisa dilakukan karena sudah ada konselor dan ARV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua adanya pelayanan bagi kelompok berisiko. Penasun yang ada di penjara sekarang diberikan terapi methadone untuk menghilangkan kebiasaan menyuntik heroin. Secara rutin juga ada tes kesehatan bagi mereka. Program voluntary conselling and testing (VCT) maupun care and support treatment (CST) pun terus berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun perubahan paling penting adalah adanya perubahan sikap pada Odha maupun oleh Odha sendiri. Odha tidak lagi diperlakukan sebagai kelompok lain. Tidak lagi ada diskriminasi dan sitgma pada Odha. Sedangkan Odha sendiri makin punya inisiatif dan terlibat dalam program ini. Melalui semua program itu, Lapas telah menjadi tempat untuk mengubah sesuatu agar lebih baik. [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-5790850300052680606?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/5790850300052680606/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=5790850300052680606&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/5790850300052680606'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/5790850300052680606'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/12/lapas-kerobokan-untuk-mengubah-lebih.html' title='Lapas Kerobokan untuk Mengubah Lebih Baik'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-5036262623973313635</id><published>2006-12-24T17:51:00.000+08:00</published><updated>2007-01-30T17:52:55.245+08:00</updated><title type='text'>Stigma pada Odha adalah Pelanggaran HAM</title><content type='html'>Stigma pada Odha adalah Pelanggaran HAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Made Putri Ayu Rasmini, relawan Sobat dan Kisara Bali]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stigma (cap buruk) sering kali menyebabkan terjadinya diskriminasi dan -pada gilirannya- akan mendorong munculnya pelanggaran hak asasi manusia (HAM) bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dan keluarganya. Stigma dan diskriminasi memperparah epidemi HIV/AIDS. Mereka menghambat usaha pencegahan dan perawatan dengan memelihara kebisuan dan penyangkalan tentang HIV/AIDS seperti juga mendorong keterpinggiran ODHA dan mereka yang rentan terhadap infeksi HIV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stigma berhubungan dengan kekuasaan dan dominasi di masyarakat. Pada puncaknya, stigma akan menciptakan, dan ini didukung oleh, ketidaksetaraan sosial. Stigma berurat akar di dalam struktur masyarakat, dan juga dalam norma-norma dan nilai-nilai yang mengatur kehidupan sehari-hari. Ini menyebabkan beberapa kelompok menjadi kurang dihargai dan merasa malu, sedangkan kelompok lainnya merasa superior.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskriminasi terjadi ketika pandangan-pandangan negatif mendorong orang atau lembaga untuk memperlakukan seseorang secara tidak adil yang didasarkan pada prasangka mereka akan status HIV seseorang. Contoh-contoh diskriminasi meliputi para staf rumah sakit atau penjara yang menolak memberikan pelayanan kesehatan kepada ODHA; atasan yang memberhentikan pegawainya berdasarkan status atau prasangka akan status HIV mereka; atau keluarga/masyarakat yang menolak mereka yang hidup, atau dipercayai hidup, dengan HIV/AIDS. Tindakan diskriminasi semacam itu adalah sebuah bentuk pelanggaran HAM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stigma dan diskriminasi dapat terjadi di mana saja dan kapan saja. Stigma dan diskriminasi yang dihubungkan dengan penyakit menimbulkan efek psikologi berat tentang bagaimana ODHA melihat diri mereka sendiri. Hal ini bisa mendorong, dalam beberapa kasus, terjadinya depresi, kurangnya penghargaan diri, dan keputusasaan. Stigma dan diskriminasi juga menghambat upaya pencegahan dengan membuat orang takut untuk mengetahui apakah mereka terinfeksi atau tidak. Bisa pula menyebabkan mereka yang telah terinfeksi meneruskan praktek seksual tidak aman karena takut orang-orang akan curiga terhadap status HIV mereka. Akhirnya, ODHA dilihat sebagai "masalah", bukan sebagai bagian dari solusi untuk mengatasi epidemi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stigma dan diskriminasi terhadap ODHA disebabkan karena kurangnya informasi yang benar tentang cara penularan HIV, adanya ketakutan terhadap HIV/AIDS, dan fakta AIDS sebagai penyakit mematikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat ini sikap dan pandangan masyarakat terhadap ODHA sangat buruk sehingga melahirkan permasalahan serta tindakan yang melukai fisik maupun mental bagi ODHA bahkan keluarga dan orang-orang terdekatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya  hak ODHA sama seperti manusia lain, tetapi, karena ketakutan dan kekurangpahaman masyarakat, hak ODHA sering dilanggar. Menurut hasil penelitian dokumentasi pelanggaran HAM Yayasan Spiritia, 30 persen responden menyatakan pernah mengalami berbagai diskriminasi dalam pelayanan kesehatan dan dalam keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak asasi manusia itu di antaranya adalah:&lt;br /&gt;1.      Memiliki dan mendapatkan privasi,&lt;br /&gt;2.      Memiliki dan mendapatkan kemerdekaan, keamanan serta kebebasan berpindah&lt;br /&gt;3.      Bebas dari kekejaman, penghinaan (tindakan menurunkan martabat atau pengucilan)&lt;br /&gt;4.      Bekerja  (termasuk terbukanya kesempatan yang sama)&lt;br /&gt;5.      Mendapatkan pendidikan serta menjalin mitra jaringan&lt;br /&gt;6.      Keamanan sosial dan pelayanan&lt;br /&gt;7.      Kesetaraan perlindungan dalam hukum&lt;br /&gt;8.      Menikah dan berkeluarga&lt;br /&gt;9.      Mendapatkan perawatan , dan  masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain hak, ODHA juga mempunyai kewajiban seperti menjaga kesehatan, tidak menularkan ke orang lain, mencari informasi dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan antara ODHA dan orang yang tidak terinfeksi hanyalah ODHA memiliki virus yang melemahkan sistem kekebalan tubuhnya. Selain itu secara sepintas kita tidak dapat membedakan antara seseorang yang memiliki status HIV positif dengan orang yang tidak terinfeksi. Status HIV  positif seseorang hanya bisa dibuktikan dengan tes darah dan itupun di lakukan dengan VCT (Voluntary Counseling and Testing), yaitu secara sukarela tanpa paksaan. Selain itu kita hanya bisa tahu jika ODHA membuka status HIV positif-nya kepada kita dan kita mempunyai kewajiban untuk menjaga konfidensialitas (kerahasiaan) ODHA tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari informasi tentang HIV dan AIDS dari sumber yang tepat sebanyak-banyaknya adalah salah satu cara untuk melindungi diri kita dan orang lain. Misalnya mencari informasi yang tepat dari lembaga-lembaga yang kompeten di bidangnya seperti Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), Kisara PKBI Bali, Yayasan Bali Plus, Yakita, Yayasan Hatoihati, Palang Merah Indonesia (PMI), dan masih banyak organisasi lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling penting adalah dengan semakin banyak informasi yang diserap masyarakat (dari berbagai lapisan), maka perlahan-lahan stigma dan diskriminasi akan dapat  dilenyapkan, sehingga mempercepat dan mempermudah usaha pencegahan. Karena orang tidak takut lagi untuk mengetahui status HIV-nya, apakah mereka terinfeksi atau tidak. Selain itu, bagi mereka yang telah terinfeksi HIV dapat meneruskan praktik seksualnya dengan aman (menggunakan kondom) tanpa rasa takut jika orang-orang akan curiga terhadap status HIV mereka, sehingga mengucilkan mereka. HIV dan AIDS adalah masalah kita juga, bukan masalah orang-orang tertentu, meski kita kadang tidak menyadarinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan semakin banyak masyarakat yang sadar dan peduli akan HIV dan AIDS  maka janji dapat ditepati, yakni hentikan AIDS! Ayo kita hapus stigma dan hentikan diskriminasi dengan memulainya dari diri kita sendiri. Sudahkah anda paham HIV dan AIDS? [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-5036262623973313635?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/5036262623973313635/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=5036262623973313635&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/5036262623973313635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/5036262623973313635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/12/stigma-pada-odha-adalah-pelanggaran-ham.html' title='Stigma pada Odha adalah Pelanggaran HAM'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-7478944682866047660</id><published>2006-12-21T17:50:00.000+08:00</published><updated>2007-01-30T17:51:40.293+08:00</updated><title type='text'>Vonis Rehabilitasi Sekarang Juga!</title><content type='html'>Vonis Rehabilitasi Sekarang Juga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IGN Wahyuda, Koordinator Ikatan Korban Napza (IKON) Bali]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis pekan lalu, puluhan anggota Ikatan Korban Napza (IKON) Bali melakukan aksi damai di Pengadilan Negeri (PN) dan Kejaksaan Negeri Denpasar. Aksi damai dilakukan dalam rangka memperingati hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional 10 Desember lalu. Karena dimaksudkan sebagai aksi damaui, maka IKON Bali juga membagi bunga mawar merah sebagai wujud mengajak orang lain agar berempati dalam penanggulangan narkoba dan HIV/AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam aksi itu ada empat tuntutan massa yang sebagian besar adalah mantan pecandu narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lain (Napza) tersebut. Empat tuntutan itu adalah: 1) Menyerukan penghapusan vonis penjara bagi pecandu narkoba, 2) Menyerukan agar semua instansi penegak hukum memberikan vonis rehabilitasi bagi pecandu narkoba sebagaimana diatur dalam UU Narkotika No 22 Tahun 1997, 3) Menghimbau semua pihak untuk menghormati hak asasi manusia meskipun pada pecandu narkoba, serta 4) Menghimbau semua pihak untuk tidak hanya menyalahkan pecandu narkoba tapi memberikan jalan yang keluar bagi persoalan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya, melalui media massa lokal, Ketua PN Denpasar Putu Widnya memberikan komentar bahwa hukuman penjara masih diperlukan bagi pecandu narkoba. Tujuannya untuk memberikan efek jera. Selain itu beliau juga memberikan saran agar IKON Bali mengajukan tuntutan ke Mahkamah Konstitusi jika ingin mengubah UU Narkotika dan UU Psikotropika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu ada beberapa hal yang perlu diperjelas. Pertama tentang hukuman penjara bagi pecandu narkoba. Tanpa mencermati dan memikirkan lebih dalam, pernyataan itu seolah-olah benar. Seolah-olah penjara memang jalan terbaik bagi pecandu narkoba. Nyatanya tidak begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukuman penjara berangkat dari pikiran bahwa pecandu narkoba adalah pelaku tindak kriminal. Secara hukum formal memang begitu. Kami mengakui bahwa menggunakan narkoba secara ilegal merupakan tindakan yang dilarang. Namun pecandu narkoba hanya korban dari bandar. Tidak ada keuntungan apa pun yang didapat pecandu ketika memakai narkoba. Bandarlah yang mendapat uang berlimpah dari peredaran gelap narkoba. Jadi menjatuhkan vonis penjara bagi pecandu berarti menghukum korban. Malang nian nasib pecandu, sudah jadi korban dihukum pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukuman penjara sebagai efek jera pun tak berhasil. Sudah tak terhitung jumlah pecandu yang dihukum penjara seberat-beratnya. Toh, tidak berarti makin sedikit jumlah orang yang menggunakan narkoba. Kita lihat saja di Lapas Kerobokan. Jumlah nara pidana atau tahanan yang paling banyak tetap saja karena kasus narkoba, entah karena pemakaian atau peredaran. Lebih dari 50 persen penghuni Lapas Kerobokan adalah karena kasus narkoba. Apalagi Lapas Kerobokan sudah melebih kapasitasnya. Per September 2006 lalu jumlah penghuninya 840 orang dari yang seharusnya 320 orang. Artinya penjara bukan lagi hal yang menakutkan bagi pecandu. Penjara telah gagal memberi efek jera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parahnya lagi, penjara tidaklah menghentikan ketergantungan pecandu pada narkoba. Dasar pikiran ketika menjatuhkan vonis penjara adalah agar pecandu kapok, dan tidak lagi memakai narkoba. Nyatanya tidak. Di penjara, pecandu makin gampang mendapat narkoba. Sebab sudah jadi rahasia umum bahwa penjara merupakan salah satu tempat paling aman untuk jual beli narkoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudahnya pemakaian narkoba tidak disertai adanya peralatan untuk memakai narkoba. Misalnya jarum suntik. Padahal pecandu yang dipenjara tidak bisa menghilangkan kebiasaan memakai narkoba dengan jarum suntik. Jarum pun dipakai secara bergantian. Kebiasaan ini mengakibatkan mudahnya penularan human immunodeficiancy virus (HIV), virus penyebab sindrom menurunnya sistem kekebalan tubuh, acquired immune deficiancy syndrome (AIDS). Mereka yang semula tidak positif HIV pun akan tertular HIV akibat pemakaian narkoba di penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai gambaran, pada 2000 ditemukan 35 napi dan tahanan positif HIV di Lapas Kerobokan. Jumlah tersebut merupakan jumlah terbanyak di Bali pada waktu itu. Saat ini sejak 2004 hingga 2006 lalu ada 28 orang dengan HIV/AIDS di penjara terbesar di Bali tersebut. Jika masalah ini tidak jadi perhatian, maka akan makin menambah jumlah kasus HIV/AIDS di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya saat ini di penjara sudah ada program subtitusi untuk menanggulangi masalah ketergantungan pecandu pada narkoba. Ada program rumatan methadone untuk mengurangi kecanduan pada heroin. Rumatan methadone di Lapas Kerobokan dilakukan sejak Agustus 2005. Ketika baru dibuka sudah ada 56 klien yang ikut program ini. Total klien yang pernah ikut program ini 69 orang. Saat ini masih ada 42 warga binaan yang ikut. Tak sedikit pecandu yang bisa berhenti menggunakan narkoba setelah ikut program ini. Hal ini membuktikan bahwa rehabilitasilah yang menjawab persoalan ketergantungan pecandu pada narkoba, bukan penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua saran untuk mengajukan tuntutan ke Mahkamah Konstitusi tentang perubahan UU narkotika agar tidak ada vonis penjara bagi pecandu narkoba. Menurut kami tidak perlu jauh-jauh ke Mahkamah Konstitusi agar vonis rehab bisa dijatuhkan. Sebab, UU No 22 tahun 1997 tentang Narkotika sudah memungkinkan adanya vonis rehab tersebut. Pasal 45 UU berbunyi pecandu narkotika wajib menjalani pengobatan dan atau rehabilitasi. Demikian pula pada Pasal 47 ayat a dan ayat b. Pasal itu memerintahkan agar hakim memutuskan untuk memerintahkan rehabilitasi bagi pecandu apabila pecandu narkoba tersebut terbukti bersalah melakukan tindak pidana narkotika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sudah ada UU yang memungkinkan adanya vonis rehabilitasi, kenapa tidak bisa dilakukan? Inilah yang jadi masalah. Belum banyak hakim ataupun penegak hukum lain seperti polisi dan jaksa yang dengan berbesar hati membuka pikiran bahwa penjara tidak bisa menjawab ketergantungan pecandu pada narkoba. Masalah ketergantungan pecandu pada narkoba harus dilihat dari beragam perspektif, tidak hanya masalah hukum. Tinggal apakah penegak hukum mau pakai kaca mata kuda atau membuka pikiran seluas-luasnya. [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-7478944682866047660?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/7478944682866047660/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=7478944682866047660&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/7478944682866047660'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/7478944682866047660'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/12/vonis-rehabilitasi-sekarang-juga.html' title='Vonis Rehabilitasi Sekarang Juga!'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-1781855786183931895</id><published>2006-12-19T17:48:00.000+08:00</published><updated>2007-01-30T17:49:42.124+08:00</updated><title type='text'>Mencari Jati Diri Tanpa Narkoba</title><content type='html'>Mencari Jati Diri Tanpa Narkoba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Yusuf Rey Noldy, Konselor Yayasan Hatihati, mantan pecandu narkoba]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun belakangan ini terdapat banyak bukti ilmiah yang menunjukkan penggunaan narkoba dapat menyebar dengan cepat di daerah yang kondisi sosial, ekonomi serta politiknya kurang baik. Narkoba sampai dengan saat ini masih menjadi masalah yang harus disikapi dengan serius oleh semua pihak. Kita semua tahu bahwa narkoba tidak memandang latar belakang agama, suku, maupun ras. Salah melangkah berarti kita berada dalam dunia hampa yang di mana kita akan menemukan banyak masalah di dalamnya yaitu dunia kecanduan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia kecanduan ini pun remaja menjadi target yang empuk bagi para bandar narkoba untuk mencari “mangsa-mangsa” baru maupun untuk mengais keuntungan dari bisnis narkoba ini. Beberapa faktor mengemuka yang dapat menjadikan peluang bagi para bandar narkoba ini untuk memuluskan aksinya dalam  membujuk para remaja adalah rasa ingin tahu akibat pergaulan. Remaja dibujuk dengan anggapan seolah-olah memakai narkoba adalah sesuatu yang keren. Padahal tidak sama sekali!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwa remaja sebagi akibat dari pertumbuhan kedewasaan mencari jati diri menjadi poin penting tersendiri bagi para bandar yang memang piawai mencari mangsa baru. Remaja yang tidak mempunyai bekal informasi narkoba dan pendirian kuat adalah sasaran empuk untuk direkrut menjadi pecandu-pecandu baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah kemudian muncul ketika mereka berada dalam dunia kecanduan. Keceriaan dari setiap aktivitas yang mereka lakukan sebelum jadi pecandu hilang tak berbekas. Minat dan bakat untuk mengejar cita-cita berubah menjadi minat dan bakat untuk melakukan tindak kriminal. Energi jiwa muda menjadi lemah tak berdaya akibat dari pengaruh narkoba.. Pijaran lampu  masa depan yang mulanya terang lama kelamaan redup dihalau belenggu kecanduan. Pagi hari waktunya berangkat mencari ilmu disibukkan dengan bagaimana menutupi rasa sakit dalam tubuh. Asa yang begitu menggebu-gebu dalam mencapai prestasi hilang tak berbekas berbaur dalam kehidupan yang tak pasti arah dan tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenikmatan sesaat menjadi petaka dikemudian hari, petaka yang siap menunggu waktu itu adalah Humman Immunodeficiency Virus (HIV), virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan penyebab munculnya kumpulan sindrom menurunnya sistem kekebalan tubuh, biasa disebut Aquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narkoba itu sendiri memang tidak mengakibatkan pecandu terinfeksi HIV tetapi perilaku pemakaian narkoba itulah yang membuka masuknya HIV masuk dalam tubuh pecandu. Contoh paling nyata yang bisa kita lihat adalah perilaku penggunaan jarum suntik secara bergantian antara sesama pengguna narkoba suntik (penasun) dengan budaya meminjam atau meminjamkan jarum suntik mereka kepada sesama penasun. Hal ini membuka pintu masuknya HIV kedalam tubuh. Tragis, itulah yang tergambarkan sekilas tentang dunia pecandu. Mereka sadar akan hal ini tetapi mereka tidak berdaya menahan rasa sakit yang timbul dari akibat penggunaan narkoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk diketahui dari estimasi jumlah pecandu narkoba di Bali pada 2003 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sebanyak 2500 orang. Ada pun jumlah kasus HIV dan AIDS di Bali pada kelompok penasun masih menjadi kasus tertinggi yaitu sekitar 45 persen per September 2006 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini tentunya perlu kita pikirkan dan perlu ada tindakan cepat. Sebab kesadaran tanpa usaha adalah hal yang sia-sia. Aparat penegak hukum sudah mempunyai tugas dalam menindak peredaran gelap narkoba. LSM dengan pendekatan ke para pecandu mempunyai peran dalam memberikan pemahaman kepada para pecandu agar para mereka menyadari dampak penggunaan narkoba terhadap diri mereka maupun lingkungan. Selain dari pada itu pembentukan kelompok-kelompok sisiwa peduli AIDS dan narkoba sangat efektif dan penting bagi remaja sekolah, karena ini bagian dari upaya untuk membentengi diri remaja dari setiap godaan yang terjadi dalam pergaulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya-upaya dari apa yang sudah dilakukan ini akan berjalan dengan baik apabila semua pihak bisa saling mendukung untuk memperkuat barisan menghadapi peredaran gelap narkoba maupun epidemi HIV yang setiap waktu siap mengancam kehidupan generasi muda kita. Untuk mewujudkan semua itu perlu peran dan dukungan  dari semua pihak karena bagaimanapun juga narkoba dan HIV/AIDS merupakan persoalan kita semua. Bagi remaja  untuk mencari jati diri sebagai proses dari kedewasaan tidak harus menggunakan narkoba dan yang perlu ditanamkan mulai sekarang sampai kapan pun adalah bagaimana remaja tidak enggan untuk berkata tidak pada narkoba. [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-1781855786183931895?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/1781855786183931895/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=1781855786183931895&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/1781855786183931895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/1781855786183931895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/12/mencari-jati-diri-tanpa-narkoba.html' title='Mencari Jati Diri Tanpa Narkoba'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-9054010512551981079</id><published>2006-12-17T17:45:00.000+08:00</published><updated>2007-01-30T17:46:58.504+08:00</updated><title type='text'>Melibatkan Petugas Kesehatan dalam NEP</title><content type='html'>Melibatkan Petugas Kesehatan dalam NEP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Asep Hidayat, mantan pecandu, anggota Kelompok Dampingan Sebaya Addict+]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Needle Exchange Program (NEP) atau yang biasa di sebut program pertukaran jarum suntik (perjasun) sejauh ini masih dilakukan dengan cara-cara lama, yakni dengan metode penjangkauan. Program yang sudah dijalankan sejak 2001 ini pada awalnya menuai berbagai pendapat miring dari masyarakat umum yang memang tidak mengerti maksud dan tujuan program tersebut. Sebagian dari mereka menganggap bahwa program tersebut seolah-olah justru melegalkan praktek penggunaan narkoba dan mendukung pecandu narkoba suntik dengan menyediakan jarum suntik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu sisi program ini menghasilkan kemajuan dalam penanggulangan AIDS di Bali. Misalnya dengan makin mudahnya penjangkauan pada injecting drug user (IDU). Selama ini IDU merupakan kelompok yang termasuk susah dijangkau dalam penanggulangan AIDS dibanding misalnya pekerja seks komersial. Padahal hingga September 2006 lalu, IDU masih jadi penyumbang terbesar kasus HIV/AIDS dibanding kelompok lain. Adanya NEP membuat kelompok ini lebih diperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu NEP juga jadi pintu masuk bagi perubahan perilaku junkie, sebutan lain bagi IDU. Banyak pecandu yang kemudian beralih ke substitusi heroin seperti Methadone dan Subutex. Dua zat ini jadi pengganti kebutuhan junkie pada heroin. Bahkan tidak sedikit junkie yang berhenti pakaw sama sekali menggunakan putaw. Dengan kata lain, NEP berperan dalam program penanggulangan HIV/AIDS di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tidak menutup mata juga bahwa masih ada sejumlah masalah dalam pelaksanaan NEP. Misalnya kesamaan pola dalam pelaksanaan NEP. Di Bali saja saat ini terdapat tiga LSM menjalankan Program Pertukaran Jarum Suntik. Mereka menggunakan strategi yang sama yakni melakukan penjangkauan ke lokasi-lokasi yang diyakini sebagai tempat nongkrong para junkie. Selain mendistribusikan jarum suntik steril, petugas lapangan (PL) sebagai pelaksana  program dituntut untuk memberikan informasi tentang HIV dan tujuan dari program itu sendiri. Sehingga keberadaan  pertugas lapangan ini juga harus memiliki pengetahuan yang cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak 2001 silam program pertukaran jarum suntik ini pun dinilai kurang efektif. Sebab masih rendahnya tingkat kesadaran pada junkie. Setelah mengikuti program ini mereka bukannya sadar terhadap kondisi kesehatannya, tetapi justru makin menjadi-jadi. Segala cara dilakukan, misalnya sejak 2005 lalu saat Kampung Flores diobok-obok polisi dan berhasil membubarkan pratek jual beli heroin. Hal ini tentu saja membuat para pecandu narkoba suntik jenis heroin ini merasa kewalahan untuk memperoleh heroin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun entah karena tersedianya peralatan suntik, saat itu mereka beralih menggunakan bufrenorphine (Subutex) dengan cara disuntik. Padahal Subutex itu seharusnya digunakan dengan cara Sub-lingual atau dilarutkan dibawah lidah. Fungsinya adalah sebagai obat pengganti (subtitusi oral) heroin. Namun karena penggunaan dengan cara disuntikan tadi justru mengakibatkan masalah baru, mereka akhirnya menjadi ketergantungan Subutex.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini juga mengakibatkan para pecandu Subutex mengalami berbagai gejala penyakit yang sangat berbahaya, seperti penyempitan pembuluh darah, penyumbatan pembuluh darah, sampai dengan gangguan penglihatan yang diakibatkan penggunan Subutex dengan cara disuntikan. Seperti yang dialami Bagong (32), ia mengaku setelah putaw susah didapat di pasaran, kini ia berpaling ke Subutex. Dan ironisnya ia gunakan Subutex tersebut dengan cara disuntikan. Melihat prilaku tersebut, petugas lapangan, justru tidak melakukan upaya penyadaran kepada Bagong. Melihat prilaku Bagong, ia hanya bisa pasrah dan mengatakan bahwa semua itu adalah pilihan mereka. Lalu, sebenarnya apa tugas para petugas lapangan? Apakah hanya mendistribusikan jarum suntik steril? Atau mereka akan kehilangan klien jika para pecandu meninggalkan kebiasaan menggunakan alat suntik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya petugas lapangan yang menjadi pelaku program pertukaran jarum suntik, bisa melihat kesempatan yang ada setelah Kampung Flores diobok-obok polisi dan langka peredaran heroin menjadi langka. Bukannya membiarakan kliennya tetap menggunakan  narkoba atau obat lainnya dengan cara disuntik. Hal ini secara otomatis upaya kepolisian untuk memberantas peredaran gelap narkoba dan menanggulangi masalah pecandu akan sia-sia saja. Di sisi lain pecandu yang tidak memiliki pengetahuan tentang HIV/AIDS dan penyakit lainnya yang ditularkan melalui jarum suntik akan memperoleh dampak yang sangat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, saat ini marilah kita bersama-sama mengupayakan agar masalah peredaran gelap narkoba dan pecandu lambat-laun bisa diberantas. Alangkah baiknya jika program pertukaran jarum suntik ini dilakukan oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkompeten di bidang kesehatan seperti dokter dan perawat. Dengan memanfaatkan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) sebagai stelit program pertukaran jarum suntik, tentunya masalah pecandu terkait dengan masalah kesehatannya bisa teratasi dengan baik. Sebab dokter dan perawat memang mempunyai dasar yang kuat untuk melakukan kegiatan menyehatkan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu juga dengan menyediakan layanan pertukaran jarum suntik di Puskesmas, para pecandu bisa berbaur dengan masyarakat umum. Dan yang terpenting adalah mereka mendapat layanan yang layak. Seperti halnya Jaakarta dan beberapa kota besar lainnya di Indonesia, saat ini sudah melakukan strategi tersebut yaitu memanfaatkan Puskesmas sebagai pusat pelayanan bagi pecandu. Dengan begitu pecandu akan semakin mudah untuk mengatasi masalah ketergantungannya dan setidaknya mendidik mereka untuk bertanggung jawab terhadap masalah kesehatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya pelaksanaan NEP oleh petugas kesehatan akan membuat tidak ada lagi kegiatan pemberian layanan kesehatan yang terselubung seperti yang dilakukan oleh beberapa pelaksana lapangan peduli AIDS. Dan program pertukaran jarum suntik bisa tepat sasaran serta memperoleh hasil maksimal yang memang diinginkan oleh pemerintah saai ini. [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-9054010512551981079?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/9054010512551981079/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=9054010512551981079&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/9054010512551981079'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/9054010512551981079'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/12/melibatkan-petugas-kesehatan-dalam-nep.html' title='Melibatkan Petugas Kesehatan dalam NEP'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-5890921597368698526</id><published>2006-12-14T17:44:00.000+08:00</published><updated>2007-01-30T17:45:19.092+08:00</updated><title type='text'>Isolasi dan Label bagi Odha Bukan Solusi</title><content type='html'>Isolasi dan Label bagi Odha Bukan Solusi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Yusuf Rey Noldy, Konselor Yayasan Hatihati Denpasar]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang laki-laki paruh baya bercerita pada saya tentang human immunodeficiency virus (HIV), virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan penyebab munculnya kumpulan sindrom menurunnya sistem kekebalan tubuh, biasa disebut acquired immuno deficiency syndrome (AIDS). “Ternyata angka kasus HIV di Bali sangat tinggi ya. Apakah mereka yang sudah terinfeksi tidak diisolasi saja biar tidak menyebar ke anggota masyarakat yang belum terkena,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jawab bahwa hal itu sangat bertentangan dengan Hak Asasi Manusia (HAM), laki-laki itu menjawab tanpa beban. “Ya, kalau kita kaitkan dengan masalah HAM persoalan ini tidak akan selesai,” katanya santai. Saya terdiam mendengar pernyataan pria itu. “Begitu mudahkah kebebasan orang dirampas hanya karena statusnya positif HIV?” tanya saya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan lain dalam penyuluhan di salah satu institusi pemerintah, tanggapan salah satu peserta membuat saya kaget. “Sebaiknya orang yang terinfeksi HIV diberi semacam label atau tanda bahwa dia terinfeksi HIV,” katanya. Pertanyaan kemudian muncul dari pengalaman saya di atas, “Apakah isolasi dan pemberian label pada Orang dengan HIV/AIDS (Odha) juga menyelesaikan masalah?” Jelas tidak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal pertama Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) PBB menyebut, “Semua orang dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak-hak yang sama.”  Pasal 3 berbunyi, “Setiap orang berhak atas kehidupan, kebebasan dan keselamatan sebagai individu”. Apabila kita kaitkan dengan masalah di atas jelas bahwa Odha mempunyai hak yang sama seperti orang yang tidak terinfeksi HIV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah mengurung Odha dalam ruangan atau akan menyelesaikan masalah? Apakah pemberian label pada Odha manusiawi? Bagaimana apabila hal ini terjadi pada  istri, anak, pacar atau bahkan keluarga kita? Apakah kita akan “mengurung” mereka? Atau kita dengan tega memberikan label kepada mereka, “Saya terinfeksi HIV”!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita melakukan hal itu berarti kita mengulang kembali masalah awal di mana Odha akan merasa tersisih, terpinggirkan, dan mereka tidak akan mau terbuka terkait dengan status HIV. Ini akan jadi masalah lebih rumit lagi. Pada akhirnya kita hanya bisa menebak kasus-kasus HIV yang tersembunyi jauh lebih besar karena ketakutan Odha terhadap pengucilan atau pengisolasian yang terjadi di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak ditemukannya kasus HIV pertama di Indonesia pada 1987 sampai sekarang, seharusnya masalah seperti ini tidak perlu terjadi lagi. Sudah 19 tahun pemerintah menjalankan program penanggulangan HIV/AIDS tetapi hal ini masih sering terjadi di masyarakat kita. Hal yang seharusnya terjadi adalah bagaimana kita menanggulangi masalah ini secara bijak tanpa melukai hak maupun perasaan teman-teman Odha. Ini pun juga berlaku pada Odha di mana mereka bisa menjaga status mereka agar tidak menularkan HIV pada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya pendekatan dan penyadaran seperti ini jauh lebih manusiawi dibandingkan kita harus mengurung mereka dalam “sangkar” dan memberikan mereka “label”. Bagi saya hal ini tidak menyelesaikan malah justru menambah masalah. Kita malah mundur jauh beberapa langkah dari apa yang sudah kita lakukan. Teman-teman Odha sudah “terpuruk” dengan keadaan yang mereka alami, apakah kita akan menindas  mereka sampai benar-benar “tiarap” tanpa memikirkan perasaan mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu kita tahu bahwa semua Odha tidak pernah bercita-cita jadi Odha. Mereka semua mempunyai cita-cita yang sama seperti orang yang bukan HIV sewaktu mereka kecil. Tapi kenyataan berkata lain. Mereka harus menerima keadaan yang tidak pernah mereka bayangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, masih adanya kesalahpahaman tentang HIV/AIDS ini muncul akibat kurangya minat dan kepedulian masyarakat pada masalah HIV/AIDS. Hal ini saya lihat pada kegiatan kampanye penyebaran informasi HIV dan AIDS yang dilakukan 5 Desember 2006 lalu. Sepanjang jalan yang saya lewati, sebagian brosur yang disebar oleh teman-teman dari LSM dan Kelompok Dampingan Sebaya (KDS) banyak yang tercecer atau berserakan. Pemandangan itu sangat memprihatinkan bagi saya. Sebab itu menunjukkan masyarakat belum tertarik membaca informasi tentang HIV/AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini mengundang tanya pada diri saya. Apakah masyarakat kita memang sudah paham sehingga tidak memerlukan informasi HIV/AIDS? Ataukah memang nilai kepedulian masyarakat kita terhadap masalah ini memang kalah jauh dibandingkan dengan informasi selebritis yang setiap harinya menghiasi media-media massa kita?  Padahal saat ini kita sedang berada dalam sebuah ancaman serius yang sewaktu-waktu bisa “melenyapkan” satu per satu generasi muda kita. Sayang memang kadang niat baik tidak sepenuhnya bisa diterima dengan baik. Padahal informasi tersebut adalah hal berharga yang seharusnya bisa dipahami, dimengerti, dan didukung oleh semua lapisan masyarakat. Sebab kalau tidak maka program-program pemerintah dan LSM akan sia-sia saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk diketahui bahwa Bali sering dijadikan acuan oleh provinsi-provinsi lain di Indonesia terkait program-program pencegahan HIV/AIDS. Ini berarti program yang selama ini dilakukan sudah tepat dan bermanfaat. Yang perlu kita lakukan adalah bagaimana mendukung dan berperan dalam program yang sudah ada maupun yang akan dikembangkan untuk memotong laju epidemi HIV di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memperingati hari HAM 10 Desember ini kita seharusnya lebih mengerti dan paham bahwa setiap orang mempunyai hak-hak yang sama. Seharusnya kita saling  mengerti dan memahami terhadap perbedaan-perbedaan yang terjadi di kehidupan kita. Perbedaan memang sering kita alami sebagai manusia karena kalau kita tidak mengalami hal ini berarti kita tidak hidup melainkan mati. Jadi kita tidak harus merampas kemerdekaan hidup, kebebasan bergaul antara satu manusia dengan manusia lainnya karena setiap manusia dilahirkan mempunyai hak dan hati nurani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu mari kita saling bergandengan tangan, bergaul satu dengan yang lain tanpa memandang ras,  warna kulit,  jenis kelamin,  bahasa,  agama,  ataupun status mereka untuk mewujudkan semangat persaudaraan. [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-5890921597368698526?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/5890921597368698526/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=5890921597368698526&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/5890921597368698526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/5890921597368698526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/12/isolasi-dan-label-bagi-odha-bukan.html' title='Isolasi dan Label bagi Odha Bukan Solusi'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-963244024203977361</id><published>2006-12-11T17:43:00.000+08:00</published><updated>2007-01-30T17:44:19.812+08:00</updated><title type='text'>Miras Bisa Memicu Penularan HIV</title><content type='html'>Miras Bisa Memicu Penularan HIV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[IGN Pramesemara, S.Ked, Mahasiswa FK Unud, Relawan KISARA PKBI Bali]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu terjadi suatu polemik akibat munculnya pabrik minuman keras (miras) beralkohol di Tabanan. Kalangan birokrat dan pengusaha yang terkesan pro, berbeda dengan masyarakat Bali pada umumnya yang bersikap kontra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pro beralasan untuk membantu meningkatkan retribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD), menampung tenaga kerja, mengurangi biaya devisa untuk import miras, disertai embel-embel bahwa produksinya tidak akan dijual di Bali. Disamping itu, terkutip juga suara-suara wakil rakyat yang meminta masyarakat tidak apriori dengan adanya pabrik miras tersebut. Karena kalau tidak meminum langsung hasil produksinya, tentu kita tidak akan kecanduan. Selain itu, dijanjikan pula dalam distribusinya akan selalu diawasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan yang kontra beralasan karena hal itu dapat merusak generasi muda. Dampak negatif lainnya, akses masyarakat akan makin mudah mendapatkan miras. Lambat-laun masyarakat akan memiliki ketergantungan terhadap miras, terutama generasi muda. Padahl masih maraknya peredaran miras lokal (sejenis arak atau tuak) saja sudah cukup meresahkan masyarakat Bali di mana sering menimbulkan tindakan kriminal hingga bentrokan pemuda antardesa pakraman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai perbandingan, hendaknya kita sama-sama berkilas balik ke belakang. Masihkah ingat terhadap realita penyalahgunaan arak methanol? Kasus ini sempat menjadi topik bahasan utama gambaran efek negatif miras. Pada akhirnya generasi muda yang jadi korban utama. Kembali lagi sejalan waktu, fakta itu seakan perlahan-lahan menguap menghilang dan yang tersisa hanya cerita, tanpa kita tahu bagaimana penyelesaiannya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, marilah kita lihat dan menganalisa kedua fenomena miras di atas secara seksama dan dengan pertimbangan akal sehat. Kenapa miras harus kita perdebatkan? Yakinkah, apakah betul akan tercapai dampak positifnya? Sedikit berlogika, cobalah kita membandingkannya! Seberapa banyak peningkatan  PAD yang Bali bisa dapatkan dari keberadaan miras? Apakah mampu mengimbangi dampak negatif miras terhadap generasi muda Bali nantinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pun bungkus kemasannya, miras ya tetap minuman keras! Minuman mengandung alkohol di mana ideal penggunaannya hanya untuk hal-hal yang berindikasikan medis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkohol sebagai bahan utama miras termasuk kedalam golongan Narkotika, Alkohol, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) yang diharamkan keberadaannya. Napza adalah zat-zat kimiawi baik bersifat natural maupun sintetik yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia, secara oral melalui mulut mau pun dihirup melalui hidung. Penggunaan Napza secara berkelanjutan akan mengakibatkan ketergantungan secara fisik dan atau psikologis serta kerusakan pada sistem syaraf (otak) dan organ-organ otonom (jantung, paru, ginjal, hati, lambung dan pankreas). Apabila ketergantungan terhadap alkohol sudah terjadi, keadaan ini secara lebih khusus disebut Alkoholisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkohol merupakan zat psikoaktif paling berbahaya! Wujudnya berupa cairan yang mengandung etanol (etil-alkohol) yang mampu menekan syaraf pusat, mempengaruhi fungsi faal tubuh maupun perilaku seseorang, mengubah suasana hati dan perasaan. Alkohol bersifat menenangkan, menghilangkan rasa sakit dan membius, tetapi juga dapat merangsang dan rasa gembira yang berlebihan. Alkohol mempengaruhi sistem syaraf pusat sedemikian rupa sehingga kontrol perilaku seseorang menjadi berkurang. Efek alkohol tidaklah sama pada semua orang, melainkan sangat dipengaruhi oleh faktor fisik, mental, dan lingkungan sekitarnya. Banyak pendapat ahli yang mengatakan bahwa bahaya alkohol jauh lebih besar daripada obat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, tidak mengherankan jika penggunaan miras sangat berisiko menimbulkan masalah masyarakat lebih lanjut. Setelah minum miras, kontrol psikososial seseorang akan hilang! Selain sebagai pemicu timbulnya tindakan kriminal dan kecelakaan lalu-lintas, miras juga secara tidak langsung mempercepat penyebaran HIV, virus penyebab AIDS. Tindakan-tindakan negatif yang beresiko terhadap penularan HIV/AIDS, seperti penyalahgunaan napza dan hubungan seks yang bebas bertukar pasangan pun semakin mudah terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lebih dari 44 juta orang di dunia yang terinfeksi HIV dan lebih dari 25 juta orang yang meninggal dunia karena AIDS (WHO, 2006). Di Indonesia, menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia terdapat sekitar 11.000 penduduk Indonesia yang positif terinfeksi HIV dengan sekitar 1600 orang yang meninggal dunia karena AIDS. Saat ini di seluruh dunia sebagian besar kasus HIV/AIDS bersumber dari penyalahgunaan Napza terutama pengunaan jarum suntik sekitar 47 persen dan hubungan seks tanpa alat pengaman kira-kira 36 persen (WHO, 2006). Kasus HIV/AIDS di Bali memakan korban utama dari kalangan remaja dengan rentang usia 10-29 tahun sekitar 57 persen. (Kisara, 2006).      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari analisa sederhana ini, disimpulkan dampak negatif miras jauh lebih besar dari pada dampak positifnya. Selayaknya semua pihak bersatu-padu, bahu-membahu mengatasi masalah miras dalam berbagai bentuk operasionalnya. Selain itu, pembangunan pabrik miras sangatlah bertentangan dengan adat-istiadat dan nilai-nilai spiritual masyarakat Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka seyogyanya kita mulai mengubah sikap, berperilaku, dan berpikir aman dan sehat. Janganlah hanya memandang keuntungan segelintir pihak ataupun kenikmatan sesaat saja. Karena kalau dibiarkan maka inilah pertanda genderang lonceng kehancuran generasi penerus bangsa mulai ditabuhkan. [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-963244024203977361?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/963244024203977361/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=963244024203977361&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/963244024203977361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/963244024203977361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/12/miras-bisa-memicu-penularan-hiv.html' title='Miras Bisa Memicu Penularan HIV'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-1417520435250593929</id><published>2006-12-10T17:41:00.000+08:00</published><updated>2007-01-30T17:43:11.155+08:00</updated><title type='text'>Program Harm Reduction di Lapas Kerobokan</title><content type='html'>Program Harm Reduction di Lapas Kerobokan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[dr AA Gede Hartawan, Ketua Pokja Lapas Klas IIA Kerbokan Denpasar]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga September lalu, lebih dari 50 persen warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIA Kerobokan berasal dari kasus narkoba. Tindak pidananya bermacam-macam. Ada yang karena penguasaan, pengedar, maupun pemakaian. Sekitar 50 hingga 75 warga binaan adalah bekas injecting drug user (IDU) atau pengguna narkoba suntik (penasun). Data tersebut menunjukkan bagaimana prosentase mantan IDU di penjara terbesar di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi penasun, berhenti menggunakan narkoba bukan hal mudah. Memang ada sebagian pecandu narkoba yang bisa berhenti begitu saja. Namun lebih banyak mereka yang bisa berhenti melalui program terapi rehabilitasi maupun substitusi. Karena itulah Lapas Kerobokan pun melaksanakan program bagi mantan pecandu ini. Slain dilaksanakan Kelompok Kerja (Pokja) Lapas Kerobokan sendiri, program ini juga dibantu lembaga swadaya masyarakat (LSM) penanggulangan HIV/AIDS dan narkoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program bagi mantan pecandu dilakukan selain untuk menghilangkan ketergantungannya pada narkoba juga untuk menekan laju penularan HIV di kalangan IDU. Sebab, sampai saat ini, penularan HIV di kalangan IDU masih yang terbesar. Menurut data Dinas Kesehatan Provinsi Bali per September lalu ada 1136 kasus HIV/AIDS di Bali. Dari jumlah tersebut, penularan paling besar, sekitar 45 persen dari pemakaian jarum suntik tidak steril. Inilah pentingnya program bagi mantan pecandu di Lapas Kerobokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program bagi mantan pecandu tersebut ada narcotic anonymous (NA) meeting yang sampai saat ini masih dilakukan Yayasan Permata Hati Kita (Yakita) Bali. NA meeting dilakukan sebagai tempat saling merawat bagi pecandu narkoba agar tidak kembali pakai narkoba (relapse).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain NA, pernah ada Cognitive Behavoiur Therapy (CBT) oleh Yayasan Kesehatan Bali (Yakeba). CBT adalah terapi untuk para pecandu yang perilakunya susah diubah. Perilaku yang harus diubah pecandu melalui CBT misalnya cara menghadapi keinginan untuk pakai narkoba lagi, cara mengatasi masalah, cara mengambil keputusan, atau hal lain di luar masalah ketergantungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program yang hingga saat ini terus berjalan ada pula program rumatan terapi methadone. Methadone adalah obat yang dipakai sebagai pengganti heroin karena bahan dasarnya sama. Program methadone dilakukan selain untuk mengurangi ketergantungan pecandu secara pelan-pelan juga untuk menghilangkan kebiasaan pecandu menyuntikkan heroin. Program methdaone juga untuk mengurangi akibat lebih buruk (harm reduction) akibat menyuntik, misalnya penularan HIV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harm reduction merupakan upaya untuk mengurangi dampak buruk akibat pemakaian narkoba. Secara nasional, program ini sudah disepakati antara Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional serta beberapa anggota pemerintah daerah pada 19 Januari 2004 melalui Komitmen Sentani. Di Bali, Komitmen Sanur pun menyetujui adanya program ini. Beberapa kegiatan harm redutin ini termasuk di antara program pertukaran jarum suntik dan terapi substitusi methadone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mengendalikan epidemi HIV di kalangan penasun, tak satu pun elemen tunggal yang akan efektif. Penanggulangan HIV ini harus dilakukan melalui semua kelompok paling kecil sekali pun seperti banjar, sekolah, hingga Lapas itu sendiri. Inilah latar belakang kenapa harm reduction juga dilakukan di Lapas Kerobokan. Sampai saat ini kegiatan yang dilakukan adalah terapi substitusi methadone. Sedangna pembagian jarum suntik steril tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumatan methadone di Lapas Kerobokan dilakukan sejak Agustus 2005. Ketika baru dibuka sudah ada 56 klien yang ikut program ini. Total klien yang pernah ikut program ini 69 orang. Saat ini masih ada 42 warga binaan yang ikut. Untuk minum methadone, klien harus tepat waktu setiap hari. Program ini juga dilakukan sebagai pintu masuk bagi petugas kesehatan di Klinik Lapas untuk mengawasi kesehatan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui program rumatan methadone, petugas kesehatan di klinik Lapas Kerobokan juga mengenal, melibatkan dan sebisa mungkin mengintervensi perilaku klien agar tidak tertular atau mengurangi risiko penularan HIV. Untuk itu maka petugas kesehatan juga masuk ke dalam kelompok klien, meningkatkan pengetahuan tentang penyebaran HIV pada klien, membantu klien menilai risiko mereka tertular HIV dan memberikan berbagai pilihan sebagai alternatif perilaku yang berisiko tinggi, mendukung terjadinya perubahan perilaku klien, serta mendorong keterlibatan klien dalam advokasi pencegahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi yang diterapkan adalah menyadarkan warga binaan dengan pengetahuan tentang HIV/AIDS. Strategi ini dilakukan melalui penyuluhan-penyuluhan tentang HIV/AIDS. Misalnya apa itu HIV/AIDS, penularannya, pencegahan, hingga kesehatan reproduksi secara umum. Penyuluhan rutin ini diberikan oleh LSM penanggulangan AIDS, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Bali, maupun Pokja Lapas sendiri. Tujuannya agar tidak ada kesalahpahaman tentang HIV/AIDS. Selain itu juga untuk menghapus stigma dan diskriminasi pada orang dengan HIV/AIDS (Odha).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi kedua adalah dengan menerapkan kesinambungan program. Penjara adalah tempat orang keluar masuk. Warga binaan sering kali berganti. Karena itu perlu adanya transfer pengetahuan tentang HIV/AIDS antar-napi. Dibentuklah peer educator atau pendidik sebaya. Warga binaan yang sudah mengerti tentang HIV/AIDS memberikan pengetahuannya pada warga binaan baru. Dengan demikian, program penanggulangan AIDS di Lapas akan terus berjalan. [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-1417520435250593929?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/1417520435250593929/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=1417520435250593929&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/1417520435250593929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/1417520435250593929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/12/program-harm-reduction-di-lapas.html' title='Program Harm Reduction di Lapas Kerobokan'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-3026741758829084974</id><published>2006-12-08T17:36:00.000+08:00</published><updated>2007-01-30T17:37:36.046+08:00</updated><title type='text'>Mengenang dan Menghormati Freddy Mercury</title><content type='html'>Mengenang dan Menghormati Freddy Mercury&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Anton Muhajir, anggota Komunitas Jurnalis Peduli AIDS Bali]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana pun, sudah tiba waktunya bagi teman-teman dan fans saya di mana pun untuk mengetahui kebenaran. Saya berharap semua orang akan bergabung dengan dokter dan semua pihak untuk menanggulangi penyakit mengerikan ini,” kata Freddy Mercury di rumahnya di Kensington, London pada 23 November 1991.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentolan band legendaris Queen ini akhirnya mengaku pada publik bahwa dia positif HIV, dan sudah pada fase AIDS. Dia sudah didiagnosis positif HIV sejak 1987. Namun selama itu pula dia selalu tidak mau mengaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 24 jam setelah pernyataan tersebut, penyanyi, pemain gitar, dan pencipta lagu bernama asli Farrokh Bulsara itu meninggal akibat infeksi oportunstik. Freddy Mercury meninggal dengan harapan semua orang akan peduli pada persoalan HIV/AIDS yang membuatnya meninggal di usia muda, 45 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari AIDS Sedunia (HAS) merupakan salah satu momentum untuk mengingat orang-orang seperti Freddy Mercury. Lalu apa itu HAS?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HAS disusun dan disetujui dengan suara bulat oleh 140 negara peserta Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Dunia Menteri Kesehatan mengenai AIDS pada Januari 1988 di London, Inggris. Hari tersebut direncanakan sebagai kesempatan bagi para pemerintah, program AIDS nasional, LSM dan organisasi setempat untuk menunjukkan pentingnya mereka terlibat dalam perang terhadap AIDS dan solidaritasnya dalam upaya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pada tahun yang sama, pada pertemuan paripurna Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-38 pada 27 Oktober 1988, resolusi nomor A/RES/43/15 tentang pencegahan dan penanggulangan AIDS mencatat bahwa World Health Organization (WHO) menyatakan 1 Desember 1988 sebagai HAS. Di sana juga ditekankan pentingnya menghormati peristiwa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Momentum ini berangkat dari kesadaran bahwa HIV/AIDS sudah menjadi ancaman biologis terbesar di dunia. Setiap harinya diperkirakan muncul 14.000 infeksi baru HIV. Sebanyak 95 persen lebih berasal dari negara dengan pendapatan menengah ke bawah. Di Indonesia, saat ini diperkirakan ada 90.000- 130.000 orang dengan HIV/AIDS. Hingga 2010 diperkirakan jumlahnya meningkat jadi satu sampai lima juta orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bali termasuk satu enam provinsi yang berstatus epidemi HIV/AIDS terkonsentrasi, selain Papua, Riau, Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Di Bali, diperkirakan ada 3.000 orang telah terinfeksi HIV. Data itu hanya perkiraan. Sebab data sesungguhnya tentu lebih besar dibanig data yang tercatat. Menurut data Dinas Kesehatan Provinsi Bali per September lalu ada 1136 kasus HIV/AIDS di Bali. Dari jumlah tersebut, penularan paling besar, sekitar 45 persen dari pemakaian jarum suntik tidak steril.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari AIDS Sedunia tahun ini, secara internasional mengambil tema “Hentikan AIDS, Tepati Janji” seperti halnya tahun lalu. Berbagai acara digelar untuk memperingatinya. Di Bali, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Badung dan lembaga lain menggelar berbagai program. Mulai dari pementasan arja muani, talkshow di radio dan televisi, hingga upacara bendera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peringatan Hari AIDS Sedunia, hanya merupakan satu langkah kecil untuk mengingatkan masyarakat atas besarnya ancaman AIDS bagi dunia. Karena HIV/AIDS selalu mengintai di sekitar kita. [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-3026741758829084974?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/3026741758829084974/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=3026741758829084974&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/3026741758829084974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/3026741758829084974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/12/mengenang-dan-menghormati-freddy.html' title='Mengenang dan Menghormati Freddy Mercury'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-4148719871579313422</id><published>2006-12-07T17:39:00.000+08:00</published><updated>2007-01-30T17:40:12.378+08:00</updated><title type='text'>Perangkat Desa Menanggulangi HIV/AIDS</title><content type='html'>Perangkat Desa Menanggulangi HIV/AIDS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Anton Muhajir, anggota Komunitas Jurnalis Peduli AIDS (KJPA) Bali]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ditemukan pertama kali di Indonesia pada 1987, banyak orang melihat HIV/AIDS hanya persoalan kelompok tertentu. Waktu itu Tuti Parwati, dokter spesialis penyakit dalam di Denpasar menemukan human immunodeficiancy virus (HIV), virus penyebab sindrom menurunnya sistem kekebalan tubuh, acquired immune deficiancy syndrome (AIDS) pada seorang turis Belanda. Turis itu orientasi seksualnya homosek. Karena itu HIV/AIDS, saat itu dianggap hanya persoalan turis, orang kota, dan kelompok homoseks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktanya, epidemi ini telah menerobos batas sosial, geografis, dan orientasi seksual. Desa yang selama ini seolah-olah tak tersentuh masalah ini juga terdampak. Maka, Agustus lalu, Yayasan Citra Usadha Indonesia (YCUI), lembaga swadaya masyarakat (LSM) penanggulangan HIV/AIDS di Bali membentuk Kader Desa Peduli AIDS (KDPA). “Agar masalah ini juga melibatkan perangkat desa,” ujar Direktur Pelaksana YCUI Made Efo Suarmiartha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KDPA merupakan organisasi kader-kader desa yang peduli masalah HIV/AIDS. Ketut Sriawan, koordinator KDPA mengatakan, kegiatan KDPA yang selama ini sudah berjalan misalnya penyuluhan HIV/AIDS melalui genjek. “Penyuluhan jadi priortitas karena masih banyak warga salah paham terhadap HIV/AIDS. Misalnya merasa tidak mungkin terkena. Padahal HIV/AIDS sudah menyebar ke kelompok-kelompok tidak berisiko,” kata Terry, panggilan akrabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan utama KDPA juga menjadikan masalah infeksi menular seksual (IMS), termasuk HIV/AIDS sebagai bagian dari persoalan orang desa. Mereka yang terlibat KDPA adalah perangkat desa. Namun tujuan lainnya adalah untuk menghapus stigma bahwa masalah HIV/AIDS hanya kelompok orang “berdosa” serta mitos bahwa orang desa tidak akan tersentuh masalah ini. Sebab, fakta menunjukkan, orang desa juga rentan terdampak HIV/AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setelah melihat data kasus, ternyata kasus IMS paling banyak terjadi dari desa,” ujar Efo. Hal ini, menurutnya, karena orang-orang desa punya mobilitas tinggi. Pekerjaan sebagai tukang dan sopir membuat mereka sering berpindah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobilitas ini ada hubungannya dengan kondisi desa mereka. Makin kering dan terpencil, makin banyak penduduk desa itu yang merantau dan memiliki perilaku berisiko tinggi. Jangkauan YCUI pun lebih banyak di daerah. Semula mereka lebih fokus di Kuta, Sanur, dan Denpasar. Nyatanya, masalah juga terjadi di Ubud, Karangasem, Candi Dasa, hingga Lovina. Maka wilayah jangkauan mereka pun ada di daerah terpencil seperti kabupaten Badung, Karangasem, Jembrana, dan Buleleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjangkauan ke desa ini juga dilakukan karena biasanya kelompok berisiko tinggi ini kembali ke desa setelah sakit. Masalahnya, kurangnya pengetahuan tentang HIV/AIDS membuat orang-orang desa ini tak sadar mereka positif HIV, bahkan sudah pada fase AIDS. Mereka menghubungkan sakit mereka dengan persoalan non-medis. “Kalau sakit tidak sembuh-sembuh, mereka berpikir hal itu karena guna-guna atau semacamnya. Apalagi di Bali masih kuat anggapan seperti itu,” kata Efo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa mereka sadari, mereka yang sudah positif HIV atau IMS lain ini menularkan ke istri. Dari istri menular ke anak. Dengan cepat, HIV menular ke orang-orang yang tak pernah melakukan perilaku berisiko tinggi. Efo mencotohkan, saat ini YCUI melalui kelompok dampingan Suryakanta sedang mendampingi sekitar 23 anak yatim piatu di daerah Gerokgak, Buleleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua mereka meninggal karena infeksi oprotunistik (IO) akibat HIV/AIDS. Bahkan, ada dua anak yang saat ini telah tertular HIV/AIDS. Anak-anak yang sebagian besar masih balita itu kini harus tinggal bersama nenek atau bibinya. Lokasi yang jauh di desa membuat mereka lebih susah mendapat layanan kesehatan. Maka, petugas kesehatan di Puskesmas setempat yang harus menjangkau ke rumah-rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak dan ibu yang tertular di desa-desa itu menunjukkan bahwa perempuan dan anak pun jadi korban. “Lalu apa kita hanya akan diam dan menyalahkan mereka yang tak bersalah ini?” tanya Efo. [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-4148719871579313422?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/4148719871579313422/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=4148719871579313422&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/4148719871579313422'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/4148719871579313422'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/12/perangkat-desa-menanggulangi-hivaids.html' title='Perangkat Desa Menanggulangi HIV/AIDS'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-4332975710507873507</id><published>2006-12-06T16:34:00.000+08:00</published><updated>2007-01-30T17:36:07.831+08:00</updated><title type='text'>Musisi Bali Turut Peduli</title><content type='html'>Musisi Bali Turut Peduli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Luh De Suriyani, anggota Komunitas Jurnalis Peduli AIDS Bali]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musisi Bali pun peduli penanggulangan HIV/AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerimis di sentral parkir Kuta tidak menghalangi sekitar 1000 penonton awal Desember tahun lalu. Saat itu Rock on for AIDS (RofA) pertama kali diadakan. Dari namanya jelas terlihat konser dari pagi hingga malam itu memang diadakan dalam rangka kampanye penanggulangan HIV/AIDS di Bali. Di tengah konser, penonton bersama-sama meniup kondom, alat pencegah penularan HIV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski konser amal, puluhan artis dan band Bali dengan senang hati terlibat kegiatan itu. Antara lain Ladies Room, XXX, Naviculla, dan Superman is Dead (SID). Boomerang dari Jakarta dan Dewa Suwija dari Inggris juga sampai mau datang untuk mendukung konser tersebut. Agar info tentang HIV/AIDS juga sampai, tiap jeda grup yang tampil diselingi informasi tentang HIV/AIDS. Misalnya bahwa HIV/AIDS tidak menular lewat kontak sosial seperti jabatan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melibatkan musisi merupakan hal baru dalam kampanye HIV/AIDS di Bali. Menurut Mercya Soesanto, media relation officer (MRO) Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Bali sekaligus penggagas RofA, keterlibatan artis penting dalam kampanye karena suara mereka lebih bisa didengar. “Juga agar musisi sadar bahwa HIV/AIDS juga persoalan kita bersama,” katanya. Sebab, musisi punya massa tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan ini dibenarkan Jerinx, drummer SID yang mendukung RofA. Dia mengaku mau memberikan kontribusi penanggulangan HIV/AIDS karena dunia yang makin pada hedonis. “Kita dituntut tanggung jawab karena kita punya massa. Mereka mendengar musik dan lirik kita. Masalahnya anak muda tidak mau digurui. Jadi ya, kita sambil bercanda dan santai,” katanya waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain melalui konser RofA, beberapa band di Bali juga secara tegas menjadikan masalah HIV/AIDS sebagai kampanye ketika tampil. Ladies Room salah satunya. Band yang seluruh personilnya perempuan dan aktif di Kisara ini selalu memberikan pesan tentang perlunya pencegahan HIV/AIDS dan penanggulangan narkoba. Ada pula Pandawa, band remaja, yang sudah jadi ikon kampanye penanggulangan HIV/AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain band yang sudah punya nama itu, ada pula band-band baru yang menyelipkan info tentang HIV/AIDS saat tampil. Hal ini dilakukan The Wankers yang sering main di bar-bar di Kuta. “Kami akan memberikan informasi HIV/AIDS sebatas yang kami mampu,” kata Konok, salah satu personel band The Wankers. Konok yang mantan pecandu narkoba itu hafal benar apa itu HIV, bagaimana penularan, hingga cara pencegahannya.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau band-band di atas menjadikan HIV/AIDS sebagai “selingan”, ada pula band yang dibentuk khusus untuk kampanye HIV/AIDS. Maklum, band ini memang dibentuk oleh aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) penanggulangan HIV/AIDS. “Kami senang disebut sebagai band spesialis HIV/AIDS,” ujar Moyong, pentolan Yake Band, nama band tersebut. Band amatir ini pun tampilnya ya tak jauh-jauh dari kegiatan-kegiatan penanggulangan HIV/AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah profesional entah amatir, semua band itu menunjukkan bahwa musisi Bali pun tak ketinggalan dalam penanggulangan HIV/AIDS. [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-4332975710507873507?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/4332975710507873507/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=4332975710507873507&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/4332975710507873507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/4332975710507873507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/12/musisi-bali-turut-peduli.html' title='Musisi Bali Turut Peduli'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-2625887622841176026</id><published>2006-12-05T18:33:00.000+08:00</published><updated>2007-01-30T17:34:15.402+08:00</updated><title type='text'>Antara Musisi, TNC, dan HIV/AIDS</title><content type='html'>Antara Musisi, TNC, dan HIV/AIDS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Anton Muhajir, anggota Komunitas Jurnalis Peduli AIDS Bali]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musisi dan trans-national corporation (TNC) turut dalam penanggulangan HIV/AIDS. Bono, Elton John, Microsoft, dan Apple hanya beberapa contoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapitalisme itu ibarat Dewa Janus. Dia bermata dua. Bagi pengritiknya, kapitalisme tak lebih sebagai alat mengeksploitasi buruh. Kapitalisme juga melebarkan jurang antara negara maju dengan negara berkembang. Tenaga kerja murah, sumber alam berlimpah, dan sistem ekonomi yang hanya mendukung pengusaha melahirkan kecemburuan tak berkesudahan antara si miskin dan si kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, ah, sudahlah. Jangan sinis-sinis amat. Toh, kapitalisme juga melahirkan Nokia yang memudahkan kita berhubungan dengan pacar, suami, istri, atau orang lain. Kapitalisme bersama anaknya bernama globalisasi juga menghasilkan internet yang memudahkan kita berhubungan dengan teman di negara yang kita mungkin tak akan pernah ke sana seumur hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, bagi Bono, ikon-ikon kapitalisme juga bisa jadi alat agar konsumen peduli pada penderitaan orang lain. Karena itu vokalis U2 tersebut melahirkan kampanye Product RED, proyek yang bertujuan menggalang dana dalam penanggulangan AIDS, TBC, dan malaria. Bono bersama Bob Geldof sebelumnya juga dikenal gencar mengampanyekan penghapusan utang melalui Konser Live 8. Konser ini digelar saat pertemuan tingkat tinggi G8, kelompok delapan negara maju di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak ditemukan pada 1984 human immunodeficiancy virus/acquired immune deficiancy syndrome (HIV/AIDS) atau sindrom akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh ini memang secara simultan menarik perhatian berbagai kalangan. Semula persoalan ini dianggap hanya persoalan kesehatan. Namun setelah epidemi ini makin tak terkendali pada dekade 1990an, banyak orang sadar perlu pendekatan semua kalangan untuk menanggulangi HIV/AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya kebijakan politik, keterlibatan selebritis, termasuk musisi juga penting dalam penanggulangan HIV/AIDS. Bono hanya salah satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bono meluncurkan kampanye Product RED pada Oktober lalu bersama Bobby Shriver dan Oprah Winfrey. Program ini, sekali lagi, bertujuan menggalang dana penanggulangan tiga epidemi yang mengancam dunia tersebut. Caranya dengan menyumbang keuntungan beberapa produk ternama ikon kapitalisme seperti American Express, Converse, Giorgio Armani, dan Gap. Empat perusahaan itu merupakan trans-national corporation (TNC), pilar penting kapitalisme. Produk yang dijual antara lain sepatu tenis, kaca mata dan kaos, yang berlabel Product RED.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat TNC itu berkomitmen menyumbangkan keuntungannya hingga 40 persen pada Global Fund, lembaga donor penanggulangan HIV/AIDS yang juga membantu beberapa lembaga di Bali, termasuk Dinas Kesehatan Provinsi Bali. Program ini akan berlangsung selama lima tahun sejak diluncurkan. Jadi kalau Anda membeli sepatu Converse, misalnya, secara tidak langsung telah membantu penanggulangan HIV/AIDS di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain berkampanye lewat Oprah Winfrey, talk show termashur dunia itu, Bono bersama Winfrey juga melakukannya sambil berbelanja. Karena itu kampanye ini segera menarik selebritis lain termasuk Penelope Cruz, Jennifer Garner, Chris Rock, Maria Shriver, dan Steven Spielberg untuk terlibat. Mereka akan mempromosikan dan mewakili sejumlah produk pendukung kampanye Product RED.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Product RED kemudian juga didukung Motorola dan Apple. Apple, produsen komputer saingan berat Microsoft dan pendukung open source, bahkan membuat iPod nano RED Special Edition. "Pecinta Apple kini memiliki kesempatan untuk memiliki iPod nano sekaligus membantu perempuan dan anak-anak yang terinfeksi HIV/AIDS di Afrika," ujar Bono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dana yang diperoleh dari kampanye Product RED memang akan dialokasikan untuk penanganan tes HIV dan perawatan perempuan dan anak positif HIV di Rwanda serta mendukung anak yatim piatu korban AIDS di Swaziland, Afrika. Menurut Direktur Eksekutif Global Fund Richard Feachem, sejak Februari hingga September lalu, Product RED sudah berhasil mengumpulkan dana hingga $10 juta di Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterlibatan Apple, produsen ipod, dalam penanggulangan HIV/AIDS jadi bahan diskusi tersendiri. Sebab Apple selama ini dikenal sebagai saingan utama perusahaan Microsoft. Tapi persaingan itu melebur ketika keduanya terlibat dalam penanggulangan HIV/AIDS. Bill Gates, bos besar Microsoft, hadir saat Konferensi Internasional AIDS di  Toronto, Kanada Agustus lalu. Bersama Melinda, istrinya, Bill Gates juga mendirikan yayasan penanggulangan HIV/AIDS di Afrika dan Asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun cerita keterlibatan Microsoft sudah dilakukan sebelumnya. Pada September 2001, Microsoft meluncurkan MSN Money AIDS Market Challenge yang melibatkan musisi pop Elton John. Kegiatan ini dilakukan untuk mengumpulkan dana bagi pendidikan, pencegahan, dan penanggulangan HIV/AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caranya dengan melibatkan konsumen yang masuk ke CNBC di MSN Money. Sambil belajar bagaimana mengembangkan kemampuan mengelola saham, tiap orang yang masuk dan ikut, akan menyumbangkan 50 sen pada Elton John AIDS Foundation. Yayasan ini didirikan Elton John pada 1992 untuk membiayai pendidikan pencegahan HIV/AIDS serta melayani pasien HIV/AIDS secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tergerak untuk menerima Market Challenge MSN dan mendorong tiap orang terlibat serta mengetes kemampuan mereka di pasar saham,” kata Elton John. “Kami juga sangat menghargai dukungan Microsoft dalam penanggulangan HIV/AIDS,” tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Bono dan Elton John memanfaatkan (atau dimanfaatkan ya?) TNC , maka Carlos Santana memilih cara lain. Gitaris keturunan Amerika Latin ini mengumpulkan dana hingga $2 juta untuk Kelompok AIDS Afrika Selatan melalui Konser Tour 23 Kota. Tour itu berakhir pertengahan Juli 2003 di Los Angeles. Carlos, mungkin artis pertama yang seluruh hasil konsernya disumbangkan untuk amal. Melalui Artist for a New South Africa’s Amandla AIDS Fund (ANSA), dana itu akan digunakan untuk pencegahan dan pengobatan orang dengan HIV/AIDS (Odha) di Afrika Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Carlos, jagoan gitar itu, juga mengampanyekan virus spiritual untuk berempati pada orang yang positif HIV. Dalam konser tersebut, Carlos Santana menyampaikan informasi tentang ANSA dan HIV/AIDS secara umum. Di beberapa kota, anggota ANSA diberi kesempatan berbicara tentang HIV/AIDS. "Karena Anda semua, akan ada pendidikan, pencegahan, dan pengobatan HIV/AIDS. Terima kasih telah datang bersama hati yang tulus dan energi Anda,” kata Santana pada konser terakhir di Los Angeles.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya musisi rock dan pop, pemain instrumentalia Tim Janis pun terlibat dalam aksi peduli HIV/AIDS. Melalui konser Symphony of Hope, Janis bersama Church World Service, lembaga kemanusiaan berpusat di Amerika Serikat, mengumpulkan dana bagi penanggulangan HIV/AIDS di Afrika Selatan. Diperkirakan satu dari lima orang dewasa di Afrika Selatan positif HIV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada salah satu konsernya, Janis bahkan berkolaborasi dengan paduan suara perempuan positif HIV. Seperti halnya Bono yang melakukan ke berbagai negara di Afrika dalam rangka mendukung penanggulangan HIV/AIDS, ketika di Afrika Selatan, Janis juga mengunjungi proyek penanggulangan AIDS di negara tersebut. Untuk jangka panjang, hasil penjualan CD saat konsernya akan disumbangkan melalui Church World Service. Janis juga pernah terlibat dalam peringatan Hari AIDS Sedunia di New York, Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari AIDS Se-Dunia (HAS) merupakan momentum bagi semua kalangan untuk terlibat dalam penanggulangan HIV/AIDS. Momen tiap tahun ini dilakukan untuk mengenang dan menghormati mereka yang sudah meninggal ataun sedang berjuang menghadapi HIV/AIDS. Pada peringatan HAS 2003, puluhan musisi berdarah Afrika terlibat kegiatan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara sekian keterlibatan musisi dalam penanggulangan HIV/AIDS tersebut, adanya Artists Against AIDS Worldwide (AAAW), mungkin paling fenomenal. Sebab, organisasi ini melibatkan puluhan artis atau grup ternama dunia seperti Bono, Christina Aguilera, Backstreet Boys, Destiny's Child, Ja Rule, REM, Lil' Kim, Staind, NAS, Jennifer Lopez, NSYNC, No Doubt, hingga Britney Spears. Mereka membuat kompilasi sembilan lagu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami berharap ini bisa menarik orang untuk membeli CD yang hasilnya akan diberikan pada program penanggulangan HIV/AIDS. Sebab epedemi ini telah menyebar ke hampir semua negara dan akibatnya mengejutkan,” kata Leigh Blake, pendiri AAAW sekaligus produser album kompilasi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pop, instumentalia, dance mix, hingga heavy metal semua aliran musik terlibat dalam penanggulangan HIV/AIDS. [***].&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-2625887622841176026?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/2625887622841176026/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=2625887622841176026&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/2625887622841176026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/2625887622841176026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/12/antara-musisi-tnc-dan-hivaids.html' title='Antara Musisi, TNC, dan HIV/AIDS'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-8184814810845505206</id><published>2006-12-02T17:18:00.000+08:00</published><updated>2007-01-30T17:29:44.173+08:00</updated><title type='text'>Stop AIDS! Saatnya Kita Melayani</title><content type='html'>Stop AIDS! Saatnya Kita Melayani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Made Putri Ayu Rasmini, relawan Sobat dan Kisara Bali]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari AIDS Sedunia (HAS) yang jatuh tiap 1 Desember diperingati untuk menumbuhkan kesadaran terhadap wabah acquired immune deficiancy syndrome (AIDS) atau sindrom menurunnya sistem kekebalan tubuh di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran human immunodeficiancy virus (HIV).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HAS disusun dan disetujui dengan suara bulat oleh 140 negara peserta Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Dunia Menteri Kesehatan mengenai AIDS pada Januari 1988 di London, Inggris. Hari tersebut direncanakan sebagai kesempatan bagi para pemerintah, program AIDS nasional, LSM dan organisasi setempat untuk menunjukkan pentingnya mereka terlibat dalam perang terhadap AIDS dan solidaritasnya dalam upaya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pada tahun yang sama, pada pertemuan paripurna Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-38 pada 27 Oktober 1988, lembaga tertinggi dunia itu membuat resolusi nomor A/RES/43/15. Melalui resolusi tentang pencegahan dan penanggulangan AIDS ini World Health Organization (WHO) menyatakan 1 Desember 1988 sebagai HAS. Di sana juga ditekankan pentingnya menghormati peristiwa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Momentum ini berangkat dari kesadaran bahwa HIV/AIDS sudah menjadi ancaman biologis terbesar di dunia. Setiap harinya diperkirakan muncul 14.000 infeksi baru HIV. Sebanyak 95 persen lebih berasal dari negara dengan pendapatan menengah ke bawah. Di Indonesia, saat ini diperkirakan ada 90.000-130.000 orang dengan HIV/AIDS. Hingga 2010 diperkirakan jumlahnya meningkat jadi satu sampai lima juta orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1998, ketika HAS diperingati pertama kali, temanya adalah Join the Worldwide Effort (Ikuti Usaha Kami Bersama). Tiap tahun, tema kegiatan ini berganti-ganti. Dua tahun terakhir, WHO menetapkan tema Stop AIDS Keep The Promise. Bedanya, tahun ini diberi tambahan "Stop AIDS! Saatnya Kita Melayani". Melalui tema tersebut, kita diingatkan bahwa pencegahan terhadap epidemi HIV/AIDS harus terus dilakukan dengan mengoptimalkan layanan Voluntary Counseling and Testing (VCT) dan Care, Support, and Treatment (CST) atau perawatan, dukungan, dan pengobatan bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema tersebut sangat mengena karena VCT dan CST merupakan dua hal yang penting dalam penanggulangan AIDS. VCT adalah program yang dilakukan untuk memberikan konseling dan tes secara suka rela pada orang yang berisiko tertular HIV. Sedangkan CST dilakukan pada orang yang sudah positif HIV. Tujuannya sama, menanggulangi epidemi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah negara seperti Brasil berhasil menurunkan prevalensi HIV/AIDS. Negara ini memasukkan program terapi antiretroviral (ART) dalam kebijakan nasional mereka sejak 2003 sehingga ODHA di sana dapat tetap hidup dan berkarya. Selain itu, Brasil pun mengimplementasikan sejumlah strategi harm reduction, yakni program penjangkauan dengan pertukaran jarum suntik steril, terapi narkoba dengan substitusi oral seperti metadon, serta dukungan dan perawatan, dan pengobatan bagi penasun. Akses jarum suntik yang steril pun dibuat semudah mungkin sehingga kemungkinan penggunaan jarum suntik secara bersamaan dalam komunitas penasun dapat dihindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski pun sampai saat ini belum ada obat untuk HIV/AIDS, setidaknya melalui CST, di antaranya layanan terapi antiretroviral (ART) maka kesehatan ODHA dapat berlangsung lama. Sudah tentu, keberhasilan anti-retroviral (ARV) untuk meningkatkan kesehatan ODHA tergantung pada kepatuhan dan kontinuitas pengobatan. Dalam hal ini, obat harus diminum seumur hidup. Tak kalah penting tentang pemahaman efek samping, banyak dari mereka menghentikan terapi karena belum paham tentang efek samping. Hal ini seharusnya diinformasikan sebelum memulai terapi. Dengan intervensi yang cocok pada ODHA tentang pemahaman efek samping, maka akan mendorong kepatuhan mereka minum ARV Serta memberantas mitos dan persepsi yang salah tentang ART.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Butuh kedisiplinan dari ODHA untuk terus meminum obat tanpa terputus, Karena hal ini merupakan tantangan yang berat untuk ODHA. Untuk itu, menurut saya keberadaan seorang Sobat sangat dibutuhkan. Sobat adalah salah satu program untuk mendukung Odha patuh minum ARV. Sebab ODHA butuh dukungan yang berkesinambungan dan semangat besar agar meneruskan terapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, akses untuk ARV pun harus dipermudah. Apalagi harga ARV cukup mahal. Tidak semua ODHA cukup mampu membeli obat. Sehingga untuk menjamin pasokan ARV bagi ODHA, intervensi pemerintah dibutuhkan. Misalnya dalam hal subsidi harga jika memang pemerintah tidak bisa menggratiskan. Hingga saat ini, pemerintah masih memberikan subsidi total pada penyediaan ARV. Karena itu semua ODHA masih bisa mengaksesnya. Tapi bagaimana kalau pemerintah tak lagi memberi subsidi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, faktor petugas kesehatan juga punya peran penting dalam menjamin ODHA bisa terus hidup dan berkarya. Selama ini, masih sedikit RS dan puskesmas di Indonesia yang bersedia menerima ODHA. Parahnya, sejumlah perawat dan dokter masih ada yang memperlakukan pasien ODHA secara diskriminatif. Hal ini, jika dibiarkan, bisa berakibat fatal terhadap ODHA. ODHA akan enggan untuk memeriksakan kesehatannya sehingga kualitas hidup ODHA akan menurun dengan drastis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap diskriminatif tenaga kesehatan ini akan menggagalkan upaya pencegahan epidemi AIDS. Karena itu, kalangan tenaga kesehatan perlu mendapatkan sosialisasi informasi yang benar mengenai HIV/AIDS dan juga sejumlah pelatihan terkait dengan pencegahan HIV/AIDS. Masyarakat pun harus menghilangkan stigma yang selama ini merugikan ODHA. ODHA sama halnya dengan kita yang sehat butuh bersosialisasi, bekerja untuk mempertahankan hidupnya. [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-8184814810845505206?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/8184814810845505206/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=8184814810845505206&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/8184814810845505206'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/8184814810845505206'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2007/12/stop-aids-saatnya-kita-melayani.html' title='Stop AIDS! Saatnya Kita Melayani'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-6251583027039262678</id><published>2006-12-01T17:17:00.000+08:00</published><updated>2007-01-30T17:18:29.335+08:00</updated><title type='text'>Makin Banyak Ibu Rumah Tangga Terinfeksi HIV</title><content type='html'>Makin Banyak Ibu Rumah Tangga Terinfeksi HIV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Luh De Suriyani, anggota Komunitas Jurnalis Peduli AIDS Bali]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini umat manusia memperingati hari AIDS se-Dunia (HAS). Momentum ini berawal dari kesadaran bahwa HIV/AIDS sudah menjadi ancaman biologis terbesar di dunia. Setiap harinya diperkirakan muncul 14.000 infeksi baru HIV. Sebanyak 95 persen lebih berasal dari negara dengan pendapatan menengah ke bawah. Di Indonesia, saat ini diperkirakan ada 90.000- 130.000 orang dengan HIV/AIDS. Hingga 2010 diperkirakan jumlahnya meningkat jadi 1-5 juta orang. Bali termasuk salah satu dari 6 propinsi yang berstatus epidemi HIV/AIDS terkonsentrasi, selain Papua, Riau, Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Indonesia mulai mengenal HIV/AIDS pada 1987, ketika kasus pertama infeksi ini ditemukan di Bali. Barangkali sebelumnya infeksi ini telah ada tapi tak diketahui. Kasus pertama yang dilaporkan itu terjadi pada seorang pria asing yang telah berada pada fase AIDS, yaitu ketika sejumlah gejala penyakit menyerang tubuh karena menurunnya kekebalan tubuh akibat HIV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah hampir 19 tahun, penanggulangan HIV/AIDS masih mengkampanyekan dua hal untuk menghindari HIV yakni jangan berhubungan seks atau setia pada satu pasangan dan menghindari penggunaan narkoba suntik. Wakil Presiden Yusuf Kalla pada AIDS Walk 2006, acara jalan santai jelang peringatan Hari AIDS Internasional tahun ini masih membawa dua isu sebagai isu sentral kampanye penanggulangan AIDS. Secara eksplisit sebagian kasus infeksi HIV di Indonesia ditengarai tertular melalui hubungan seks dan penggunaan narkoba suntik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah media nasional menuliskan dua isu itu. Kembali masyarakat dibuai bahwa hanya orang yang melakukan hubungan seks tidak aman dan menggunakan narkoba suntik beresiko tinggi kena HIV. Benarkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba tengok saudara kita di ujung utara Bali. Belasan ibu rumah tangga dan anak-anak kini berjuang melawan HIV dalam tubuhnya. Sebagaian besar dari mereka bahkan tak pernah tahu apa itu narkoba, apalagi melakukan hubungan seks dengan orang lain selain pasangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yayasan Citra Usadha Indonesia (YCUI) melalui petugas penjangkaunya di sejumlah kabupaten di Bali yang membuka kasus-kasus itu ke permukaan. Sehingga membuka mata bahwa HIV/AIDS memang mulai masuk ke populasi umum. Semua orang, tanpa disadari bisa tertular HIV. Menurut data YCUI, di Kabupaten Buleleng saja yayasan ini membantu 23 anak dan balita yang menjadi yatim atau yatim piatu karena orang tuanya terinfeksi HIV. Beberapa di antara anak-anak itu juga ada yang positif HIV. Diyakini, masih banyak kasus serupa di seluruh kabupaten di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan kuncinya adalah masyarakat masih buta informasi dan terstigma bahwa orang “baik-baik” tak mungkin kena HIV. Penguatan informasi dasar pencegahan penularan virus ini harus terus digemakan. Tak cukup dengan terus mengatakan, “Hai, setia pada pasangan, jangan pake narkoba suntik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasar data Dinas Kesehatan Provinsi Bali, penggunaan narkoba suntik dan hubungan  seks memang menjadi kasus penularan HIV tertinggi. Per September 2006, dilaporkan 1136 kasus HIV/AIDS di Bali. Hampir 50 persen terjadi pada pengguna narkoba suntik. Para pengguna narkoba suntik memang menjadi fokus penjangkauan LSM dan semakin banyak dari mereka yang mulai sadar tes HIV. Itu yang berkontribusi pada tingginya kasus infeksi HIV pada pengguna narkoba suntik.  Semakin banyak dijangkau, semakin terungkap kasusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cap buruk pada orang tertentu yang mudah terinfeksi HIV harus ditinggalkan. Siapa pun bisa kena karena HIV mudah tertular melalui jalan masuk seperti darah, cairan kelamin, dan air susu ibu yang terinfeksi HIV. Akan lebih mudah menghindarinya jika semakin banyak orang yang terinfeksi HIV/AIDS (Odha) terbuka pada pasangannya, sarana dan prasarana kesehatan mendukung perawatan dan pengobatannya, dan peduli pada siapa pun yang terdampak HIV/AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komitmen Sanur, kesepakatan penanggulangan HIV/AIDS pemerintah provinsi Bali, pun masih menitikberatkan pada dua masalah tersebut: hubungan seks tidak aman dan pemakaian jarum suntik tidak steril. Tantangan bagi pemerintah dan lembaga penanggulangan AIDS untuk mencegah penularan HIV pada pasangan dan anak-anaknya. Menjangkau lebih banyak lagi populasi yang tersembunyi, dimana penularan HIV berlangsung sangat cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencegahan penularan di lingkup keluarga akan membangkitkan kepeduliaan masyarakat luas akan HIV/AIDS. Ini terjadi di sebuah desa di Buleleng, ketika sejumlah keluarga terinfeksi. Tetangga dan kerabat mereka menjadi percaya bahwa HIV begitu dekat dan mudah dihindari. Salah satunya dengan menegakkan janji untuk tes darah lebih dini dan terbuka pada pasangan. Tegakkan janji untuk melindungi diri sendiri dan orang lain. [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-6251583027039262678?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/6251583027039262678/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=6251583027039262678&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/6251583027039262678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/6251583027039262678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/12/makin-banyak-ibu-rumah-tangga.html' title='Makin Banyak Ibu Rumah Tangga Terinfeksi HIV'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-6840252959208607902</id><published>2006-11-27T17:17:00.000+08:00</published><updated>2007-01-30T17:32:01.724+08:00</updated><title type='text'>Hentikan Stigma pada Mantan Pecandu Narkoba</title><content type='html'>Hentikan Stigma pada Mantan Pecandu Narkoba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Yusuf Rey Noldy, Konselor VCT Yayasan Hatihati, Mantan Pecandu]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak disusun dan disetujui oleh 140 negara peserta Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Dunia Menteri Kesehatan pada Januari 1988 di London, Inggris, hari AIDS se-Dunia terus diperingati tiap tahun. Hari tersebut digunakan sebagai kesempatan bagi pemerintah, LSM dan organisasi lain untuk menunjukkan pentingnya terlibat dalam penanggulangan AIDS. Tahun ini, hari AIDS se-Dunia (HAS) dipertingati dengan tema sama, Tepati Janji Stop AIDS. Tepati janji ini untuk menepati janji penanggulangan AIDS pada semua kalangan, termasuk pada pecandu narkoba. Sebab kelompok ini masih mendapat cap buruk, hingga saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stigma atau cap buruk di kalangan pecandu narkoba masih jadi momok menakutkan bagi yang mengalami hal ini. Seringkali stigma muncul walau pecandu itu sudah berhenti menggunakan narkoba. Perlakuan tidak menyenangkan yang sering diterima mantan pecandu itu mulai anggapan masyarakat bahwa mereka hanya si pembuat masalah dan sumber penularan virus humman immunodeficiency virus (HIV), virus penyebab sindrom menurunnya sistem kekebalan tubuha atau acquired immune deficiancy syndrome (AIDS). Bahkan ada pecandu narkoba yang dikucilkan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua tahu bahwa pada saat mereka masih aktif menggunakan narkoba seringkali mereka membuat masalah. Entah itu berdampak pada keluarga atau bahkan pada masyarakat sekitar. Tetapi apakah kita harus terus menerus menstigma mereka padahal mereka sudah tidak berada dalam dunia kecanduan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada orang yang bercita-cita jadi pecandu, termasuk pecandu itu sendiri. Mereka juga tak pernah bercita-cita jadi Orang dengan HIV/AIDS (Odha). Mereka sama sekali tidak pernah menyangka bahwa apa yang dilakukannya selama menjadi pecandu akan mendatangkan petaka. Dunia adiksi (kecanduan) tidak mengenal suku, ras, agama, kasta, maupun pekerjaan. Bahkan hal yang boleh dibilang terhormat sekalipun tidak menjamin bisa bebas dari pengaruh narkoba. Salah dalam melangkah berarti membuka peluang kita melangkah ke dalam dunia kecanduan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum program pertukaran jarum suntik (NEP) dilakukan lembaga swadaya masyarakat (LSM), penggunaan jarum suntik secara bergantian sering dilakukan pengguna narkoba suntik (penasun). Hal inil mengakibatkan lonjakan kasus HIV/AIDS di kalangan penasun sangat tinggi. Mereka tidak menyangka perilaku penggunaan jarum suntik bergantian dengan sesama penasun jadi masalah serius bagi mereka di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi dan layanan paket pencegahan seperti jarum suntik steril terkait HIV/AIDS seperti sekarang belum tersedia pada tahun 1990. Padahal saat itu harga barang yang relatif terjangkau ditambah barang putaw (heroin) yang beredar “membanjiri” Denpasar dan Kuta. Yang terjadi adalah jumlah penasun kian melonjak dan pada akhirnya kasus HIV/AIDS “tersembunyi” di kalangan penasun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah kemudian muncul setelah satu persatu di antara penasun tersebut diketahui terinfeksi HIV/AIDS. Semua orang seperti baru sadar bahwa ada masalah serius pada kalangan penasun. Tetapi kesadaran tanpa reaksi dan tindakan nyata tidak bisa membendung laju penularan HIV di kalangan penasun. Menurut Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Bali, kasus HIV/AIDS di Bali diperkirakan ada 3000 orang. Namun sampai September 2006 kasus yang terdata ada 1136 orang. Sekitar 45 persen dari pengguna narkoba suntik (Tabloid Kulkul - Oktober 2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya kemudian adalah apakah ini sebuah keterlambatan layanan program? Atau keterlambatan kepedulian terhadap kesehatan masyarakat? Andai layanan yang tersedia seperti saat ini berlaku sejak 1990, mungkin lonjakan kasus HIV/AIDS tidak sebanyak ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya para penasun tidak mengetahui ini bakal terjadi pada mereka. Kalau mereka tahu tahu informasi HIV/AIDS seperti sekarang ini, yang gencar dikampanyekan oleh semua pihak, tentu mereka akan berpikir 1000 kali untuk mencoba memakai narkoba. Mereka pun tidak ingin menularkan virus mereka pada orang lain, tetapi karena ketidak-tahuan mereka akan informasi HIV/AIDS, tanpa sadar mereka menularkan virus itu pada sesama penasun, pacar, pasangan seks, istri dan bahkan kepada anak yang mereka sayangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar mantan pengguna narkoba kini mengabdikan dirinya di LSM penanggulangan narkoba maupun HIV/AIDS. Mereka semua menyadari bahwa apa yang dilakukan di masa lalu adalah hal yang paling menyedihkan dalam hidupnya. Tetapi mereka semua membuktikan bahwa mereka peduli dan mau ikut terlibat dalam menangani masalah ini. Masa lalu adalah pelajaran berharga bagi mereka sekaligus bisa mereka “bagikan” pada generasi muda yang masih belum tahu menahu akan dunia kecanduan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apakah stigma yang terjadi pada mantan penasun masih melekat pada Anda? Apakah kala sudah hitam selamanya pasti hitam? Mantan pecandu sudah berusaha keluar dari dunia gelap. Sekarang apakah kita siap menuntun dan menerangi mereka dengan kepedulian kasih. Tentu jawaban ini hanya Anda yang akan bisa jawab. Dukungan dari masyarakat sangat berarti bagi mereka. Sebab stigma dan diskriminasi bagaikan “ tsunami” bagi mereka. Toh mereka tidak pernah surut menjalankan aktivitas-aktivitas. Karena akvifitas tersebut merupakan kebutuhan dari pemulihan agar bisa mengisi hari-hari mereka dan mampu mengendalikan diri dari pengaruh penyalahgunaan narkoba kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu kita pahami bahwa seorang mantan pecandu tidak bisa “memaksa” suatu keadaan yang terjadi di masyarakat untuk memihak kepada mantan pecandu. Ini hanya bagian dari refleksi diri kepada masyarakat (pembaca) bahwa, “Yang hitam tidak selamanya hitam”. Kepada para mantan pecandu, “Jangan pernah menyerah, karena keajaiban tidak datang tanpa usaha.” Semoga semua ini bisa jadi bahan untuk renungan, aksi, dan perubahan pada hari AIDS sedunia 1 Desember 2006 nanti. [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-6840252959208607902?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/6840252959208607902/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=6840252959208607902&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/6840252959208607902'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/6840252959208607902'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2007/01/hentikan-stigma-pada-mantan-pecandu.html' title='Hentikan Stigma pada Mantan Pecandu Narkoba'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-5610133519398340989</id><published>2006-11-21T20:14:00.000+08:00</published><updated>2007-01-30T17:15:47.647+08:00</updated><title type='text'>Masih Ada Stigma dan Diskriminasi pada Odha</title><content type='html'>Masih Ada Stigma dan Diskriminasi pada Odha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Martinus S Agus, Koordinator Lapangan Yayasan Kesehatan Bali (Yakeba)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyaknya masyarakat yang secara langsung maupun tidak sengaja melakukan diskriminasi pada orang dengan HIV/AIDS (Odha) merupakan bukti bahwa advokasi dan informasi mengenai penularan HIV pada masyarakat belum maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu contohnya terjadi pada Rudi (nama samaran). Meski sudah ikut voluntary, conselling, and testing (VCT), dia tetap kaget ketika tahu hasil tesnya positif HIV. Tapi dia tetap menerimanya. Rudi sempat galau bagaimana menghadapi keluarga besarnya. Namun akhirnya Rudi diri menyampaikan hasil tes. Keluarga besar Rudi shock. Mereka malu dan tidak mau menerima Rudi pulang ke rumah. Bahkan anaknya yang berumur enam tahun pun dicurigai mengidap HIV juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak kasus seperti Rudi. Lingkungan dan masyarakat menutup diri, tidak mau peduli dengan masalah HIV/AIDS. Mereka merasa anggota keluarganya orang bermoral, hidup lurus-lurus saja, dan taat beragama. Jadi seolah-olah tidak mungkin tertular HIV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mau tahu masalah HIV/AIDS adalah salah satu penyebab masih maraknya diskriminasi pada Odha. Pengetahuan dan informasi mengenai HIV/AIDS yang kurang pun menyebabkan terhambatnya ruang gerak Odha untuk maju untuk hidup normal seperti masyarakat biasa. Padahal Odha pun produktif seperti masyarakat umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Odha hanya rentan terhadap segala jenis penyakit baik ringan maupun berat karena sistem kekebalan tubuhnya sudah menurun kalau HIV ada di dalam darahnya. Namun kekebalan tubuhnya akan tetap kuat dan stabil kalau dia ikut teraphi ARV dengan baik dan benar serta didukung pola hidup sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskriminasi akan selalu ada selama masyarakat masih menutup diri dan tidak mau belajar dari segala informasi yang sekarang banyak diberitakan oleh media elektronik maupun media massa. Ada pula penyuluhan dari instansi-instansi terkait. Masyarakat dan aparat sebaiknya memberikan peluang, waktu, dan tempat pada mereka yang peduli HIV/AIDS untuk memberikan informasi. Masalah HIV/AIDS adalah masalah global, bukan hanya masalah tetangga atau keluarga. HIV/AIDS adalah masalah kita semua, penduduk dunia yang mendiami planet ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dukungan masyarakat, terutama keluarga, sangat penting bagi Odha terutama yang sudah minum ARV. Sebab ARV hanya untuk menekan perkembangan HIV dalam darah Odha). Terapi ini akan maksimal di dalam tubuh kalau klien selama menaati aturan dan cara mengkonsumsi ARV. Tentu saja harus disertai pola hidup sehat. Karena kalau mengkomsumsi ARV tanpa disiplin dan tanpa aturan bisa menyebabkan resistensi (obat tidak bekerja dengan maksimal dan bisa melipatgandakan virusnya). Pada akhirnya akan merugikan Odha yang lagi menjalani teraphi ARV. Keluarga berperan mengingatkan dan mendisiplinkan Odha untuk minum obat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala jenis obat alternatif apa pun namanya sampai hari ini tidak ada yang bisa membunuh virus HIV. Yang bisa kita lakukan sekarang sebagai anggota masyarakat adalah mencari informasi baik sebagai pencegahan, pengobatan, pelayanan tentang HIV/AIDS pada tempat dan orang yang benar-benar mengerti masalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada masyarakat dan keluarga yang takut tertular HIV karena tidur, makan sepiring, mandi satu kolam renang, dan satu toilet dengan Odha. Semua itu salah! HIV hanya menular melalui jarum suntik tidak steril, hubungan seks tanpa kondom, atau dari air susu ibu ke anaknya. Karena itu tidak perlu takut tertular HIV hanya karena tidur, makan sepiring, bergantian toilet, atau satu kolam renang dengan Odha. Memperlakukan Odha dengan diskriminatif adalah juga melanggar hak asasi manusia (HAM) lho!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini di seluruh dunia diperkirakan ada 60 juta orang telah tertular HIV, 21 juta di antaranya meninggal karena infeksi oportunistik. Apakah kita mau menambah saudara kita meninggal karena HIV/AIDS? Sebab saudara kita itu didiskriminasi dan diadili massa kalau dia membuka statusnya. Teman-teman kita (Odha) tidak pernah minta dikasihani. Yang mereka butuhkan adalah dukungan agar mereka bisa diterima dan menjalani hidup normal seperti masyarakat umumnya. [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-5610133519398340989?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/5610133519398340989/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=5610133519398340989&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/5610133519398340989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/5610133519398340989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/11/masih-ada-stigma-dan-diskriminasi-pada.html' title='Masih Ada Stigma dan Diskriminasi pada Odha'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-8963615393458156199</id><published>2006-11-19T17:13:00.000+08:00</published><updated>2007-01-30T17:22:39.094+08:00</updated><title type='text'>Tuntutan Pengembangan Program Methadone di Bali</title><content type='html'>Tuntutan Pengembangan Program Methadone di Bali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Yahya Anshori, Relawan KPA Provinsi Bali]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun ini, kasus pemakaian narkoba suntik kian meroket. Heroin yang awalnya dipakai dengan cara dihisap, belakangan dipakai dengan cara disuntikkan. Sejalan dengan meningkatnya pemakaian narkoba suntik, kasus HIV di kalangan injecting drug user (IDU) pun cenderung meledak. Menurut data Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali, sekitar 46 persen dari 1500 kasus HIV/AIDS di Bali berasal dari kalangan IDU. Sedangkan jumlah sebenarnya pengidap HIV di Bali saat ini sekitar 3000 orang, 1900 orang di antaranya tertular virus melalui jarum suntik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena penyebaran HIV di kalangan IDU sangat cepat, maka muncul pendekatan harm reduction (HR). Program HR meliputi beberapa strategi kegiatan, yaitu: (a) Program substitusi obat methadon (juga merupakan bagian dari demand reduction); (b) Program penjangkauan dan pendidikan sebaya; dan (c) Program pertukaran jarum suntik (Depkes RI, 2003).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merespon penularan HIV melalui IDU atau pengguna narkoba suntik (penasun), Dinkes, Badan Narkotika Provinsi (BNP), dan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Bali mengembangkan pilot project program subtitusi obat metadon. Di Bali program ini dilaksanakan Rumah Sakit Umum Sanglah Denpasar yang melayani penasun, baik yang datang atas inisiatif sendiri maupun dirujuk LSM penanggulangan AIDS di Denpasar dan sekitarnya. Program subtitusi metadon juga tersedia di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kerobokan untuk melayani penasun yang sedang menjalani hukuman di penjara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping ingin memutus kebiasaan menyuntik narkotik, program rumatan metadon (PRM) juga bertujuan mendukung klien agar berhenti sama sekali memakai narkoba suntikan. Namun tidak semua pecandu narkoba diikutsertakan dalam PRM. Sasaran kerja PRM diprioritaskan pada mereka yang benar-benar mengalami ketergantungan opioid yaitu dengan menggunakan jarum suntik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program metadon di Bali dikembangkan sesuai standard operational procedure (SOP) organisasi kesehatan dunia (WHO) dan Depkes RI. Pelayanan PRM baik di Sanglah, Lapas Kerobokan maupun Puskesmas Kuta 1 dilakukan secara holistic yaitu pelayanan dengan memperhatikan kebutuhan biologis, psikologis, sosial, cultural dan spiritual. Kegiatan biologik yang dikembangkan di klinik metadon meliputi: layanan obat metadon (oral), pemantauan kesehatan fisik oleh dokter umum, sistem rujukan ke poliklinik atau bagian lain di RS Sanglah, pemeriksaan laboratorium darah (tes fungsi hati), hepatitis B,C HIV, darah lengkap, urine opiate, serta distribusi kondom gratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan psikologik meliputi pemeriksaan oleh psikiater, layanan konseling (umum, adiksi, dukungan), layanan voluntary, concelling, and testing (VCT) atau layanan konsultasi dan tes HIV secara suka rela, support group, cognitive behavioral therapy (CBT) atau terapi perubahan perilaku, pertemuan klien, dan family support. Kegiatan sosial organisasi klien, termasuk mengikutsertakan klien dalam pelatihan keterampilan yang didukung oleh Dinas Sosial. Selain itu, kegiatan budaya-spiritual yang diterapkan di klinik adalah kegiatan yang berorientasi kepada upaya pengembangan potensi dan bakat peserta PRM, dan aktiftas ritual bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cakupan klien progam metadon di Bali sekitar 200 orang. Sampai 31 Juli 2006, jumlah klien PRM yang ditangani oleh PRM RS Sanglah 299 orang, termasuk klien yang sudah tidak berhenti mengikuti PRM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil evalusi penerapan PRM di RS Sanglah menunjukkan bahwa klien memperoleh manfaat: (a) secara bertahap mereka dapat memutus ketergantungannya memaki heroin dan dapat meningkatkan derajat kesehatannya (berat badan meningkat, pemakaian heroin menurun); (b) mereka mampu menangani masalah sosial-psikologis. Dengan konseling yang diberikan, peserta PRM menjadi lebih komunikatif; (c) perilaku kriminal peserta PRM menurun (kriminal di dalam rumah dari 79,65 persen menjadi 7,08 persen, kiminal di luar rumah dari 13,27 persen turun jadi 2,65 persen; (d) aktivitas sosial klien bisa ditingkatkan (Hanati, 2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menekan penularan virus HIV melalui jarum suntik, pengembangan PRM terbukti cukup efektif. Karena itu, program PRM perlu dikembangkan. Apalagi cakupan program PRM di Bali yang masih terbatas, yakni hanya menangani sekitar 200 pecandu narkoba (atau sekitar 11 persen dari sekitar 1900 pupulasi IDU di Bali). Untuk itu, KPA Bali terus mendukung upaya pengembangan klinik methadon. Dalam periode semester II 2006 ini KPA Provinsi Bali sudah membuka dua unit klinik PRM, yaitu: pertama, di Puskesmas Kuta yang didukung pendanaanya oleh KPA Provinsi Bali dan KPA Kabupaten Badung serta bantuan dari AusAID (IHPCP II) dan WHO. Kedua, rencana pendirian klinik methadon di Puskesmas II Denpasar Barat, Abiantimbul yang didukung KPA Provinsi Bali dan KPA Kota Denpasar serta bantuan dari AusAID (IHPCP II) dan WHO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRM terbukti berpengaruh positif bagi klien program. Di samping mampu meningkatkan derajat kesehatan peserta (berat badan meningkat, pemakaian heroin menurun), PRM juga mampu menumbuhkan kepercayaan diri peserta untuk menangani masalah sosial-psikologis yang mereka hadapi dan menekan perilaku kriminal yang mereka lakukan. Selain itu, PRM juga mampu mereduksi ancaman penularan HIV melalui pemakaian jarum suntik bersama di kalangan para IDU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan semakin meningatnya kasus penyalahgunaan narkoba suntik di Bali, klinik-klinik PRM di tingkat Kabupaten/Kota juga perlu dikembangkan. Menguatnya komitmen Pemda kabupaten/kota di Bali dalam mereduksi masalah HIV/AIDS dan narkoba, antara lain perlu diwujudkan dengan membentuk layanan PRM, baik oleh RSUD maupun Puskesmas setempat. [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-8963615393458156199?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/8963615393458156199/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=8963615393458156199&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/8963615393458156199'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/8963615393458156199'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2007/11/tuntutan-pengembangan-program-methadone.html' title='Tuntutan Pengembangan Program Methadone di Bali'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-5004346416904699347</id><published>2006-11-16T19:08:00.000+08:00</published><updated>2007-01-30T17:11:32.193+08:00</updated><title type='text'>Menulis Berita HIV/AIDS yang Lebih Membela</title><content type='html'>Menulis Berita HIV/AIDS yang Lebih Membela&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Nanang Mubarok, penyiar Radio 911 Suara Janger Bali]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memberitakan HIV/AIDS, media massa masih terjebak pada eksploitasi kesedihan orang dengan HIV/AIDS (Odha). Berita tentang HIV/AIDS pun masih kurang. Cerita klasik, idealisme wartawan pun sering berbenturan dengan pengusaha dan pasar. Inilah bahan yang harus diubah, atau ya setidaknya dipikirkan pada momentum hari AIDS sedunia 1 Desember nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua pekerjaan jurnalistik adalah intervensi. Demikian ditulis Annabel Mc Goldrick dan Jake Lynch dalam buku panduan bagi jurnalis untuk jurnalisme damai. Pilihannya kemudian adalah etika dalam intervensi tersebut- dan karena itu muncul pertanyaan, “Apa yang bisa saya lakukan dengan campur tangan saya untuk bisa mendukung terciptanya perbaikan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan yang meliput dan menulis masalah AIDS jelas tengah melakukan pekerjaan intervensi-bahkan sampai pada ruang yang begitu privat dalam kehidupan seseorang. Di sinilah diperlukan kematangan seorang wartawan dalam tingkat yang maksimum. Alasannya, menulis pemberitaan AIDS menuntut seorang wartawan benar-benar berdiri di tengah. Baik dalam angle maupun dalam bentuk tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seorang wartawan menulis terlalu mengedepankan pada cerita duka seorang pengidap HIV misalnya, dia bisa terjebak pada eksploitasi kesedihan. Tulisan seperti itu memang menarik karena mampu membuat pembaca ikut berempati sekaligus bersimpati pada Odha. Namun masalahnya sekarang, Odha makin sadar bahwa dirinya bukan tidak ingin dikasihani atau bahkan diekploitasi kesedihannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh pers nasional Ashadi Siregar pernah mengatakan, jurnalisme yang perlu dikembangkan pada saat ini adalah jurnalisme yang berempati pada penderitaan orang, baik berasal dari struktur sosial maupun individual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ashadi ingin menjelaskan bahwa sesungguhnya tugas wartawan adalah memenuhi kebutuhan informasi masyarakat. Dalam melaksanakan tugas, wartawan dibimbing oleh nilai-nilai dan misi jurnalisme, yang tertuang dalam etika pemberitaan. Salah satu prinsip umum etika pemberitaan adalah mengutamakan kepentingan umum dalam pemberitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika disimpulkan dalam kalimat sederhana, di sinilah letaknya sebuah idealisme pers dan idealisme jurnalis. Namun masalahnya dalam praktiknya ini bukan suatu hal yang sederhana. Dalam sebuah interaksi sosial pertarungan abadi antara idealisme dan kepentingan ekonomi selalu saja mengemuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikan juga dalam dunia pers. Saat pers sudah menjadi komoditas industri kapitalis, maka nilai-nilai idealisme sering kali menjadi pihak yang kalah. Mereka tunduk di lutut selera pengusaha media yang berorientasi pada selera pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, selera pasar Indonesia –paling tidak untuk saat ini- masih cenderung pada sesuatu yang berbau konflik apalagi dikemas bombastis. Makanya tidak salah jika sebuah survey mengatakan berita-berita yang disukai publik adalah berita yang berbau seks, darah (kriminal) dan gosip. Mungkin ini banyak dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan kondisi sosial masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam posisi seperti inilah, para wartawan lebih sering menulis pemberitaan AIDS dalam format yang mengedepankan aspek kuantitatif. Misalnya peningkatan jumlah penderita AIDS dari tahun ke tahun atau banyaknya remaja yang melakukan seks bebas atau pengguna narkoba dengan jarum, atau yang sejenis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan tampaknya enggan menulis berita yang lebih mengedepankan aspek kualitatif, misalnya keberhasilan Odha bertahan hidup, mengasuh dan merawat anak-anaknya dengan normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan-laporan semacam itu selain membutuhkan waktu panjang juga memerlukan wawancara yang mendalam dan kemampuan menulis yang baik dan biasanya dikemas dalam bentuk feature. Tulisan semacam ini memang membutuhkan keterampilan dan keahlian tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kendala waktu dan kemampuan, kendala lainnya adalah tidak semua media – teruma media koran  harian -- yang menyediakan kolom untuk tulisan feature. Pengelola atau pemilik media beralasan jika tulisan seperti itu memerlukan banyak kolom sehingga tidak ekonomis. Ini berbeda dengan bentuk penulisan stright news yang hanya cukup dengan elemen dasar sebuah berita yaitu 5W + 1H. Waktu tenggat atau deadline yang mepet juga menjadi kendala tersendiri bagi wartawan untuk bisa meluangkan waktu menulis feature berkualitas. Apalagi menulis berita yang sifatnya investigative reporting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi pembaca, dengan keterbatasan waktu lantaran kesibukannya, pembaca juga malas dengan tulisan yang panjang-panjang. Bahkan kebiasaan pembaca di kota-kota yang sibuk hanya membaca judul dan lead berita semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dapat dipungkiri pemberitaan AIDS oleh pers kita frekuensinya belum tinggi. Ada pendapat ini terjadi karena kasus AIDS belum banyak ditemukan oleh wartawan –selain kendala-kendala di atas. Salah satu bukti bahwa pemberitaan AIDS ini belum mendapat tempat yang layak dalam media adalah belum banyaknya berita AIDS yang menjadi berita utama dalam sebuah media cetak. Berita tentang AIDS selalu muncul di halaman dalam, itu pun dengan berita kecil dan pendek yang sama sekali tidak menarik minat khalayak untuk membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau memang pendapat ini benar, ia tidak bisa menjadi alasan untuk tidak menyiarkan berita tentang AIDS. Kendati AIDS oleh Michael Foucoult disebut sebagai fenomena diskursif, yang bisa hilang dan berganti dengan fenomena lain, namun yang harus selalu dipahami oleh wartawan dan pengelola maupun pemilik media adalah sindrom AIDS sangat berbahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, jika seluruh unsur pers, baik itu wartawan, redaktur, pemimpin redaksi sampai pemilik modal memahami betapa bahaya dan kompleksnya permasalahan HIV/AIDS maka tidak ada alasan untuk mengalahkan idealisme pers dengan kepentingan pasar dalam memberitakan masalah HIV / AIDS. [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-5004346416904699347?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/5004346416904699347/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=5004346416904699347&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/5004346416904699347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/5004346416904699347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/11/menulis-berita-hivaids-yang-lebih.html' title='Menulis Berita HIV/AIDS yang Lebih Membela'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-116416992007050887</id><published>2006-11-14T12:28:00.001+08:00</published><updated>2006-11-22T12:32:00.073+08:00</updated><title type='text'>Agama Mempunyai Persepsi Salah terhadap HIV/AIDS</title><content type='html'>Agama Mempunyai Persepsi Salah terhadap HIV/AIDS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Asep Hidayat, anggota Kelompok Dampingan Sebaya Addict+]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari AIDS se-Dunia selalu diperingati berbagai kalangan di dunia, termasuk Indonesia. Tidak hanya termasuk kalangan yang mengalami langsung persoalan ini tapi juga mereka yang punya kepedulian pada masalah HIV/AIDS. Sayangnya, kelompok agama, sebagian besar masih berjarak dengan masalah HIV/AIDS. Tak hanya itu, agama pun turut serta dalam menyuburkan kesalahpahaman tentang HIV/AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HIV/AIDS merupakan penyakit kutukan, penyakit kotor. Begitulah ungkapan sebagian penganut agama yang condong (fanatik). Menurut mereka, penularan HIV disebabkan perbuatan melanggar agama. Seperti, menggunakan narkoba suntik, seks di luar nikah, dan berganti-ganti pasangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini pernah dikemukakan oleh salah seorang pimpinan organisasi masyarakat di Bali beberapa waktu lalu. Menurutnya infeksi HIV merupakan teguran Tuhan bagi umatnya yang menyimpang dari ajaran agama. Hal yang sama juga mungkin dikatakan pimpinan agama lain dalam merespon masalah HIV/AIDS. Padahal, di Bali misalnya, HIV/AIDS sudah menular pada anak-anak yang tidak pernah melakukan perbuatan yang menurut agama termasuk berdosa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah Tuhan menciptakan HIV untuk menghukum umatnya yang berbuat dosa? Lalu bagaimana jika perbuatan dosa tersebut dilakukan dengan cara aman? Misalnya, melakukan hubungan seks selalu menggunakan kondom atau menggunakan nakoba dengan peralatan suntik steril? Dua hal itu meski dianggap berdosa oleh agama, tidak bisa menularkan HIV. Sebab keduanya dilakukan dengan kesadaran untuk tidak menularkan HIV pada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana jika hubungan seks dilakukan tanpa kondom oleh pasangan seks yang sah menurut agama tetapi di antara mereka ada yang positif HIV? Atau donor darah tanpa skrining? Dua perbuatan itu merupakan hal yang mulia menurut agama. Tetapi kalau dilakukan tanpa kewaspadaan, maka bisa menularkan HIV. Karena itu perlu diluruskan bahwa HIV/AIDS tidak ada hubungannya dengan dosa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman bahwa HIV/AIDS merupakan penyakit kutukan dan kotor, menyebabkan kalangan agama kurang peduli terhadap masalah HIV. Mereka yakin jika seseorang tetap berada dalam aturan agama, akan terhindar dari virus yang mematikan itu. Sebab mereka jauh dari prilaku-prilaku yang berisiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman ini pernah dialami Chapung, nama samaran, yang juga mantan pengguna narkoba suntik (penasun). Di tengah perjalanannya mengikuti kegiatan agama, dia dikejutkan dengan hasil test darah yang dilakukan pengurus yayasan. Menurut hasil tes darah tersebut, ia positif mengidap HIV serta Hepatitis B dan C. Mendapat info tersebut, Chapung syok dan depresi berat. Selama di yayasan ia murung dan suka menyendiri. Bagaimana tidak, menurut pengakuannya, saat test darah dilakukan, tidak ada penjelasan dan konseling sebelumnya. Bahkan hasil tes tersebut dibocorkan pada orang lain dan dimusyawarahkan pada rapat pengurus yayasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kabar tersebut menyebar di kalangan yayasan, sebagian orang tua murid mulai cemas dan takut anaknya akan tertular. Sehingga mereka meminta pengurus yayasan untuk mengeluarkan Chapung. Jika tidak maka anak-anak mereka yang harus keluar. Tak ada pilihan lain. Chapung pun dikeluarkan dari yayasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa tersebut menggambarkan bahwa kalangan agama tidak mengerti “bagaimana HIV ditularkan?” Atau mereka malu salah satu siswanya ternyata tertular HIV. Sebab sejak awal mereka merasa yakin bahwa orang-orang di yayasan tersebut “jauh dari HIV”. Apa iya? HIV/AIDS tidak bisa dilihat hanya dengan melihat penampilan fisik. Untuk tahu seseorang positif HIV atau tidak harus lewat tes darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jelas bahwa persepsi agamawan terhadap HIV perlu dibenahi. Karena jika tidak, maka upaya penanggulangan HIV/AIDS dan narkoba tidak akan menumukan titik terang. Padahal terapi spiritual bagi orang dengan HIV/AIDS (Odha) dan korban narkoba sangat dibutuhkan. Perlunya penyebaran informasi HIV/AIDS dan narkoba di kelompok-kelompok keagamaan, semata-mata untuk meluruskan persepsi mereka terhadap HIV serta mengurangi stigma dan diskriminasi pada Odha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab masalah HIV/AIDS, narkoba, seks bebas merupakan masalah kita bersama. Dan yakinlah bahwa HIV/AIDS ada di tengah-tengah kita. [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-116416992007050887?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/116416992007050887/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=116416992007050887&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/116416992007050887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/116416992007050887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/11/agama-mempunyai-persepsi-salah_14.html' title='Agama Mempunyai Persepsi Salah terhadap HIV/AIDS'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-116416964635458392</id><published>2006-11-12T12:25:00.000+08:00</published><updated>2006-11-22T12:27:26.356+08:00</updated><title type='text'>Kompleksnya Penanggulangan HIV/AIDS pada Pecandu Perempuan</title><content type='html'>Kompleksnya Penanggulangan HIV/AIDS pada Pecandu Perempuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Andy Mansrianto, Petugas Lapangan Yayasan Hatihati Denpasar]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini jumlah perempuan injecting drug user (IDU) yang saya dampingi di Kuta ada 10 orang. Masalah mereka terkait penanggulangan HIV/AIDS pun sangat kompleks. Data Dinas Kesehatan Provinsi Bali per Juli 2006 menunjukkan jumlah orang dengan HIV/AIDS (Odha) di Bali berlatar belakang IDU mencapai 44,5 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan heteroseksual (38 persen), homo/biseksual (9 persen), tidak diketahui (8 persen), dan bayi tertular dari ibu (0,5 persen). Penularan HIV di kalangan IDU laki-laki mau pun IDU perempuan akibat penggunaan jarum suntik yang tidak steril.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanggulangan HIV/AIDS di kalangan pecandu memang lebih kompleks. Salah satu contoh, pengakuan dampingan saya, dia dulu selalu berbagi jarum suntik, karena saat itu sulit mendapatkan jarum baru, juga informasi tentang HIV/AIDS dan narkoba. Kini, saat jarum lebih mudah didapat melalui program pertukaran jarum suntik, masalah lain justru menghadang. Sebagian besar pecandu perempuan, yang juga pekerja seks, jarang sekali menggunakan kondom ketika berhubungan dengan pelanggannya. Hal ini terjadia karena kebanyakan pelanggan merasa tidak enak pakai kondom. Atau, perempuan pecandu itu susah menawarkan pelanggan ketika sedang mabuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi yang dilakukan misalnya, perempuan itu mengatakan, “Pake kondom donk, nanti tertular HIV/AIDS.” Tapi karena si pelanggan mengatakan tidak enak, tidak alami, dan ada saja alasan lain seperti mengatakan oke pakai kondom tetapi tidak dibayar maka si perempuan terpaksa melayani meski tanpa pakai kondom. Dia mengaku dari pada pakai kondom tapi tidak dibayar, lebih baik tidak pakai kondom asal dibayar. Sebab, ia harus mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan narkobanya. Di benak perempuan itu yang terpenting dapat uang untuk menggunakan putaw, daripada nanti sakaw kemudian tidak punya uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah hal-hal seperti ini sering tidak disadari kelompok dampingan (KD) khususnya IDU perempuan yang berprofesi sebagai PSK. Di sisi lain dia sadar bahaya penularan HIV melalui jarum, juga sadar bahwa penularan HIV/AIDS pun rentan melalui hubungan seks bebas tanpa pelindung, namun karena kebutuhan drugs dan kelanjutan hidupnya, dia mau saja melakukan perilaku seks yang tidak aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu kurang lengkapnya pengetahuan tentang HIV/AIDS membuat sebagian besar di antara mereka percaya dengan mitos di kelompok mereka. Misalnya, mitos bahwa penularan HIV/AIDS melalui hubungan seks butuh beberapa kali hubungan baru tertular, itu pun kalau seandainya terjadi lecet pada saat berhubungan. Mitos-mitos seperti ini sangat mempengaruhi KD sehingga mereka ragu-ragu menjaga perilaku. Perilaku yang semula sudah aman menjadi tidak aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, di sinilah pentingnya peran petugas penjangkau melurusakan presepsi dampingan dan meluruskan mitos yang berkembang di masyarakat. Mencermati apa kata dampingan, menurut saya, hubungan seks tidak pakai kondom justru lebih rentan tertular penyaki. Misalnya penyakit kuntilanak alias kutilan, sifilis, GO/kencing nanah. Menurut bahasa medis disingkatannya infeksi menular seksual (IMS). Penyakit yang sudah lama menjadi momok di masyarakat ini kalu tidak ditanggulangi secepatnya akan jadi fatal. Demikian halnya juga mengenai penularan HIV/AIDS melalui hubungan seks. Jangan dilihat dari sisi lecetnya saja. Yng perlu dipahami teman-teman adalah kita tidak bisa mengetahui siapa yang mengidap virus HIV hanya dari penampilannya atau tanda tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini banyak perempuan terlihat sehat-sehat saja tanpa gejala tertular IMS mau pun HIV/AIDS. Banyak juga yang tidak sadar terjadinya lecet ketika berhubungan seks. Virus HIV hanya dapat diketahui melalui tes darah, lain halnya dengan IMS. Seseorang yang sudah tertular gonorhoe dan kencing nanah bisa menandakan gejala dua hari sesudah berhubungan seks. Dua jenis IMS ini paling banyak dialami laki-laki. Di kalangan kaum perempuan kebanyakan mengalami keputihan berlebihan atau rasa bau yang tak sedap di bagian vagina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang saya sampaikan di atas semata untuk membuka pikiran bahwa persoalan HIV/AIDS adalah persoalan yang sangat kompleks. Tidak ada satu hal yang berdiri terpisah dari banyak hal lain. Tanpa kita sadari, tanpa kita ketahui, persoalan itu akan berhubungan dengan kita juga. Karena itulah, pemahaman di atas semoga menggugah kita untuk tidak lagi hanya diam menghadapi masalah ini. Sekaligus untuk jadi bahan renungan dalam peringatan hari AIDS se-Dunia 1 Desember nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian paling penting adalah, sekali lagi, cukupnya pengetahuan tentang HIV/AIDS dan narkoba merupakan langkah awal dalam penanggulangan. Pencegahan, perawatan, dan pengobatan untuk melindungi diri, harta, dan narkoba tidak ada artinya dibandingkan hidup berjuang melawan HIV/AIDS. Selamatkan kaum perempuan, kaum laki-laki, dan generasi penerus dari ancaman HIV/AIDS dan narkoba. Agar kita semua bisa selamat. [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-116416964635458392?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/116416964635458392/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=116416964635458392&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/116416964635458392'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/116416964635458392'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/11/kompleksnya-penanggulangan-hivaids.html' title='Kompleksnya Penanggulangan HIV/AIDS pada Pecandu Perempuan'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-116416948119544843</id><published>2006-11-09T00:21:00.000+08:00</published><updated>2006-11-22T12:24:41.196+08:00</updated><title type='text'>Saatnya Mengampanyekan Pemakaian Lubricant</title><content type='html'>Saatnya Mengampanyekan Pemakaian Lubricant&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Vivi, Konselor Yayasan Gaya Dewata, anggota Kelompok Dukungan Sebaya Warcan+]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus HIV/AIDS di Indonesia makin memperihatikan dengan makin banyaknya orang yang tertular dari balita hingga orang dewasa. Penularan HIV/AIDS pun tak lagi melihat status sosial ekonomi. Sehingga mau tidak mau hal ini harus mendapat perhatian khusus. Hanya menjadikan makin bertambahnya kasus sebagai data tidak akan menyelesaikan masalah ini. Apalagi kalau hanya menyalahkan tanpa pernah mau terlibat persoalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari AIDS se-Dunia, yang akan diperingati 1 Desember nanti, semoga bisa jadi momen semua pihak untuk terlibat. Tidak hanya menonton di pinggir jalan lalu berteriak dan bersorak menyalahkan. Waktunya bagi semua pihak untuk menunjukkan slogan Tepati Janji Stop AIDS. Salah satu upaya yang bisa dilakukan tersebut adalah dengan mulai  memikirkan lubricant (pelicin) sebagai salah satu solusi jangka pendek untuk menjawab persoalan HIV/AIDS di kalangan waria dan homoseksual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini pemerintah sudah serius dan gencar dalam menangani dan mensosialisasikan kondom sebagai salah satu upaya pencegahan penularan HIV melalui hubungan seks. Kampanye bertema Use 100% Condom ini dilakukan melalui berbagai media elektronik dan media massa. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) penanggulangan HIV/AIDS pun banyak memberi informasi dan pengetahuan tentang manfaat kondom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program Use 100% Condom memang bisa dan tepat untuk heteroseksual tapi kurang pas bagi kelompok homoseksual. Pogram ini kurang lengkap dan harus ditambah jadi Use 100% Condom and Lubricant. Karena kelompok homoseksual lebih sering melakukan oral seks sehingga kondom yang diperlukan pun berbeda. Kondomnya pun seharusnya yang beraroma. Di apotek sudah banyak kondom beraroma dengan bermacam pilihan aroma antara lain mind, coklat, dan berbagai aroma buah (stowberry, jeruk , pisang, durian). Harganya juga mahal. Saat ini kondom yang disediakan Dinas Kesehatan secara gratis belum ada yang beraroma dan rasanya pahit. Itulah alasan kenapa beberapa teman waria dan gay malas memakai kondom ketika melakukan oral seks. Selain itu kandungan pelumasnya pun kurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lubricant merupakan hal penting bagi kelompok homoseksual sama pentingnya dengan kondom. Karena kelompok homoseksual dalam melakukan hubungan seks melalui anal sehingga perlu pelicin atau pelumas yang berbahan dasar air (lubricant). Masalahnya sekarang distibusi lubricant masih sangat jarang kalau pun ada harganya mahal. Itu pun hanya beberapa apotek yang menjualnya. Sebagaian besar kelompok homoseksual yang mapan dalam segi ekonomi mampu membeli dan biasa memakainya tapi untuk kelompok waria yang bekerja sebagai pekerja seks sampai saat ini lubricant masih jadi barang mewah. Selain mahal mereka juga malu untuk membeli di apotek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak di antara kelompok homoseksual yang belum mengenal lubricant sehingga mereka jarang mengunakan kondom. Padahal ketika melakukan anal seks mengunakan kondom tanpa pelicin selain terasa lebih sakit juga terjadi iritasi di anus. Untuk mengatasi supply lubricant yang terbatas banyak yang mengakali dengan memakai body lotion atau air ludah. Hal itu sangat tidak dianjurkan karena  body lotion berbahan dasar minyak begitu juga air ludah. Kalau dipakai akan cepat kering. Sering terjadi kondom robek dan pecah di dalam. Apa artinya pakai kondom jika risiko penularan tetap tinggi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau pun kelompok homoseksual sudah paham dan mengerti penularan HIV/AIDS, ditambah dengan kondom yang tersedia gratis, tapi apa bisa menjamin penularan tidak akan terjadi jika salah satu media (lubricant) yang penting untuk kelompok homoseksual tidak tersedia dan masih susah untuk dijangkau?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun kelompok homoseksual jumlahnya bisa dibilang kecil, tapi perlu diperhatikan bahwa risiko penularan HIV/AIDS di kelompok ini tergolong tinggi dan yang melakukun hubungan seks dengan mereka juga banyak dari berbagai golongan usia dan sosial. Jadi mata rantai penularan HIV/AIDS cepat sekali berputarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan pemerintah, khususnya Dinas Kesehatan, mulai melirik dan memperhatikan kelompok homoseksual dengan cara mengadakan pelicin secara gratis, sehingga program penanggulangan HIV/AIDS bisa mengena dan merata untuk semua kelompok? Slogan penanggulangan HIV/AIDS juga berubah jadi 100% Condom dan Lubricant. Dengan demikian diharapkan semua kelompok bisa menyerukan, “Tepati Janji Stop AIDS..” [+++]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-116416948119544843?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/116416948119544843/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=116416948119544843&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/116416948119544843'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/116416948119544843'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/11/saatnya-mengampanyekan-pemakaian.html' title='Saatnya Mengampanyekan Pemakaian Lubricant'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-116296741279003524</id><published>2006-11-07T14:28:00.000+08:00</published><updated>2006-11-08T14:30:12.793+08:00</updated><title type='text'>Bahan Renungan Hari AIDS se-Dunia</title><content type='html'>Bahan Renungan Hari AIDS se-Dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Kartini, Anggota KDS Tunjung Putih]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap 1 Desember seluruh dunia memperingati Hari AIDS se-Dunia. Indonesia, termasuk Bali pun memperingati momen untuk mengingat makin gawatnya epidemi HIV/AIDS di dunia tersebut. Namun, peringatan tahunan itu sering kali hanya momen sesaat yang lalu tak berbekas sama sekali. Hari AIDS se-Dunia hanya jadi ritual tanpa makna. Maka, perlu bahan renungan agar ada sesuatu yang bisa dilakukan setelah peringatan hari AIDS se-Dunia tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat tahun-tahun terakhir ini penyebaran HIV makin meningkat, pemerintah terus berupaya meningkatkan aktivitas berkaitan dengan pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS. Salah satu contohnya adalah menjamurnya berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak dalam bidang tersebut. Memang langkah tersebut adalah salah satu upaya tepat, baik bagi masyarakat umum maupun bagi korban narkotika pisikotropika zat adiktif (Napza) serta orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Setidaknya adanya berbagai LSM membuat masyarakat awam, korban NAPZA, dan ODHA lebih mudah mendapatkan berbagai informasi tentang apa itu Napza dan HIV/AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk  mempermudah,  mempercepat, dan memaksimalkan upaya penjangkauan terhadap korban Napza dan HIV/AIDS, biasanya LSM mempunyai beberapa Kelompok Dukungan Sebaya (KDS). Namun tidak semua LSM menjalankan tugas dengan efektif. Contohnya pengalaman seorang ODHA anggota KDS Tunjung Putih, KDS bagi perempuan ODHA dan OHIDHA. Menurutnya pelayanan kesehatan serta penyampaian informasi tentang narkoba dan HIV/AIDS Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIA Denpasar, kurang memuaskan bahkan sangat mengecewakan. Pengalaman itu berdasarkan pengalaman pribadi saat dia berstatus sebagai Narapidana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja namanya Dian. Kebetulan saat itu Dian sakit dan dokter bilang Dian kena herpes. Kemudian tanpa memberi obat, dokter cuma bilang kalau obat herpes itu ada tapi mahal. Karena ingin sembuh, Dian tetap minta tolong pada dokter agar bisa dapat obat tersebut. Akhirnya dia diberi resep yang harus cepat ditebus. Dian merasakan sakit yang amat sangat. Herpes yang tadinya cuma di paha, menjalar dan melingkar dari lutut, paha, dan pinggang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya benjolan-benjolan tersebut makin besar dan pecah sehingga menjadi borok sangat parah. Dian pun cacat kulit seumur hidup karena bekas luka tidak bisa hilang sampai sekarang. Tidak itu saja, selama di LP, berbagai sakit dialaminya dari mulai TBC. Hingga pada suatu hari Dian konseling di konselor Pokja Lapasa. Hasilnya Dian positif HIV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu CD4, tingkat kekebalan tubuh, Dian hanya 91. Maka menurut konselornya, Dian harus terapi anti-retroviral (ARV), obat penekan jumlah virus dalam tubuh. Tanpa fikir panjang, Dian setuju dengan saran konselor untuk terapi ARV, tanpa tanya ini dan itu asal minum obat sesuai dosis anjuran dokter. Karena pada waktu itu Dian belum begitu faham apa itu ARV beserta efek sampingnya. Justru Dian tahu lebih jelas tentang ARV dan efek samping semenjak aktif di pertemuan dan rutin mengikuti kegiatan KDS-KDS seperti Tunjung Putih, Sobat, Hidup, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan kami, tolonglah ditingkatkan dalam membina dan menyampaikan pengertian serta pengetahuan tentang HIV, ARV, dan efek samping. Sebab itu sangat penting bagi ODHA yang baru mulai terapi. Sangat berbahaya jika kita terlambat mengetahuinya. Di samping itu, obat subsidi agar dimanfaatkan lebih efektif agar tidak terjadi lagi kasus seperti yang dialami Dian, cacat kulit seumur hidup lantaran terlambat dapat obat herpes. [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-116296741279003524?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/116296741279003524/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=116296741279003524&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/116296741279003524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/116296741279003524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/11/bahan-renungan-hari-aids-se-dunia.html' title='Bahan Renungan Hari AIDS se-Dunia'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-116296720308580153</id><published>2006-11-05T14:21:00.001+08:00</published><updated>2006-11-08T14:26:43.086+08:00</updated><title type='text'>Bapak Ibu, Cobalah Percaya pada Remaja</title><content type='html'>Bapak Ibu, Cobalah Percaya pada Remaja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[IGN Pramesemara, Mahasiswa FK Unud, Relawan KISARA PKBI Bali]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering terjadi hubungan kurang harmonis antara orang tua (ortu) dan anak remajanya. Ada ortu mengeluh karena anaknya mulai bertingkah aneh. Atau sebaliknya keluhan remaja terhadap sikap ortunya yang melarang pacaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi ini umum terjadi ketika ortu mulai mengeluhkan anak remajanya yang berubah menjadi “musuh dalam selimut” dengan sikap pemberontaknya. Bertolak belakang sekali ketika remaja masih masa balita dulu, di mana sangat penurut dan mudah untuk diarahkan oleh orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usia remaja merupakan masa transisi menuju fase pendewasaan diri. Remaja dalam rentang kelompok umur 10-24 tahun (Kisara, 1994) adalah masa yang penuh gejolak jiwa, emosi dan psikologis yang labil, hingga sering terjadi konflik baik dari dalam diri maupun luar diri, terutama berkaitan dengan interaksi dengan ortu masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu pemicunya adalah sikap ortu yang masih menganggap ”Anak Baru Gede (ABG)” layaknya anak kecil. Sebaliknya remaja merasa sudah dewasa, mampu mengatur diri sendiri. Mungkin di sinilah masalahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab lainnya masih banyak ortu dan guru yang belum paham wawasan mengenai HIV/AIDS, Kesehatan Reproduksi dan Narkoba. Cara komunikasi orang tua dan guru yang cenderung kaku dan tidak terbuka turut memegang andil. Remaja menganggap curhat dengan teman sebayanya yang paling idea meski fakta informasi yang didapat sering kali tidak proporsional dan keliru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran bila kejadian kriminal, penyalahgunaan narkotika, hubungan seks di luar nikah dan lainnya yang dilakukan oleh remaja meningkat terus setiap tahunnya. Data UNAIDS (2006) menunjukkan, sekitar 50 persen pengidap HIV di dunia berusia di bawah 25 tahun dari sekitar 44 juta kasus. Di Bali, berdasarkan data awal 2006 jumlah pengidap HIV/AIDS sebagian besar pada usia remaja (14-19 tahun). Sejak ditemukan pertama pada 1987, ternyata remaja (15-29 tahun) adalah kelompok terbesar pengidap HIV/AIDS dibanding kelompok usia lain (KPAD Bali, 2006). Sebagian besar akibat kecanduan dan penyalahgunaan narkoba, serta aktivitas seksual aktif bebas dalam bertukar pasangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 1 Desember nanti merupakan hari AIDS Internasional. Momen ini setidaknya bisa jadi momentum memikirkan kembali pola hubungan ortu dan anak, terutama berkaitan dengan masalah HIV/AIDS. Banyak kiat bisa diterapkan demi terciptanya keharmonisan dengan anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diawali dengan usaha untuk menciptakan dan menjaga hubungan komunikasi yang baik antara ortu dengan anak remajanya. Jangan biarkan kesalahpahaman yang terjadi diantara kedua pihak ini mengalir begitu saja. Karena itu, Ortu sebaiknya berinisiatif lebih awal untuk membuka obrolan dengan anak remajanya. Bicarakan masalah psikologis yang terjadi, berilah kepercayaan dan wujudkan keterbukaan, ”demokrasi dalam rumah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, cobalah responsif bahwa remaja bersikap menentang karena emosi yang belum mantap. Remaja cenderung menimbulkan masalah, sehingga ortu perlu peka menghadapinya. Kadangkala remaja merasa sudah dewasa untuk menentukan hidupnya, tanpa perlu mengindahkan rambu-rambu larangan. Maka beri kepercayaan disertai pertimbangan untuk memilah dan memilih keputusan bertanggung jawab dengan segala risikonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, pahamilah gaya hidup remaja dengan sifat ingin tahu yang tinggi, suka coba-coba, iseng, gaul, trendy dan gagah-gagahan. Waspadalah bahwa berbagai sifat remaja tersebut, bisa saja malah menjerumuskan remaja ke arah yang salah, terutama berkaitan dengan seks dan narkoba. Padahal remaja sendiri belum sepenuhnya sadar dampak tingkah laku tersebut, sehingga bahayanya bisa memicu kerentanan terhadap resiko tertular infeksi menular seksual (IMS) bahkan HIV/AIDS. Sudah saatnya ortu membuka dialog lebih tentang dunia remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, perlakukan remaja selayaknya dan jangan otoriter. Jangan memperlakukan seperti ”bayi raksasa”, karena remaja sering merasa dirinya telah dewasa. Jika remaja punya adik kecil, usahakan tak memberlakukan aturan yang sama. Bijaksana pun perlu dikembangkan ortu dengan mengajarkan untuk bersikap wajar tanpa berkesan berlebihan, apalagi sampai merugikan orang lain. Non otoriter (Otoritatif) bisa dicoba ketika remaja tertarik kepada lawan jenis. Hendaknya ortu menyadari bahwa masa pacaran hanyalah suatu proses perkenalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kalah penting adalah menanamkan sifat sabar, kalau remaja terlihat mulai suka berbohong ataupun kritis terhadap nasehat hidup, janganlah melabraknya langsung. Ciptakan atmosfer untuk memberikan kesempatan pada remaja memahami kesalahan dan bagaimana memperbaikinya. Hendaknya jangan ”ringan tangan” atau terkesan mendesak agar segera mengakui kesalahannya. Ingat, semakin dilarang maka semakin penasaran remaja untuk mendobrak aturan tersebut. Semakin didesak, maka makin kuat pula tameng remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian berusahalah mentransfer pengalaman-pengalaman hidup ortu yang sesuai. Hal ini janganlah terabaikan guna mempersiapkan konstruksi sosial remaja sejak dini. Sampaikan etika, nilai norma kehidupan dan etos disiplin sejak balita agar terbentuk pola pikir remaja yang teratur. Remaja sudah cukup siap dan mampu secara serius mempelajari masalah sosial dan mempertanyakan nilai moral secara lebih mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, jangan lupa secara intensif mendorong remaja melakukan aktivitas sosial dan kesibukan positif lain yang bermanfaat meningkatkan rasa percaya diri. Cara lainnya adalah tidak melarang realisasi hobi, mengembangkan potensi dan minat-bakat remaja sepanjang itu menyenangkan dan positif. Ingat, bahwa pada usia ini berkembang pesat kemampuan berpikir tentang konsep abstrak dan kepekaan terhadap sesuatu hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Semoga semua ini telah membuka tabir hubungan Ortu dan anak remajanya. Sehingga cita-cita mulia untuk membentuk keluarga kecil yang berkualitas sebagai tumpuan masa depan dapat tercapai. [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-116296720308580153?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/116296720308580153/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=116296720308580153&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/116296720308580153'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/116296720308580153'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/11/bapak-ibu-cobalah-percaya-pada-remaja_05.html' title='Bapak Ibu, Cobalah Percaya pada Remaja'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-116296682089812792</id><published>2006-11-03T14:16:00.000+08:00</published><updated>2006-11-08T14:20:20.916+08:00</updated><title type='text'>Hari AIDS Momen Kepedulian Remaja pada HIV/AIDS</title><content type='html'>Hari AIDS Momen Kepedulian Remaja pada HIV/AIDS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Yanitama Putri, Project Officer KIE KISARA-PKBI BALI]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil survei Kita Sayang Remaja (Kisara), lembaga swadaya masyarakat (LSM) peduli kesehatan reproduksi remaja di Denpasar, terhadap anak SMP dan SMU menunjukan sekitar 70 persen dari mereka belum tahu apa itu HIV/AIDS dan sekitar 85 persen salah dalam menyebutkan bagaimana penyebaran virus HIV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data tersebut menunjukan ternyata di saat HIV merajalela, masih banyak remaja menutup mata dan telinga atau tidak mau tahu tentang HIV/AIDS dan permasalahannya. Remaja tak peduli pada saudara-saudaranya yang positif HIV atau malah sudah meninggal karena infeksi oportunistik akibat HIV/AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka lebih memilih menghamburkan uang dan waktu untuk hal-hal konsumtif, merasa lebih gaul bila punya handphone baru daripada tahu banyak tentang HIV/AIDS dan masalah semacamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data tersebut belumlah mewakili seluruh populasi remaja di Indonesia, tapi sudah cukup menggambarkan dan membentuk “mind set” tentang remaja sekarang yang masih perlu “disirami” informasi tentang HIV/AIDS khususnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi memang makin maju dan berkembang, informasi juga tersebar luas dan makin gampang diperoleh. Tapi makin sulit juga memilah informasi mana yang patut “dicerna” dan mana pula yang harus “dibuang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa bahasan kita menitikberatkan remaja? Dan kenapa pula remaja perlu tahu banyak tentang HIV/AIDS?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasannya klise. Remaja adalah (1) generasi penerus bangsa yang (2) merupakan sasaran “empuk” HIV alias gampang banget terkena HIV. Karena itu remaja perlu tahu tentang HIV/AIDS, bagaimana penyebarannya, bagaimana penanganan dan pencegahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, yang bila diibaratkan sebagai sebuah kerajaan, maka virus tersebut akan menyerang prajurit-prajurit pelindung kerajaan yang dalam hal ini adalah sel darah putih, sehingga kerajaan akan runtuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini belum ditemukan obat yang bisa membunuh HIV. Sehingga HIV masih jadi virus yang ditakuti dan mengancam siapa pun. Semua orang baik itu bayi, anak-anak, remaja, dewasa bisa tertular HIV. Obat yang ada sekarang masih bersifat suportif yaitu sebagai suplemen yang bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh atau menghambat replikasi virus yang bisa menghambat laju penyerangan virus pada tubuh mereka yang positif HIV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua hal penting dalam penanganan HIV/AIDS. Pertama, sebisa mungkin hindari penularan HIV. Ada solusi ABCDE yaitu Abstinensia (tidak melakukan hubungan seks sebelum waktunya-menikah), Be Faithful (setia pada pasangan atau hanya melakukan hubungan seksual dengan saru orang saja), use Condom (dalam melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang beresiko terhadap IMS-Infeksi Menular Seksual atau HIV sebaiknya bentengi diri anda dengan menggunakan kondom dengan benar), Don’t Inject (jangan menggunakan narkoba, apalagi narkoba suntik), dan Education (perbanyaklah informasi tentang HIV AIDS-khususnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua untuk mereka yang sudah positif HIV, penting sekali mendapat care, support, and treatment dari orang lain. Kita sebagai saudara-saudara mereka, bukan justru menjauhi atau mendiskriminasikan mereka. Karena mendiskriminasi mereka tidak menyelesaikan masalah. HIV juga tidak menular melalui kontak sosial. Media penyebaran virus HIV ini adalah cairan kelamin, darah, dan air susu ibu. Penyebaran terutama melalui hubungan seksual, transfusi darah, ibu ke anak, dan jarum suntik yang tidak steril. HIV tak menular melalui gigitan nyamuk, bersalaman, berenang, berciuman, makan, atau menggunakan toilet bersama dengan orang dengan HIV/AIDS (ODHA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat seseorang tervonis positif HIV, biasanya semangatnya tiba-tiba turun drastis dari level 10 jadi 1 atau bahkan jadi 0. Ini karena kekurantahuan mereka bahwa HIV/AIDS bukan akhir segalanya. Pada saat inilah titik terpenting bagi kita untuk peduli dan mendukung mereka. Karena rasa bahagia terbukti bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh sehingga merupakan terapi yang sangat baik bagi ODHA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, wahai remaja, perbanyak dan lengkapi dirimu dengan informasi-informasi yang benar tentang HIV/AIDS. Apalagi 1 Desember nanti akan diperingati sebagai hari AIDS internasional. Pada saat tersebut, seluruh umat manusia di dunia diharapkan bisa menunjukkan kepedulian pada persoalan HIV/AIDS. Sebab, HIV/AIDS tak hanya masalah bagi mereka yang positif HIV atau keluarganya. HIV/AIDS adalah persoalan kita bersama, termasuk para remaja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-116296682089812792?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/116296682089812792/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=116296682089812792&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/116296682089812792'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/116296682089812792'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/11/hari-aids-momen-kepedulian-remaja-pada.html' title='Hari AIDS Momen Kepedulian Remaja pada HIV/AIDS'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-116235357120409249</id><published>2006-11-01T11:55:00.000+08:00</published><updated>2006-11-06T17:29:29.956+08:00</updated><title type='text'>Tanggapan soal Kelompok Dukungan Sebaya</title><content type='html'>saya ingin ikut berkomentar mengenai kelompok dukungan sebaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selama ini saya melihat kelompok dukungan sebaya sudah cukup membantu rekan-rekan Odha. tapi saya belum melihat secara nyata kegiatan teman-teman yang berada dalam kelompok dukungan Odha ( kelompok payung) apa sih yang teman-teman lakukan?? apa hanya mengurusi KDS??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maaf kalau saya boleh saran apakah anda sebagai kelompok payung tidak melihat persoalan-persoalan yang dihadapi rekan-rekan Odha. misalkan distibusi obat ARV yang sekarang tersendat-sendat, rekan-rekan Odha sebagai orang yang berada di bawah payung kelompok dukungan mengharapkan peran anda sebagai ujung tombak yang berkaitan dengan permasalahan mereka. apakah anda tidak melihat ini sebagai suatu masalah???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;anda tidak harus "menyusui" KDS yang sudah berdaya. sebab sebagai kelompok payung ODHA seharusnya anda peka terhadap masalah-masalah yang dihadapi Odha, bukannya ngurusin Odha-Odha yang sudah berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ya ini hanya masukan bukan untuk menyudutkan tetapi jujur saya sebagai Odha belum melihat kelompok payung melakukan satu advokasi yang yang berkaitan dengan masalah Odha!!! apakah memang dalam kegiatan anda yang utama hanya mengurusi KDS???? kalau memang begitu saya punya usul untuk mengubah nama kelompok dukungan dengan nama yayasan pemberdayaan kelompok, sepertinya nama itu lebih cocok buat organisasi anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;thanks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-anonymous-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-116235357120409249?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/116235357120409249/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=116235357120409249&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/116235357120409249'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/116235357120409249'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/11/tanggapan-soal-kelompok-dukungan.html' title='Tanggapan soal Kelompok Dukungan Sebaya'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-116132617306600889</id><published>2006-10-20T14:31:00.000+08:00</published><updated>2006-11-06T17:32:25.436+08:00</updated><title type='text'>Tidak Harus dengan Testimoni</title><content type='html'>saya ingin urun pendapat tentang 'langkah pasti melalui testimoni".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menurut pendapat saya sebagai odha, keterbukaan status tidak harus jorjoran. testimoni sah-sah saja dilakukan sepanjang hal itu bisa mempengaruhi keadaan atau kebijakan. "apakah ketika kita berbicara didepan orang banyak akan berdampak positif bagi Odha??"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya yakin tidak!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;masyarakat kita sekarang sudah banyak kebanjiran informasi berkaitan dengan HIV/AIDS. memang semakin banyak informasi semakin bagus,tetapi perlu diingat untuk keterbukaan status, masyarakat kita itu masih belum sepenuhnya bisa menerima keadaan Odha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jangankan masyarakat yang awam akan masalah ini petugas kesehatan saja masih mendiskriminasi Odha. jadi menurut saya akan lebih baik apabila kita terbuka akan status kita lihat kondisi dan situasi artinya saya lebih setuju apabila Odha bisa bersuara pada orang-orang atau instansi pemerintah (stakeholder) UNTUK MEMPENGARUHI KEBIJAKAN YANG MUNGKIN TIDAK BERPIHAK PADA ODHA. ini jauh lebih baik ketimbang kita harus berbicara di depan orang banyak yang pada ujung-ujungnya malah mengasihani atau mungkin yang lebih parah mendiskriminasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya tidak melarang Odha untuk terbuka di depan umum itu terserah anda.tetapi menurut saya sekarang ini kasus HIV/AIDS semakin banyak sedang kebijakan pemerintah terhadap Odha masih belum jelas.contohnya ketersediaan obat ARV masih tersendat-sendat dalam pendistribusiaanya. yang kita tahu bahwa apabila hal ini terus terjadi KEPATUHAN odha yang selama ini patuh akan minum obat akan sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ditambah lagi kawan-kawan odha kita yang sudah resistan pada ARV lini ke 2 sampai saat ini mereka belum ada kepasstian untuk mengganti obat mereka!! sebenarnya masih banyak lagi yang harus kita suarakan akan program yang dijalankan oleh pemerintah. jadi dari sedikit cerita saya apakah kita masih menggebu-gebu membuka status kita pada masyarakat yang bukan sebagai pemegang kebijakan??? hal ini perlu kita renungkan, disatu sisi mungkin ada sedikit nilai positifnya tetapi apabila kita bisa melakukan hal yang bisa mempengaruhi kebijakan yang tidak berpihak pada Odha jawabannya luarrrrrrr biaaasaa. karena kita semua perlu bukti dan action bukan janji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sekali lagi ini hanya pendapat bukan untuk melarang anda untuk terbuka di depan umum. karena saya menyadari itu merupakan hak anda sebagai manusia. tujuan dari tulisan ini bukan menyudutkan tetapi membuka pandangan Odha bahwa masih banyak masalah terutama dalam kebijakan pemerintah yang HARUSSS kita PERJUANGKAN. THANKSSS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salah satu odha di bali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RALAT&lt;br /&gt;maaf saya ingin meralat seddikit tukisan saya tentang obat RAV lini ke 2, seharusnya obat lini 1 yang sekarang tersedia di klinik2 VCT. mungkin saking semangatnya ya jadi kepleset deh nulisnya. biar gak salah info. tetapi ini hal yang perlu dipikirkan dan mungkin perlu di advokasi pada pemerintah menurut informasi yang saya dengar obat lini ke 2 sudah ada di DEPKES tapi bagaimana dengan nasib kawan kita yang mengalami resistan ARV lini ke 1? mereka perlu dukungan suara dari teman-teman Odha juga. apakah kita menunggu semakin banyak teman-teman Odha yang resistan ARV lini 1 baru kita bersuara?????&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mungkin teman-teman Odha bisa membicarakan masalah ini dalam pertemuan-pertemuan kelompok dampingan sebaya.bagaimanapun juga peran dari kelompok bisa membangkitkan semangat teman-teman Odha. satu suara mungkin masih samar-samar didengar, tetapi apabila kita bersuara banyak dan bersatu.akan terlihat hasilnya!!!!!! thanksssssssss.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-116132617306600889?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/116132617306600889/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=116132617306600889&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/116132617306600889'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/116132617306600889'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/10/tidak-harus-dengan-testimoni.html' title='Tidak Harus dengan Testimoni'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-116123843317132243</id><published>2006-10-19T14:12:00.000+08:00</published><updated>2006-10-19T14:13:53.186+08:00</updated><title type='text'>KDS untuk Tempat Saling Mendukung</title><content type='html'>KDS untuk Tempat Saling Mendukung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Asep Hidayat, Anggota Kelompok Dukungan Sebaya Addict+]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok dukungan sebaya (KDS) merupakan wadah untuk saling memberi dukungan, harapan, dan kekuatan bagi orang yang hidup dengan HIV/AIDS. Adanya kelompok ini sangat membantu persoalan mereka terkait dengan masalah kesehatannya. Di kelompok ini biasanya orang dengan HIV/AIDS (Odha) merasa nyaman dan mendapat dukungan dari sesama anggota kelompok. Sebab hampir semua anggotanya punya latar belakang sama yaitu sebagai Odha atau orang yang hidup dengan Odha (Ohidha).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja Chapung (26), ia mengetahui dirinya terinfeksi HIV sejak 2003 lalu. Status barunya itu ia peroleh, akibat penggunaan narkoba suntik. Saat ini ia harus rutin minum obat anti-retroviral (ARV), terapi bagi Odha. Pasalnya, sewaktu jadi pecandu narkoba ia kerap menggunakan jarum suntik secara bergantian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tahu dirinya terinfeksi virus tersebut, prilakunya mulai mengalami perubahan. Ia jarang keluar rumah dan terlihat murung. Bahkan suatu hari ia pernah mencoba untuk mengakhiri hidupnya dengan  menenggak cairan pembasmi serangga. Namun ternyata nasib berkata lain, Tuhan masih memberinya kesempatan untuk hidup dan menjalani kehidupannya dengan HIV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa tahun, tubuhnya menunjukan gejala-gejala kurang sehat. Mulai dari turunnya berat badan, diare berkepanjangan, sampai suhu tubuhnya sangat panas. Ia pun harus menjalani perawatan di salah satu rumah sakit daerah di Denpasar. Namun karena kondisi kesehatannya tidak mengalami perubahan dan sudah tidak punya biaya untuk berobat, ia memutuskan untuk pulang dan dirawat oleh kedua orang tuanya. Di tengah-tengah kondisi yang sangat parah itu, untungnya beberapa temannya menyarankan untuk menjalankan terapi ARV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu, kesehatannya berangsur-angsur membaik. Bahkan empat bulan pasca-terapi ARV ia sudah bisa melakukan aktivitas seperti biasanya. Hal ini ia manfaatkan untuk berkunjung ke berbagai LSM peduli AIDS di Denpasar. Salah satunya Yayasan Bali+, lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang memberikan dukungan bagi Odha dan pasangan atau keluarganya. Chapung kini bergabung di Addict+. Kelompok ini terbentuk pada 10 Desember 2003, berdasarkan kebutuhan beberapa mantan pecandu narkoba suntik yang terinfeksi HIV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Addict+, Chapung banyak mempelajari HIV/AIDS mulai dari penularan, pencegahan bahkan sampai pengobatannya. Selain itu juga, kini ia makin yakin bahwa Odha bukan orang yang tidak mempunyai harapan untuk hidup. Semua itu karena dukungan sesama anggota Addict+. ”Aku merasa jauh lebih baik setelah bergabung di kelompok Addict+. Aku juga mendapat dukungan dan bisa memberi dukungan pada yang lain,” tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya KDS, maka beban hidup pengidap HIV jadi lebih ringan. Sebab, di kelompok ini semua anggota memperoleh pengetahuan dan tujuannya agar mampu berdaya terhadap dirinya mupun sesama anggota. Selain itu ia mulai terbiasa menjalani hidup dengan HIV. Ia juga kerap melakukan kegiatan seperti penyuluhan ke sekolah-sekolah. Pada kesempatan itu biasanya ia melakukan kesaksian (testimoni) di hadapan siswa SMA dan SMP. Tujuannya agar siswa bisa mengambil hikmah dari pengalamannya sebagai pecandu dan kini harus hidup dengan HIV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Chapung memberikan dukungan itu hal utama yang harus ia kerjakan. Sehingga pengidap HIV/AIDS tak merasa sendiri dalam menghadapi masalahnya. [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-116123843317132243?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/116123843317132243/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=116123843317132243&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/116123843317132243'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/116123843317132243'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/10/kds-untuk-tempat-saling-mendukung.html' title='KDS untuk Tempat Saling Mendukung'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-116037625379618563</id><published>2006-10-09T14:42:00.000+08:00</published><updated>2006-10-09T14:44:13.813+08:00</updated><title type='text'>Selayaknya Kami Mendapatkan Perlindungan dari Negara</title><content type='html'>Sepenggal cerita dari kami…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pengguna napza, kami adalah orang-orang yang tersingkirkan dari masyarakat. Sudah cukup lama kami dianggap sebagai kriminal, dipenjarakan, dibunuh , dianggap sampah yang tidak berguna, dan segala citra negatif yang melekat pada diri kami...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kami tanyakan pada diri kami sendiri, apakah kami memang bercita-cita untuk menjadi pengguna napza? Pastinya semua akan menjawab ”TIDAK” untuk pertanyaan ini. Kami tidak ingin menjadi seorang pengguna napza kronis, namun kondisi dan keadaan-lah yang membuat kami menjadi ”sampah masyarakat”. Kami harus akui kekhilafan kami. Namun disisi lainnya, kami adalah korban!! Permasalahan yang timbul merupakan hasil dari sebuah sistem yang salah yang hanya berpihak pada penguasa dan mengenyampingkan nilai-nilai kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai korban, sudah seharusnya dan selayaknya kami mendapatkan perlindungan dari negara serta masyarakat. Perlindungan yang dapat mengantar kami pada akses layanan kesehatan, kesempatan untuk memperoleh pendidikan dan pekerjaan demi penghidupan yang layak, dan lain sebagainya. Kami perlu mengingatkan pada dunia bahwa kami adalah aset, yang bila dipelihara dan dirawat dengan baik juga dapat memberikan kontribusi positif terhadap kemajuan bangsa. Kami tunjukkan bahwa kami masih memiliki sisi positif yang patut mendapatkan penghargaan dari negara dan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah mencatat dari tahun ke tahun semakin banyak di antara kami yang terjangkit Hepatitis, HIV, dan penyakit lainnya; dipenjarakan secara tidak adil atas kepemilikan dan penggunaan napza; serta kematian terkait dengan pemakaian napza yang dikelola dan diedarkan di jalanan tanpa supervisi medis dan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pihak yang berusaha menjadi pahlawan dari keadaan ini, namun berbagai tindakan itu tidaklah menolong kami dan jika terus seperti ini cepat atau lambat masyarakat negeri ini akan terkena dampak yang sebelumnya terjadi pada kami. Dalam upaya penanggulangan masalah-masalah terkait oleh napza, keadaan kami semakin tertindas, berada di bawah tanah, tersingkir dari masyarakat negeri kami sendiri, dan mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sadar untuk melakukan perubahan tidak akan bisa jika hanya kami yang melakukan, maka kami ingin mengajak ”anda” yang mengerti dengan keadaan ini untuk melakukan sesuatu... bukan untuk kami tapi untuk bangsa ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pecandu dan orang yang terinfeksi HIV&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-116037625379618563?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/116037625379618563/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=116037625379618563&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/116037625379618563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/116037625379618563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/10/selayaknya-kami-mendapatkan.html' title='Selayaknya Kami Mendapatkan Perlindungan dari Negara'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-116003633127444699</id><published>2006-10-05T16:17:00.000+08:00</published><updated>2006-10-05T16:18:51.286+08:00</updated><title type='text'>Beragam Masalah Program Pengurangan Dampak Buruk</title><content type='html'>Beragam Masalah Program Pengurangan Dampak Buruk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Andy Mansrianto, Petugas Lapangan Yayasan Hatihati Denpasar]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut data Dinas Kesehatan Provinsi Bali per Juli 2006 lalu, jumlah orang dengan HIV/AIDS (Odha) di Bali berlatar belakang injecting drug user (IDU) mencapai 44,5 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan heteroseksual (38 persen), homo/biseksual (9 persen), tidak di ketahui (8 persen), dan bayi tertular dari ibu (0,5 persen). Penularan HIV di kalangan IDU akibat pengguna jarum suntik yang tidak seteril.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu dilaksanakanlah program pengurangan dampak buruk (harm reduction) seperti pertukaran jarum suntik atau needle exchange program (NEP) dan substitusi Methadone atau Subutex. Tujuannya mengurangi laju penularan HIV/AIDS di kalangan IDU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, menurut saya, program harm reduction masih menemui masalah. Sebagai contoh, dampingan saya di Kuta memiliki kelompok dan budaya karakter yang berbeda. Tingkat pemahaman mereka juga berbeda dan masih rendah. Misalnya klien Methadone menganggap program pelayanan Subutex tidak bagus, karena tidak bisa dipakai terapi dengan jangka panjang. Subutex dianggap hanya obat detoksifikasi jangka pendek. Kenyataannya sampai saat ini Subutex masih sangat diminati oleh dampingan di Kuta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun klien yang ikut Subutex pun menganggap methadone kurang bagus. Methadone dan Subutex adalah program pengganti putaw, yang diharapkan bisa mengatasi persoalan IDU agar pulih dari ketergantungannya pada narkoba. Masih ada beberapa dampingan yang mengalami hambatan meski sudah ikut pengalihan Methadone dan Subutex. Masih ada sebagian dampingan yang ikut Methadone maupun Subutex masih pakai putaw. Pemakaian dua substitusi itu pun sugestinya masih antara 20 persen hingga 30 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau pun demikian terbukti bahwa Methadone dan Subutex sudah bagus. Keduanya bisa mengurangi tingkat pemakaian jarum di kalangan IDU. Kemungkinan besar ketika para pecndu sudah pada pengalihan, tingkat kriminal pun akan menurun. Tingkat risiko tertular HIV/AIDS di kalangan IDU pun setidaknya berkurang. Tinggal ditingkatkan sistem pengawasan terhadap layanan-layanan yang sudah ada saat ini. Selain itu perlu juga memberikan pemahaman dan pengatahuan terus menerus pada dampingan IDU khususnya, maupun masyarakat umumnya tentang persoalan HIV/AIDS dan narkoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa perlu dilakukan? Agar dampingan paham dua permasalahan perilaku yang dihadapinya. Salah satunya perilaku risiko terhadap penyuntikan yang tidak aman atau masalah penyakit adiksinya dan perilaku seksnya sendiri. Bagaimana pasangan seksnya? Sudah aman apa belum? Hal ini penting kita cermati karena tak sedikit IDU yang sudah tak berbagi jarum ketika pakaw, namun masih enggan menggunakan kondom saat berhubungan seks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah pentingnya peran pemerintah, khususnya instansi di bidang kesehatan, LSM, untuk terus meningkatkan pencegahan dan informasih tentang bahaya penggunaan narkoba, dampak penularan HIV/AIDS, dan bagaimana cara mencegahnya. Ini perlu dilakukan agar HIV tidak makin menyebar dan kita semua jadi korban. [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-116003633127444699?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/116003633127444699/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=116003633127444699&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/116003633127444699'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/116003633127444699'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/10/beragam-masalah-program-pengurangan.html' title='Beragam Masalah Program Pengurangan Dampak Buruk'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-115958484662810986</id><published>2006-09-30T10:52:00.000+08:00</published><updated>2006-09-30T10:54:06.650+08:00</updated><title type='text'>Langkah Pasti Melalui Testimoni</title><content type='html'>Langkah Pasti Melalui Testimoni&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Putu Ikha Widari, anggota kelompok dukungan Tunjung Putih]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sebagian orang, testimoni mungkin bukan kata kata yang akrab di telinga. Testimoni adalah kesaksian seseorang terhadap apa yang dialami untuk dibagikan atau diperdengarkan di depan banyak orang. Tujuannya untuk menggugah empati orang lain terhadap masalah yang dia hadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bidang penanggulangan HIV/AIDS, testimoni kerap dilakukan oleh mantan pecandu yang sudah pulih, orang yang hidup dengan HIV/AIDS (Odha), maupun orang yang terdampak langsung dengan HIV/AIDS (Ohida). Testimoni hanya dilakukan oleh orang-orang yang sudah mau dan berani terbuka mengenai apa yang dia alami pada banyak orang secara terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang yang HIV Positif, kadang kala saya terjebak dengan kata kata testimoni. Di satu sisi saya berfikir saya hanya dijadikan tontonan atau objek bahwa seperti saya lah orang dengan HIV/AIDS. Tetapi di sisi lain saya ingin memberitahukan pada semua orang bahwa orang positif HIV bukanlah orang yang hidup dengan luka borok di tubuhnya. Bahwa Odha bukan orang yang tidak bisa melakukan aktivitas layaknya orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu keuntungan testimoni menurut saya adalah orang banyak akan tahu bagaimana Odha. Hal ini bertujuan mengurangi stigma dan diskriminasi di masyarakat. Dengan testimoni saya bisa berbagi dengan orang lain mengenai apa yang sudah yang saya alami  dan sudah saya lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita melakukan sesuatu pasti ada keuntungan dan kerugiannya.Tetapi menurut saya ini bukanlah sebuah kerugian tetapi hanya sebagai kendala dan ancaman jika kita melakukan testimoni. Di mana kita akan mendapatkan diskriminasi dari orang-orang yang belum paham tentang HIV/AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tidak semua Odha mau melakukan testimoni, seperti halnya Ayu (bukan nama sebenarnya ) perempuan yang hidup dengan HIV positif. Dia tidak mau testimoni dengan alasan takut ketahuan keluarganya bahwa dia seorang yang hidup dengan HIV positif. Dia juga takut kalau keluarga dan lingkungan sekitarnya tidak mau menerimanya dengan status HIV positfnya sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat testimoni bukan hanya bercerita tentang apa yang sudah dan telah kita alami sebagi orang positif, tetapi berbagi bagaimana menjalani hidup positif dengan HIV positif, berbagi informasi tentang HIV/AIDS, dan berbagi kekuatan dan harapan untuk orang orang yang sedang mendengarkan. Tapi ini kembali kepada individu kita masing-masing! Testimoni dilakukan dengan kesadaran bukan paksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah saya akan berhenti sampai tahap sebagai Odha yang testimoni? Dalam konferensi tingkat tinggi HIV/AIDS di Paris 1994, 42 negara menyatakan asas keterlibatan Odha yang disebut greater involvement people living with HIV/AIDS (GIPA) adalah penting. GIPA menekankan pentingnya Odha terlibat dalam penanggulangan HIV/AIDS. Menurut saya, terbuka soal status positif HIV melalui testimoni merupakan langkah awal untuk penanggulangan masalah ini. Kalau Anda tidak terbuka pada orang lain, bagaimana orang lain bisa mengerti Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Testimoni merupakan sumbangan penting yang dapat diberikan Odha/Ohidha dalam penanggulangan HIV/AIDS. Menciptakan suasana di masyarakat bagi keterlibatan secara aktif Odha/Ohidha dalam segala aspek penanggulangan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurur piramida GIPA, testimoni meurpakan bentuk keterlibatan Odha dalam posisi ke-3. Testimoni merupakan langkah yang ketiga seorang Odha hingga untuk sampai ke jenjang pengambil keputusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, testimoni merupakan langkah awal saya untuk melangkah lebih ke depan lagi. Berawal dari testimoni, saya bisa terlibat sebagai tim penasehat Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI), jaringan Odha Perempuan yang akan menjadi tim advokasi untuk menyuarakan kebutuhan perempuan, baik secara lokal maupun nasional. Saya yakin, dengan testimoni saya mampu mengenal orang-orang yang mampu mendorong dan membantu saya untuk mencapai piramida GIPA yang teratas. [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-115958484662810986?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/115958484662810986/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=115958484662810986&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115958484662810986'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115958484662810986'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/09/langkah-pasti-melalui-testimoni.html' title='Langkah Pasti Melalui Testimoni'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-115934237652029850</id><published>2006-09-27T15:24:00.000+08:00</published><updated>2006-09-27T15:32:56.536+08:00</updated><title type='text'>Simalakama Puasa bagi Odha</title><content type='html'>&lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Simalakama Puasa bagi Odha&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;[&lt;b&gt;Asep Hidayat&lt;/b&gt;, anggota kelompok dukungan Addict+]&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 2.0  (Linux)"&gt;&lt;meta name="CREATED" content="20060927;15323700"&gt;&lt;meta name="CHANGED" content="16010101;0"&gt;          &lt;style&gt;  &lt;!--   @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in }   P { margin-bottom: 0.08in }  --&gt;&lt;/style&gt;&lt;style&gt;!--   @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in }   P { margin-bottom: 0.08in }  --&gt;&lt;/style&gt;&lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Bulan suci Ramadhan telah tibas. Kehadiran bulan ini disambut gembira umat Muslim di seluruh dunia. Sebab bulan penuh berkah ini, jadi bulan penuh ampunan dan kesempatan menuai pahala berlipat-lipat bagi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Namun, bulan puasa juga jadi dilema bagi orang dengan HIV/AIDS (Odha) muslim yang menjalankan terapi anti-retroviral (ARV). Sebab ARV harus diminum tepat waktu dan tak boleh putus. Jika harus tetap ikut berpuasa, maka otomatis satu bulan penuh pola minum obat tidak teratur. Padahal seharusnya ARV harus diminum tepat waktu dan seumur hidup. Kalau sekali saja tidak minum akan menyebabkan resistensi dan kegagalan terapi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Bagi Odha muslim yang mempunyai kewajiban berpuasa, keadaan ini membuatnya serba salah. Di satu sisi sebagai muslim ia harus menjalankan perintah Tuhan. Sementara di sisi lain jika tetap pada pendiriannya untu menjalankan puasa tentu akan menimbulkan hal yang ia takutkan yaitu kegagalan terapi. Sementara secara psikologis hal tersebut juga membuatnya tertekan dan harus memilih yang mana, puasa atau tetap terapi ARV meski paham dan yakin bahwa kuasa Tuhan di atas segala-galanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Jika dipahami secara seksama, ketakutan terbesar Odha ialah kegagalan terapi dan akhirnya muncul infeksi oportunistik (IO) yang menyebabkan kematian. Urusan mati-hidup seseorang, memang Tuhan yang mengatur. Namun terkadang, alasan terapi ARV-lah yang membuat Odha tersebut serba salah dalam dilema berkelanjutan. Kalau tetap terapi berarti tidak menjalan perintah Tuhan. Sementara kalau tidak terapi berarti dengan sengaja membiarkan kematian datang. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Hal ini dialami Yusuf (nama samaran). Ia mengaku bingung mana yang harus dipilih, sementara ia sendiri paham bahwa pada akhirnya setiap mahluk hidup akan kembali pada Tuhannya. Namun karena ia sedang menjalankan terapi ARV, sudah dua kali bulan puasa ia lewati dengan tidak berpuasa. Perasaan bersalah dan dosa selalu menghantuinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Ia pun berharap suatu hari nanti obat untuk menyembuhkan HIV dapat ditemukan, atau cara kerja ARV tidak mengikatnya seumur hidup. Sehingga selain terapi ARV Odha juga bisa menjalankan terapi Spiritual.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Bagi sebagian orang, Odha muslim seharusnya lebih tegas untuk menentukan pilihan terkait masalah terapi ARV dan kewajibannya sebagai muslim untuk berpuasa. Namun kenyataannya, posisi Odha yang selalu serba salah itu sampai saat ini belum ada jalan keluarnya. Bahkan beberapa dokter yang menangani pasien terapi ARV pun tidak mampu memberi solusi yang tepat. Menanggapi masalah tersebut dokter hanya memberikan pilihan yaitu, ”Kalau ingin hidup lebih lama, Anda harus tetap menjaankan terapi. Tapi jika Anda merasa yakin dan percaya dengan pertolongan Tuhan, silakan berpuasa,”  ujar salah seorang dokter.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Lalu sampai kapan hal ini harus ia hadapi tanpa ada solusinya. Apakah selamanya Odha muslim tidak bisa berpuasa? Sementara pada akhirnya juga akan menghadap Sang Kuasa. Siapa yang harus bertanggung jawab atas situasi seperti ini? Mudah-mudahan saja Tuhan mengerti dengan keadaan ini. Amin.. [***]&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-115934237652029850?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/115934237652029850/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=115934237652029850&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115934237652029850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115934237652029850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/09/simalakama-puasa-bagi-odha.html' title='Simalakama Puasa bagi Odha'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-115924770648849874</id><published>2006-09-26T13:13:00.000+08:00</published><updated>2006-09-26T13:15:06.506+08:00</updated><title type='text'>Smash Narkoba Peduli HIV/AIDS</title><content type='html'>Smash Narkoba Peduli HIV/AIDS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Yusuf Rey Noldy, petugas lapangan Yayasan Hatihati Denpasar]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemakaian narkoba dengan jarum suntik merupakan salah satu faktor terbesar penularan HIV, virus penyebab AIDS. Hingga Agustus lalu hampir separuh orang dengan HIV/AIDS (Odha) di Bali berasal dari kalangan pengguna narkoba suntik (penasun). Selain penggunaan narkoba suntik, penyebab lain adalah perilaku berganti pasangan seks tanpa kondom serta dari ibu menyusui pada anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat fakta di atas maka perlu terus dilakukan upaya pencegahan penularan HIV/AIDS pada masyarakat umum. Agar pencegahan bisa dilakukan maka masyarakat perlu terlebih dulu untuk tahu apa itu HIV/AIDS, bagaimana cara penularan, serta bagaimana bentuk pencegahan HIV/AIDS. Upaya kampanye pencegahan ini bisa dilakukan lewat berbagai kegiatan. Salah satunya penyuluhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu malam pekan lalu, Yayasan Hati-hati, lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak di penanggulangan HIV/AIDS di kalangan penasun melakukannya dengan cara unik. Kampanye di sela-sela final pertandingan bola voli di Negara, Jembrana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejuaraan final bola voli oleh salah satu produsen rokok itu memperebutkan piala Bupati Jembrana 2. Acara yang diadakan di lapangan voli Lelateng Negara ini mempertemukan dua tim tangguh yang selama tiga bulan kompetisi berjuang. Keduanya masuk babak setelah menyisihkan satu demi satu lawan dari 22 tim yang berlaga dalam kejuaraan itu. Dua tim tersebut adalah Ordorek, Medewi Pekutatan vs Porsas, Sawe Dauhwaru, Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sela pertandingan tersebut tim dari Yayasan Hatihati menyampaikan pesan-pesan tentang HIV/AIDS dan narkoba ke setiap penonton yang datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pengunjung yang datang diberi brosur terkait dengan HIV/AIDS dan narkoba serta paket pencegahan sepeti kondom. Menurut Komsa Nursalam, Koordinator Yayasan Hatihati untuk wilayah Negara, panitia sudah mempersiapkan acara gebyar info itu sejak dua bulan lalu.  “Kami sengaja kami pilih melakukan acara ini di putaran final mengingat banyaknya penonton yang datang sehingga kampanye lebih tersebar luas,” kata Galle, panggilan akrab Komsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antusiasme masyarakat untuk mendapatkan informasi memang tinggi. Terbukti brosur dan paket pencegahan yang dibagi habis dalam sekejap. Beberapa penonton juga secara langsung terlibat diskusi dengan tim dari Yayasan Hatihati untik menggali lebih jauh apa itu HIV/AIDS dan dampak dari penggunaan narkoba termasuk zat adiktif lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami cukup puas dan sekaligus berterima kasih pada pihak penyelenggara yang sudah mau bekerjasama dan ikut peduli akan permasalahan HIV/AIDS dan narkoba, khususnya di wilayah Negara,” tambah Galle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk diketahui Yayasan Hatihati telah mengembangkan program ke wilayah Negara sejak Januari 2006. Hal ini mengingat makin menyebarnya penasun ke wilayah-wilayah lain di luar Denpasar dan Badung. Adapun kegiatan Yayasan Hatihati tersebut antara lain penjangkauan, penyuluhan, gebyar informasi, dan konseling pada kelompok berisiko. Untuk melakukan kegiatan tersebut Yayasan Hatihati punyai dua orang relawan yang secara aktif menjangkau kelompok-kelompok berisiko di wilayah setempat. Yayasan Hatihati juga telah melatih sepuluh orang relawan di masing-masing lokasi jangkauan. “Kami selalu libatkan dalam kegiatan-kegiatan yang sifatnya gebyar info,” tambah Galle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, tambah Galle, Yayasan Hatihati juga bekerjasama dengan pihak terkait seperti Puskesmas, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Jembrana, Dinas Kesehatan Jembrana, serta Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Jembrana dalam melakukan aktivitas yayasan di wilayah kabupaten Jembrana. Adapun pos Yayasan Hatihati untuk wilayah Negara ada di Puskesmas Kaliakah Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat antusiasme penonton, Galle berharap lebih baik lagi. “Ke depan kami sangat ingin bekerjasama lagi untuk mengadakan acara gebyar info serupa di turnamen bola voli selanjutnya,” katanya. Tujuannya agar masyarakat jembrana paham akan HIV/AIDS dan narkoba sekaligus juga bersama-sama membantu program pemerintah yang telah berjalan dalam penaganan HIV/AIDS dan narkoba. Sebab, kalau bukan kkita yang peduli masalah ini, lalu siapa lagi?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-115924770648849874?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/115924770648849874/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=115924770648849874&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115924770648849874'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115924770648849874'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/09/smash-narkoba-peduli-hivaids.html' title='Smash Narkoba Peduli HIV/AIDS'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-115883297051198842</id><published>2006-09-21T18:00:00.000+08:00</published><updated>2006-09-21T18:02:50.533+08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Puisi Lodovickus Gerong, manajer program Yayasan Hatihati Denpasar. Hatihati adalah lembaga pertama yang melaksanakan program pertukaran jarum suntik di kalangan pengguna narkoba dengan jarum suntik (penasun). Tujuannya utk mengurangi penularan HIV di kalangan penasun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusi ini dibuat sebagai refleksi Vicky ketika masih aktif cucaw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat menikmati,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penunggu Blog&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setiap insan adalah sama dan kebajikan&lt;br /&gt;memisahkan kita di hadapan&lt;br /&gt;raja sang penguasa alam jua insan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-115883297051198842?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/115883297051198842/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=115883297051198842&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115883297051198842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115883297051198842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/09/puisi-lodovickus-gerong-manajer.html' title=''/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-115873955703272607</id><published>2006-09-20T16:03:00.000+08:00</published><updated>2006-09-20T16:05:57.046+08:00</updated><title type='text'>Pengetahuan HIV/AIDS bagi Calon TKI</title><content type='html'>Pengetahuan HIV/AIDS bagi Calon TKI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Martinus S Agus, staf Yayasan Kesehatan Bali (Yakeba)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Anda ingin bekerja di luar negeri, sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI), sebaiknya carilah dulu informasi tentang HIV/AIDS. Kenapa demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerja di luar negeri, hingga saat ini masih jadi salah satu pilihan untuk menghasilkan dollar. Di Bali misalnya banyak sekali tenaga kerja yang berminat bekerja di kapal pesiar. Melihat besarnya gaji yang didapat, siapa pun pasti antusias dan ingin ikut bekerja di kapal pesiar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya ada beberapa negara yang ketat memberlakukan aturan mengenai syarat kesehatan seorang calon TKI. Perlahan tapi pasti beberapa perusahaan luar negeri pun memberlakukan hal yang sama, sangat ketat mengenai kesehatan calon tenaga kerja. Walau pun dari negara asal TKI sudah lolos pemeriksaan kesehatan, tapi di negara tujuan bekerja tetap diadakan pemeriksaan kesehatan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku ini memang diskriminatif. Saya sendiri tidak sepakat dengan adanya aturan ini. Apalagi kalau tes HIV dilakukan tanpa konseling dan tes secara suka rela atau voluntary, conceling, and testing (VCT). Tapi TKI tidak punya pilihan lain karena aturan itu sudah berlaku di negara tujuan. Kita perlu mengantisipasi persoalan ini sembari menunggu dihapuskannya aturan tes HIV bagi calon TKI tanpa VCT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat dari persoalan tersebut di atas, tes HIV jadi salah satu tiket untuk lolos jadi TKI. Kenapa? Karena aturan di tiap-tiap negara memang berbeda. Untuk itu calon TKI perlu tahu tentang apa itu HIV/AIDS, bagaimana penularan, dan seterusnya. Ada risiko bahwa jika tidak tahu, maka bisa tertular. Kalau sudah tahu, setidaknya bisa menghindari hal-hal yang potensial menularkan HIV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasihan kan kalau gara-gara tidak tahu tentang HIV/AIDS Anda ditolak kerja di luar negeri. Padahal untuk kerja di kapal pesiar misalnya tak sedikit uang yang harus keluar. Ada yang sampai Rp 20 juta. Uang itu bisa dari jual tanah, jual mobil, atau hasil tabungan bertahun-tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ijazah sudah di tangan, keterampilan sudah ada, dan semua persyaratan sudah terpenuhi tapi Anda ditolak gara-gara perusahaan yang masih diskriminatif pada orang dengan HIV/AIDS (Odha) kan bisa jadi masalah. Kita perlu mengantisipasi agar pengorbanan modal yang sudah dikeluarkan itu tidak sia-sia. Strateginya dengan mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai cara penularan HIV/AIDS, instansi mana yang punya kerja sama dengan kesehatan khususnya masalah HIVAIDS, serta lembaga swadaya masyarakata (LSM) apa saja yang menangani masalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makin banyak kita tahu akan makin bagus untuk bahan persiapan. Tidak usah malu bertanya. Sebab malu bertanya sesat di jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mencari informasi mengenai HIV/AIDS ke instansi pemerintah maupun LSM, tak kalah pentingnya adalah menjaga perilaku kita terutama kalau kita termasuk orang yang sudah aktif melakukan hubungan seksual. Jika Anda sudah punya pasangan, cari paling aman adalah dengan saling setia. Tidak usah berganti pasangan. Namun jika Anda orang yang suka berganti pasangan, sebaiknya gunakan alat pengaman. Dalam hal ini kondom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak laha pentingnya adalah menghindari perilaku berbagi jarum, terutama bagi pengguna narkoba dengan jarum suntik (penasun). Sebab, saat ini perilaku berbagi jarum suntik di kalangan penasun jadi sumber penularan HIV terbesar di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi untuk Anda yang akan jadi TKI, tunggu apa lagi? Carilah informasi sebanyak mungkin. Apalagi jika Anda termasuk orang yang berisiko seperti seks berganti pasangan atau mengguna narkoba dengan jarum suntik, ikutilah VCT. Di sana akan diberitahu tentang HIV/AIDS untuk kemudian disarankan tes jika Anda siap. Hingga saat ini, semua layanan itu gratis kok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, Anda sudah mengantisipasi sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi. Ingat, sebelum hujan, kita harus sedia payung. Kecuali jika Anda memang siap basah kuyup kena hujan lalu jatuh sakit. [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-115873955703272607?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/115873955703272607/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=115873955703272607&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115873955703272607'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115873955703272607'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/09/pengetahuan-hivaids-bagi-calon-tki.html' title='Pengetahuan HIV/AIDS bagi Calon TKI'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-115831475257480932</id><published>2006-09-15T17:41:00.000+08:00</published><updated>2006-09-15T18:05:52.586+08:00</updated><title type='text'>The Movement Just Begun!</title><content type='html'>Asap mengepul di ruang pertemuan Yayasan Kesehatan Bali [Yakeba] sore ini. Sekitar 50 pengguna heroin dengan jarum suntik [penasun] maupun mantan penasun ngobrol tentang perlunya  kelompok penasun untuk mengubah keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahyunda,  koordinator  Ikatan Persaudaraan Pengguna Napza Indonesia [IPPNI] Bali memulai dengan pertanyaan, "Apakah pecandu sudah tahu hak-hak mereka sebagai warga negara? Bahwa  pecandu juga punya hak melekat yang tak bisa hilang, meski ditangkap polisi?" Ruangan hiruk. Satu per satu mereka berseru tentang bagaimana selama ini mereka harus diam saja saat polisi mengehntikan mereka di jalan hanya karena dicurigai sebagai pecandu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uangku malah pernah diambil begitu saja setelah mereka tak menemukan barang," kata salah satu di antara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan satu jam itu mengalir. Tentang perlunya pecandu bersatu, merasa bahwa mereka punya persoalan yang sama. Kemudian mereka ingin tahu apa saja hak-hak yang tak bisa hilang sebagai warga negara. Misalnya bahwa polisi tidak berhak menyiksa atau merampas milik mereka saat menggeledah. Atau bahwa membawa jarum suntik bukan hal terlarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu satu kesadaran telah muncul. Bahwa pecandu punya peran dalam mengubah persoalan. Tak hanya sebagai masalah.  Misalnya mereka ingin gotong royong membersihkan Tukad Badung, atau Pantai Kuta. "Biar kita tidak hanya dianggap sampah," seru salah satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal bergerak pelan. Mengubah stigma. Atau syukur-syukur bisa mengubah aturan. Agar tak ada lagi pecandu yang diam tak melawan ketika hak-hak mereka dilanggar..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-115831475257480932?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/115831475257480932/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=115831475257480932&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115831475257480932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115831475257480932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/09/movement-just-begun.html' title='The Movement Just Begun!'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-115813282069783689</id><published>2006-09-13T15:27:00.000+08:00</published><updated>2006-09-13T15:33:40.710+08:00</updated><title type='text'>Rehabilitasi Tak Harus Berterali</title><content type='html'>Pengguna narkoba suntik masih jadi penyumbang terbesar kasus HIV/AIDS di Bali hingga bulan lalu. Karena itu diperlukan metode agar pengguna narkoba bisa berhenti memakai sama sekali (abstinence). Atau kalau tidak bisa berhenti memakai setidaknya sudah tak menggunakan narkoba dengan jarum suntik lagi (harm reduction). Rehabilitasi, dilihat dari sudut pandang itu, termasuk salah satu upaya mengurangi laju penularan HIV/AIDS. Oscar Parulian Silalahi menulis opininya tentang rehabilitasi tak harus di penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga berguna,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penunggu Blog&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rehabilitasi Tak Harus Berterali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Oscar Parulian Silalahi, Halfway House Unit Supervisor Yayasan Bali Nurani, Ketua Bidang Sumber Daya Manusia Bali Communtiy Cares]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengguna narkoba suntik masih jadi penyumbang terbesar kasus HIV/AIDS di Bali hingga bulan lalu. Karena itu diperlukan metode agar pengguna narkoba bisa berhenti memakai sama sekali (abstinence). Atau kalau tidak bisa berhenti memakai setidaknya sudah tak menggunakan narkoba dengan jarum suntik lagi (harm reduction). Rehabilitasi, dilihat dari sudut pandang itu, termasuk salah satu upaya mengurangi laju penularab HIV/AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun masih banyak kesalahpahaman tentang rehabilitasi. Hingga saat ini banyak orang masih  berpandangan, bahwa rehabilitasi terhadap kecanduan narkoba, masih menggunakan konsep lama, di mana seorang pecandu akan diperlakukan dengan keras agar mereka jera.&lt;br /&gt;“Aku tidak mau dimasukan ke rehab, dikurung kayak dipenjara dan diperlakukan seperti orang gila. Biar aku berhenti sendiri saja,” ungkap salah seorang pecandu aktif (pecandu yang masih menggunakan narkoba).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Menurut Andrei Simanjuntak, Direktur Program Rehabilitasi Yayasan Bali Nurani, sebagian besar pecandu aktif yang telah lama menggunakan, mungkin sudah merasa jenuh serta jera dengan kecanduannya. “Karena penyakit kecanduannya lebih powerful dari diri mereka sendiri maka sulit bagi mereka untuk bisa berhenti sendiri,” kata Andrei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana sebaiknya menangani masalah kecanduan ini? Hingga saat ini untuk sebagian besar kasus kecanduan, rehabilitasi adalah solusi terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya program rehabilitasi tersebut haruslah memiliki kriteria yang sesuai dengan prinsip-prinsip dasar program rehabilitasi. Prinsip-prinsip dasar program rehabilitasi narkoba tersebut antara lain:&lt;br /&gt;- Memandang klien (pecandu dalam program rehabilitasi) apa adanya sebagai manusia, dan mendahulukan kepentingan klien.&lt;br /&gt;- Mempunyai kepercayaan bahwa klien dapat berubah, seberat apa pun masalahnya.&lt;br /&gt;- Mengikutsertakan klien dalam menyusun rencana perawatan, untuk menambah tekad klien dalam menjalani pemulihan.&lt;br /&gt;- Memiliki komitmen dan tidak mudah putus asa. Tetap melanjutkan upaya walaupun telah sering mengalami kekecewaan dan kegagalan. Serta kreatif mencari pendekatan yang lebih efektif.&lt;br /&gt;- Dapat menerapkan batasan-batasan yang jelas dalam interaksi antara clinical staff (Staff ahli dalam program rehabilitasi) dengan klien.&lt;br /&gt;- Memiliki kode etik yang jelas, dalam menjalani fungsi program.&lt;br /&gt;- Menjaga kerahasiaan/konfidensialitas klien.&lt;br /&gt;- Memiliki fasilitas yang cukup memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut, pecandu haruslah diperlakukan sebagai manusia. Berarti mereka berhak menentukan pilihan atas hidupnya sebagai pribadi yang utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas dari program rehabilitasi adalah memotivasi mereka untuk melakukan perubahan ke arah positif serta menciptakan lingkungan yang kondusif bagi mereka untuk melakukan perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu program rehabilitasi juga harus menjalankan minimal 3 peraturan utama (cardinal rules) seperti :&lt;br /&gt;- No Drugs / Total Abstinence (tidak ada penggunaan narkoba dalam jenis apapun termasuk alkohol)&lt;br /&gt;- No Sex (tidak ada tindakan seksual)&lt;br /&gt;- No Violence (tidak ada tindakan kekerasan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat ini sudah banyak program rehabilitasi yang menerapkan prinsip-prinsip dasar tersebut. Sebagai salah satu contoh, program rehabilitasi di Yayasan Bali Nurani, yang berada di Bali. Dalam program rehabilitasi ini, klien (pecandu) tidak akan dipaksa apalagi dikurung dalam menjalani program pemulihannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien hanya akan dimotivasi untuk bisa melihat pemulihan sebagai sebuah kebutuhan yang utama bagi dirinya. Serta diminta untuk bekerja sama mematuhi peraturan program yang sebagian juga dibuat bersama-sama dengan para klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien juga diperkenankan mengikuti kegiatan di luar fasiliti program, seperti aktifitas kebugaran, kesenian, rekreasi dan pertemuan-pertemuan kelompok dukungan (Narkotic Anonymous dan Alcoholic Anonymous).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih menarik ternyata program ini memiliki subsidi/bea-siswa bagi mereka yang tidak mampu secara finansial, tetapi memiliki niatan yang kuat untuk berhenti menggunakan narkoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hal ini, sebaiknya kita mulai menyingkirkan mitos bahwa program rehabilitasi adalah sebuah proses yang menakutkan. Atau bahkan pandangan bahwa pecandu tidak memiliki kesempatan untuk berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya pintu menuju pemulihan bagi pecandu sudah terbuka lebar. Karena hidup ini adalah pilihan, maka marilah kita bersama-sama menentukan pilihan secara bijaksana..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-115813282069783689?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/115813282069783689/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=115813282069783689&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115813282069783689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115813282069783689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/09/rehabilitasi-tak-harus-berterali.html' title='Rehabilitasi Tak Harus Berterali'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-115804240802127848</id><published>2006-09-12T13:34:00.000+08:00</published><updated>2006-09-12T14:26:48.036+08:00</updated><title type='text'>Pikiran Tenang, Infeksi Oportunistik Susah Menyerang</title><content type='html'>Beberapa Orang dengan HIV/AIDS [Odha] mengaku lebih cepat terserang infeksi oportunistik [IO] ketika sedang stres. Nah, artinya, kalau pikiran tenang, IO lebih susah menyerang Odha. Ati Rati Hidayah, relawan Sobat di Yayasan Bali+ menulis opininya tentang masalah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang kali berguna,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penunggu Blog&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran Tenang, Infeksi Oportunistik Susah Menyerang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Ati Rati Hidayah, relawan Sobat di Yayasan Bali+]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang terlintas di pikiranmu ketika aku menyebut kata HIV-AIDS?” tanya saya pada salah satu teman. ”Mmm, kurus, sakit-sakitan, tidak bisa bangun dan meninggal,” jawabnya. Mungkin itulah jawaban sebagian besar orang bila ditanya tentang hal yang sama. Ini menunjukkan masih banyak orang salah paham terhadap HIV dan AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Human immunodeficiancy virus (HIV) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh kita. Waktu HIV masuk ke tubuh kita, kita dianggap terinfeksi HIV atau HIV “positif”. Tetapi hal ini tidak berarti kita sudah kena acquired immune deficiancy syndrome (AIDS). Kita bisa positif HIV bertahun-tahun sebelum gejala muncul. Namun lambat laun HIV menyebabkan semakin banyak kerusakan pada sistem kekebalan tubuh kita, sehingga kita menjadi sakit sakit dari infeksi yang tidak bisa diatasi oleh sistem kekebalan tubuh. Infeksi ini disebut infeksi oportunistik (IO). Bila kita mengalami IO tertentu kita dianggap AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua orang yang terinfeksi HIV akan kurus, sakit-sakitan dan pada akhirnya meninggal. Karena HIV bukan lagi penyakit yang mematikan namun tergolong penyakit kronis atau penyakit yang tidak dapat “disembuhkan” tetapi dapat dikendalikan seperti penyakit diabetes, asma, atau darah tinggi. Hal ini dikarenakan telah ada terapi ARV (anti-retroviral) yang dapat menekan jumlah virus HIV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya pada orang yang tidak terinfeksi virus HIV, orang dengan HIV/AIDS (Odha) diharuskan melakukan pola hidup sehat. Untuk menjaga kondisi tubuh kita, kita memerlukan makanan sehat yang memenuhi kebutuhan gizi, berolahraga secara teratur, dan istirahat yang cukup. Bagi orang yang terkena HIV maupun AIDS pola hidup sehat sangat penting untuk menghindari IO. Makanan yang bergizi tidak harus mahal, namun dapat memenuhi zat-zat yang dibutuhkan tubuh seperti protein, mineral, karbohidrat dan vitamin. Selain itu juga harus higienis. Olahraga adalah hal yang harus kita lakukan. Padahal olahraga merupakan kebiasaan yang harus dilakukan terus menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berajalan kaki secara teratur selama 15 menit merupakan olahraga yang paling mudah dan tidak memerlukan peralatan khusus. Apabila setiap hari dilaksanakan dapat menjaga kebugaran tubuh kita. Istirahat yang cukup juga bisa menjaga tubuh kita agar tetap bugar. Istirahat yang baik yaitu dengan tidur sehari minimal 8 jam. Karena seperti halnya mesin, tubuh memerlukan istirahat dan relaksasi. Terkait dengan IO, tubuh yang kurang istirahat akan lebih mudah untuk menerima penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang tak kalah penting dari menjaga kesehatan tubuh kita secara fisik, adalah menjaga pikiran dan jiwa kita agar tetap tenang. Ada pepatah Mensana In Corporesano, di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat. Maka antara kesehatan fisik dan jiwa sangatlah terkait. Apabila pikiran kita terganggu dan gelisah maka tubuh kita rentan terhadap penyakit. Tetapi apabila pikiran kita tenang, tetap ceria, tersenyum dan selalu berfikir positif maka secara otomatis tubuh kita akan meningkat kekebalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu hal untuk menenangkan pikiran mungkin dengan berpikir positif. Jika kita dinyatakan positif HIV, bersyukurlah karena Tuhan memberikan kesempatan pada kita untuk menyadari betapa penting melaksanakan pola hidup sehat dan berfikir positif tentang mengapa Tuhan memberikan  virus ini pada kita. Sakit dan kematian adalah milik semua orang bukan hanya ODHA.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak alasan mengapa kita harus bersyukur bila kita dinyatakan positif terinfeksi HIV?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering kita mendengar vonis seorang dokter terhadap pasiennya yang menderita kanker darah misalnya, bahwa umurnya tinggal hitungan bulan, dan orang tersebut tidak bisa mengendalikan penyakit yang dia derita. Dia hanya bisa menunggu hingga vonis itu terjadi. Namun berbeda dengan ODHA, dia diberi banyak kesempatan hingga vonisnya terjadi. Bahkan dia bisa mengendalikan kumpulan gejala penyakit yang dia alami. Dia diharuskan disiplin dengan adanya terapi obat untuk mengendalikan jumlah virus. Diharuskan menyeimbangkan diri antara hubungannya dengan sesama dan hubungannya dengan Tuhan untuk mencapai ketenangan jiwa. Selain itu juga dipaksakan untuk menjalankan pola hidup sehat. Apabila hal tersebut dilakukan dengan rasa gembira maka tidak akan ada beban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah terbukti bahwa banyak Odha yang kemudian menerima kenyataan positif HIV sebagai bahan untuk menata diri. Hidup mereka kemudian jauh berbeda dari sebelumnya. Misalnya dulu suka minum alkohol dan merokok, dia kemudian menghentikan kebiasaan merusak kesehatan tersebut. Alasannya karena minum alkohol dan merokok bisa memicu IO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada orang bijak berkata sesuatu yang baik dimulai dengan paksaan dari dalam diri kita. Apabila orang yang terkena infeksi HIV, tidak melakukan hal tersebut di atas, dia akan merasakan akibat secara langsung dari kelalaiannya. Setiap orang memiliki prinsip dasar dalam kehidupannya. Seperti jujur, tanggung jawab, disiplin, visioner, kerjasama adil dan peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terapi ARV bagi Odha, merupakan pelatihan yang sesuai dengan prinsip dasar hidup tadi. Jujur untuk meminum obat semestinya, tanggung jawab terhadap apa yang kita lakukan. Maka itu yang akan kita dapatkan, disiplin diri untuk mematuhi jadwal ART, visioner demi kualitas hidup kita ke depan, kerjasama dengan PMO (Pengawas Minum Obat) maupun Sobat kita untuk mengingatkan waktu minum obat. Adil karena terdapat prinsip apabila kita tidak patuh minum obat dan berpola hidup sehat maka dapat dipastikan kita akan sakit. Dan peduli pada kesehatan diri kita serta orang lain agar tidak tertular.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpikir positif semangat tinggi untuk tetap berjalan tegap adalah hal yang sangat penting bagi ODHA. Kematian pasti menimpa semua orang. Jadi janganlah takut mati. Karena kita hidup di dunia untuk mencari bekal kehidupan setelah mati,. Namun jangan mengharap mati karena hidup adalah anugrah yang sangat berharga. Semua manusia tidak ada yang mengetahui kapan maut menjemput. [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-115804240802127848?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/115804240802127848/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=115804240802127848&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115804240802127848'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115804240802127848'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/09/pikiran-tenang-infeksi-oportunistik.html' title='Pikiran Tenang, Infeksi Oportunistik Susah Menyerang'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-115796506163808896</id><published>2006-09-11T16:55:00.000+08:00</published><updated>2006-09-11T16:57:41.646+08:00</updated><title type='text'>sungguh engkau serakah, emas dan beras</title><content type='html'>Ini puisi Lodovickus Gerong, manajer program Yayasan Hatihati Denpasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brangkali ada yang mau baca. :))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penunggu Blog&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sungguh engkau serakah, emas dan beras&lt;br /&gt;jua uang kau tumpukkan, kepada&lt;br /&gt;si pengemis kau berikan kalajengking&lt;br /&gt;sesungguhnya jiwamu jauh lebih jelata dari si pengemis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-115796506163808896?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/115796506163808896/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=115796506163808896&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115796506163808896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115796506163808896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/09/sungguh-engkau-serakah-emas-dan-beras.html' title='sungguh engkau serakah, emas dan beras'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-115769892094933377</id><published>2006-09-08T14:47:00.000+08:00</published><updated>2006-09-08T15:02:01.043+08:00</updated><title type='text'>Pentingnya Olahraga Terutama bagi ODHA</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;September nanti ada Hari Olahraga Nasional. Momentum ini mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga kesehatan, terutama bagi Odha. Putu Ikha Widari, anggota kelompok dukungan Tunjung Putih menulis pendapatnya tentang itu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;Semoga bisa memotivasi kita untuk mengolahragakan masyarakat. :))&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;Penunggu Blog&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Pentingnya Olahraga Terutama bagi ODHA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal"&gt;[&lt;b&gt;Putu Ikha Widari&lt;/b&gt;, &lt;i&gt;anggota Kelompok Dampingan Tunjung Putih&lt;/i&gt;] &lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;Karena lemah sistem kekebalan tubuhnya, orang dengan HIV/AIDS (Odha) sangat rentan dengan berbagai macam penyakit. Ini dikarenakan, HIV menyerang sistem kekebalan tubuh seseorang. Akibatnya Odha juga memiliki daya tangkal penyakit lebih rendah dibandingkan orang normal atau orang yang tidak hidup dengan HIV/AIDS. Daya tahan tubuh Odha menurun disebabkan sel darah putih atau dikenal dengan sel CD4 terus digerogoti oleh HIV.&lt;/p&gt; Olahraga dapat meningkatkan tenaga. Melawan kelelahan dan depresi. Olahraga juga dapat dapat meningkatkan kesehatan sistem kekebalan tubuh.    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Jenis olahraga itu sendiri macam-macam. Misalnya renang, bulu tangkis, tenis, sepak bola, basket sampai lari-lari kecil atau bahkan berjalan kaki. Jalan kaki, lari-lari kecil adalah olahraga yang bisa tergolong murah, karena bisa dilakukan di manapun dan kapan pun tanpa mengluarkan biaya yang besar.&lt;/p&gt;       &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Itu bukan berarti Odha tidak boleh atau tidak mampu melakukan olahraga. Odha bisa memilih olahraga untuk menjaga kesehatan. Tentu saja dengan melakukan olahraga yang tidak terlalu berat dan melelahkan. Jalan kaki atau lari-lari kecil adalah salah satu alternatif untuk Odha melakukan olahraga. Bukan berarti Odha tidak mampu melakukan olahraga yang bisa dikatakan berat.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal"&gt;Memperbaiki pola tidur dan meningkatkan nafsu makan, membantu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menahan dan penurunan CD4, mengurangi stres adalah manfaat yang didapat dari olahraga untuk Odha. Dan tentunya masih banyak lagi. Olahraga tidak dapat mengendalikan HIV, tetapi membantu untuk Odha merasa lebih sehat dam melawan berbagai dampak HIV dan efek samping dari obat-obatan yang dipakai Odha.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal"&gt;Memilih olahraga yang nyaman untuk kita adalah salah satu cara untuk mengurangi risiko dari olahraga itu sendiri, terutama bagi Odha. Apakah itu bersepeda, jalan kaki, ataupun berlari. Atau bahkan olahraga untuk melancarkan pernapasan, seperti yoga atau meditasi.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mengkonsumsi gizi seimbang atau makan makanan empat sehat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; sempurna, minum air putih secara teratur dapat menurangi resiko dehidrasi ataupun risiko lainnya jika kita melakukan olahraga. Berkonsultasi dengan dokter sebelum Odha melakukan olahraga akan sangat membatu untuk bisa memilih olahraga yang baik dan tidak terlalu berat bagi Odha. Melakukan olahraga yang bertahap untuk Odha agar tidak malah menimbulkan penyakit lainnya. Seperti &lt;i&gt;wasting&lt;/i&gt; atau penurunan berat badan yang drastis karena melakukan olahraga yang terlalu berat dan melelahkan.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Bukan hanya Odha yang bisa melakukan itu semua, tetapi kita semua. &lt;/span&gt;Jadi tetap melakukan hal-hal positif bukan hanya untuk orang positif HIV. Selalu berpedoman pada pedoman &lt;i&gt;abstinence, be faithfull, condom, don’t inject, &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;education&lt;/i&gt; (ABCDE ) akan menghindarkan kita dari bahaya HIV/AIDS. Dukungan untuk Odha &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt; memberikan semangat untuk Odha dalam menjalani hal positif untuk hidupnya. [***]&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-115769892094933377?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/115769892094933377/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=115769892094933377&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115769892094933377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115769892094933377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/09/pentingnya-olahraga-terutama-bagi-odha.html' title='Pentingnya Olahraga Terutama bagi ODHA'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-115753159694854778</id><published>2006-09-06T16:28:00.000+08:00</published><updated>2006-09-06T16:33:16.963+08:00</updated><title type='text'>Perlunya Program Pertukaran Jarum Suntik di Lapas</title><content type='html'>Sudah rahasia umum bahwa penjara adalah tempat paling aman bagi peredaran narkoba. Napi maupun tahanan dengan mudah nyuntik heroin di sana. Barang mudah didapat. Masalahnya justru cari jarum yang susah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, Asep Hidayat, mantan pecandu yang juga pengurus Kelompok Dukungan Addict+ menulis tentang perlunya program pertukaran jarum suntik di penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat membaca,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penunggu Blog&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlunya Program Pertukaran Jarum Suntik di Lapas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Asep Hidayat, mantan pecandu, anggota Kelompok Dukungan Addict+&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Program pertukaran jarum suntik (perjasun) atau needle exchange program (NEP) saat ini hanya dilaksanakan di tempat-tempat pengguna narkoba suntik (penasun) nongkrong atau tinggal. Padahal, peredaran narkoba tidak hanya di lingkungan masyarakat umum. Hal ini terbukti dengan pengakuan beberara mantan nara pidana yang tersandung kasus narkoba. Mereka mengatakan meski berada di dalam tahanan (penjara), kebiasaan menyuntik masih dilakukan. Bahkan sebagian dari mereka mengaku terinfeksi HIV saat di Lapas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja Kancil (41) ia pernah menghuni Lembaga Permasyarakatan (LP) hampir empat tahun gara-gara tertangkap mengedarkan putaw. Pengalamannya di dalam tahanan, saat itu ia mengaku masih aktif menggunakan narkoba suntik meskipun berada di dalam tahanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ia dan teman-temannya kesulitan memperoleh jarum suntik steril. Alhasil jarum suntik berkarat dan tumpul pun terpaksa mereka gunakan untuk menyuntik. Hal ini menjadi masalah serius dengan makin meningkatnya kasus-kasus HIV yang terjadi pada nara pidana. Selain infeksi HIV, beberapa mantan Napi yang pernah melakukan test darah, juga positif mengidap Hepatitis. Lalu, upaya apa yang seharusnya dilakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peredaran narkoba di dalam Lapas bukan rahasia umum lagi. Berbagai berita di media massa terkait peredaran narkoba di Lapas juga kerap terdengar. Hal ini diperkuat dengan pengakuan mantan nara pidana yang mengaku saat di dalam tahanan ia masih sempat menggunakan narkoba suntik. Untuk menyikapi masalah tersebut, diperlukan tindakan nyata. Di tengah-tengah himpitan ekonomi yang semakin kencang, sebagian orang rela melakukan apa saja demi mendapatkan uang, sehingga barang haram dan ilegal seperti narkoba pun, jika di balik semua itu uang yang berbicara, maka bukan mustahil bisa masuk ke Lapas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, jelas sudah tidak ada jaminan bagi seorang pecandu yang masuk tahanan bisa sembuh dari ketergantungannya. Bahkan keadaan seperti ini akan menciptakan “manusia-manusia penyakitan”. Meski awalnya sebagian dari mereka hanya lah orang apes yang ketahuan “nyolong Ayam”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk  itu, marilah kita buka hati, mata, telinga lebar-lebar. Bahwa masalah narkoba dan HIV/AIDS tidak hanya dilingkungan masyarakat umum saja. Justru di Lapas yang semestinya, tempat orang mengubah prilakunya kearah yang lebih baik, namun malah menjadi tempatnya berbagi penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Risiko penularan HIV dan penyakit lainnya melalui darah, besar kemungkinannya melalui jarum suntik yang tercemar berbagai penyakit. Apalagi didukung dengan pola hidup sehat yang tidak baik serta asupan gizi yang buruk. Hal ini akan mempercepat seseorang mengalami penyakit stadium lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, satu-satunya cara paling efektif memutus mata rantai penularan HIV dan penyakit lainnya yang ditularkan melalui darah ialah ketersediaan alat suntik yang steril. Di samping itu juga, selain penyediaan alat suntik steril tentu adanya informasi yang konperhensif terkait masalah HIV dan Narkoba. Sehingga lambat-laun penularan HIV  dan penggunaan narkoba suntik bisa ditekan serendah mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengimplementasikan hal tersebut, tidak ada kata lain, selain “Pertukaran jarum suntik di Lapas sekarang!”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-115753159694854778?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/115753159694854778/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=115753159694854778&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115753159694854778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115753159694854778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/09/perlunya-program-pertukaran-jarum.html' title='Perlunya Program Pertukaran Jarum Suntik di Lapas'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-115744555995122921</id><published>2006-09-05T16:29:00.000+08:00</published><updated>2006-09-05T16:39:19.966+08:00</updated><title type='text'>Pecandu Narkoba Butuh Rehab, Bukan Penjara</title><content type='html'>Danu, 35 tahun, mantan pecandu narkoba. Dia pernah ditendang, dipukul,  disiksa, diperlakukan tidak manusiawi oleh polisi. Waktu itu dia ditangkap karena membawa heroin. Dia mengaku bersalah. Maka dia pasrah ketika polisi memukulinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Selasa hari ini dia baru tahu bahwa dia punya hak untuk tidak disiksa. Bahwa sebagai pecandu -saat itu- dia masih punya hak asasi yang tak boleh dilanggar oleh aparat negara, termasuk polisi. Kesadaran Danu muncul setelah diskusi di Yayasan Kesehatan Bali (Yakeba) hari ini dengan sekitar 10 mantan pecandu lain. Bahasan mereka tentang hak asasi manusia, terutama di kalangan pecandu. Hadir dalam diskusi itu Wayan "Gendo" Suardana, Ketua Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI) Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi dari pukul 10.30 hingga pukul 15.00 wita itu ngobrol tentang apa saja sih pengertian HAM, apa saja yang termasuk HAM, dan apa hak-hak pecandu sebagai -misalnya- tersangka dalam kasus narkoba. Terungkap misalnya bahwa sebagian besar pecandu saat ditangkap polisi tak tahu bahwa mereka tak boleh disiksa. "Atas alasan apa pun, penyiksaan pada tersangka termasuk pelanggaran HAM," kata Gendo yang pernah dipenjara degan tuduhan menghina presiden tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IGN Wahyunda, program manager Yakeba mengatakan melalui diskusi ini diharapkan akan tertanam kesadaran di aktivis-aktivis tersebut tentang HAM. Dari situ, kesadaran akan diteruskan pada pecandu yang masih aktif di lapangan. Harapannya pecandu nantinya bisa mengetahui hak-haknya kemudian memperjuangkannya. Termasuk hak untuk dimasukkan rehab kalau tertangkap, bukan dijebloskan ke penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena penjara bukan jawaban bagi pecandu. Tapi menambah masalah," kata mantan pecandu yang juga koordnator Ikatan Persaudaraan Pengguna Napza Indonesia (IPPNI) wilayah Bali ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-115744555995122921?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/115744555995122921/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=115744555995122921&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115744555995122921'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115744555995122921'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/09/pecandu-narkoba-butuh-rehab-bukan.html' title='Pecandu Narkoba Butuh Rehab, Bukan Penjara'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-115735251061504343</id><published>2006-09-04T14:44:00.000+08:00</published><updated>2006-09-04T14:48:30.630+08:00</updated><title type='text'>Panggilan Lonceng Peduli HIV/AIDS</title><content type='html'>Kalangan pemusik pun peduli masalah HIV/AIDS. Ini tulisan lama. Tapi gapapa kalo baru diposting di blog ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga berguna,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penunggu Blog&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggilan Lonceng Peduli HIV/AIDS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Yusuf Rey Noldy, Yayasan Hatihati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat malam awal Agustus lalu, 15 band underground Denpasar berkumpul untuk menunjukkan kepedulian pada masalah HIV/AIDS dan narkoba. Mereka tampil di konser bertajuk Tinkerbell Part 2. Konser tersebut digelar Tinkerbell, kumpulan anak muda underground di Denpasar, bekerjasama dengan Yayasan Hatihati, lembaga swadaya masyarakat penanggulangan HIV/AIDS di kalangan pengguna narkoba suntik (penasun). Selain 15 band undergorund, konser itu juga dimeriahkan tiga band tamu yaitu Superman Is Dead, The Djihard dan Postmen. Total 18 band yang main membuktikan bahwa musisi Bali juga peduli pada masalah HIV/AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai dukungan pada penanggulangan HIV/AIDS dan narkoba, konser itu juga diisi dengan testimoni oleh Gale, mantan penasun. Selain testimoni, Gale yang kini bertugas sebagai petugas lapangan Yayasan Hatihati itu juga memberikan sosialisasi tentang HIV/AIDS dan narkoba. Informasi tersebut tambah lengkap karena di sela-sela konser, pembawa acar juga mengampanyekan bahaya narkoba dan pentingnya penanggulangan HIV/AIDS di Bali. Acara yang digelar di bekas lokasi pameran  Jl Kargo Permai Ubung Denpasar Utara itu dipandu MC dari Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut ketua panitia Nova tema yang diangkat dalam konser kali ini adalah “A Sad Awakening”. Apabila digabung dengan Tinkerbell, maka artinya panggilan lonceng bangkit dari kesedihan. Menurut Nova hal ini untuk mengajak semua pihak bangkit dari kesedihan akibat bencana di tanah air maupun dari persoalan HIV/AIDS dan narkoba yang tak kunjung selesai di negeri ini. Sengaja atau tidak, tema ini sangat pas karena juga digelas pas Agustusan sesuai dengan tema kemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nova menambahkan, konser seperti ini sebenarnya sudah pernah dilaksanakan tetapi pada pelaksanaannya belum pernah melibatkan LSM. “Baru kali ini kami melibatkan LSM dengan tujuan mengubah persepsi masyarakat terhadap musik underground. Bahwa musik underground tidak identik dengan drugs,” tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menggelar konser ini, lanjut Nova, pihaknya sangat kesulitan mencari sponsor utama. Toh begitu  ada beberapa pihak yang membantu dalam penggalangan dana konser, acara ini tetap bisa terlaksana sesuai jadwal panitia pelaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesulitan juga terjadi akibat susahnya mencari tempat konser di Denpasar. “Tempatnya sangat terbatas,” kata Nova. Nyatanya, setelah ke sana kemari, di dapatlah tempat konser di bekas lokasi pameran tersebut. “Kami melihat antusias penonton sangat baik. Meski pun sempat terjadi kericuhan kecil, itu merupakan bagian dari ekspresi mereka terhadap musik dan tidak ada masalah. Sebab setelah itu mereka berbaur kembali menikmatinya,” ujar Nova.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konser ini, panitia sebenarnya menargetkan bisa menjual 1000 tiket plus kondom yang disediakan pihak sponsor. ternyata tiket yang terjual habis hanya 800 lembar. “Masih jauh dari harapan panitia, tapi kami cukup puas karena acara ini berlangsung sukses,” kata Nova. “Kami berharap acara ini bisa berlanjut terus tiap tahun dan kami tetap akan bekejasama dengan lembaga-lembaga sosial,” ujar mahasiswa ISI Denpasar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan Nova disambut baik Vicky, program manager Yayasan Hatihati. “Acara seperti ini sangat bagus karena kami bisa berinteraksi dengan komunitas musik terutama aliran punk dan memberikan informasi HIV/AIDS serta narkoba,” kata Vicky. Menurutnya, konser bisa jadi sarana kampanye pada remaja, khususnya pada penikmat band aliran punk. Informasi misalnya narkoba secara umum dan dampak buruk dari pemakaian drugs itu sendiri.. “Paling penting, yang kami ingin sampaikan adalah musik tanpa drugs adalah nikmat,” tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk ke depan, Yayasan Hatihati mempunyai rencana untuk melakukan kegiatan serupa tetapi dengan mengorganisir lebih baik agar informasi tentang HIV/AIDS dan narkoba  yang nantinya disampaikan bisa lebih terarah. “Kami masih ingin bekerjasama dengan pihak Tinkerbell dalam mengorganisir komunitas band underground,” ujar Vicky.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-115735251061504343?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/115735251061504343/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=115735251061504343&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115735251061504343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115735251061504343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/09/panggilan-lonceng-peduli-hivaids.html' title='Panggilan Lonceng Peduli HIV/AIDS'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-115716792858777978</id><published>2006-09-02T10:57:00.000+08:00</published><updated>2006-09-02T11:32:08.606+08:00</updated><title type='text'>Pijat Sehat ala Yayasan Matahati</title><content type='html'>Capek karena kerjaan sehari-hari? Wah, kenapa ga coba pijat di Yayasan Matahati. Lembaga penanggulangan HIV/AIDS di kalangan pengguna heroin suntik yang berkantor di Batubulan, Gianyar ini ternyata punya tempat pijat yang menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin kami mencobanya. Ceritanya Matahati mengadakan open house. Ya kurang lebih gitulah. Intinya mereka ngundang teman2 aktivis LSM di Bali untuk kumpul2. Makannya enak. Ada tuna panggan, ayam goreng, dan.. -merem dulu nginget seger dan pedesnya- ..gulai ikan. Acaranya juga seru. Makan2 lalu nyanyi rame2. :))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling asik ya demo pijat itu. Yang mau duduk memeluk massage chair alias kursi pijat. Punggung diraba pelan-pelan. Agak ditekan hingga terasa samapi tulang. Naik turun. Pinggir punggung ditekan lagi dengan jari-jari. Lalu tangan. Mulai jari, tangan, lengan, hingga pundak. Pelan. Keras. Klimaksnya saat bagian belakang kepala. Darah seperti mengalir deras ke seluruh tubuh ketika tangan itu meremas rambut bagian belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pijat ala Matahati sudah hampir setahun ini jalan. Lokasinya di daerah Kerobokan, Kuta Utara. Mereka juga melayani panggilan. Asal ya jauh dari. Mau coba silakan datang ke Matahati Massage di Jl Mertanadi No 86E Kerobokan, tak jauh dari penjara. Atau mau minta pelayanan di rumah saja. Telpon aja 7425001, 8476065.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kok iklan banget, sih? Emberr.. Abis dapat pijat gratis soale. :))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penunggu Blog&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-115716792858777978?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/115716792858777978/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=115716792858777978&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115716792858777978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115716792858777978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/09/pijat-sehat-ala-yayasan-matahati.html' title='Pijat Sehat ala Yayasan Matahati'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-115709615650427987</id><published>2006-09-01T15:32:00.000+08:00</published><updated>2006-09-01T15:35:56.516+08:00</updated><title type='text'>sebelum aku memanggil engkau</title><content type='html'>Lagi2 puisi Vicky, manajer program di Yayasan Hatihati Denpasar. Tetap tanpa tanggal dan tempat. Tapi puisi2 ini lahir karena pengalamannya pernah pakai narkoba dengan jarum suntik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebelum aku memanggil engkau&lt;br /&gt;sudah berpaling padaku&lt;br /&gt;aku hanya mengharap sedekah&lt;br /&gt;engkau memberiku selumbung&lt;br /&gt;sesungguhnya dalam hatimulah Tuhan&lt;br /&gt;bermukim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-115709615650427987?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/115709615650427987/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=115709615650427987&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115709615650427987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115709615650427987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/09/sebelum-aku-memanggil-engkau.html' title='sebelum aku memanggil engkau'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-115700681358592478</id><published>2006-08-31T14:42:00.000+08:00</published><updated>2006-08-31T14:46:53.606+08:00</updated><title type='text'>Sobat sebagai Pendorong Kepatuhan Terapi ARV bagi ODHA</title><content type='html'>Kepatuhan minum obat jadi salah satu keberhasilna terapi anti-retroviral (ARV) bagi orang dengan HIV/AIDS (Odha). Sobat, bahasa kerennya buddies, adalah satu faktor untuk mengingatkan Odha minum obat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanannya, Sobat, ternyata tak hanya jadi pengingat minum obat tapi juga teman bagi Odha. Made Putri Ayu Rasmini alias Ollam, relawan Sobat Bali+ juga aktif sebagai anggota Leader Team Komunikasi Informasi Edukasi Kisara, menuliskan opininya tentang Sobat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penunggu Blog&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sobat sebagai Pendorong Kepatuhan Terapi ARV bagi ODHA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh Made Putri Ayu Rasmini alias Ollan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) berhak atas kehidupan sehat, bahagia, memiliki keturunan, tidak dikucilkan, dan mendapat perlakuan yang tidak diskriminatif. Penanggulangan HIV/AIDS tidak terhenti di upaya pencegahan saja, akan tetapi marilah bersama-sama merangkul teman-teman ODHA, memberikan layanan sekaligus dukungan bagi mereka. Hentikan stigma!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini telah dikembangkan obat anti-retroviral (ARV) untuk melawan HIV yang terus menerus menggerogoti kekebalan tubuh ODHA. Terapi ARV (ART) mengubah HIV/AIDS dari penyakit “mematikan” menjadi penyakit “kronis”. Penyakit kronis tidak dapat disembuhkan tapi dapat dikendalikan seperti diabetes, hipertensi, dan asma. Dibandingkan dengan obat perangsang kekebalan tubuh atau jamu, hanya ART yang paling efektif menekan replikasi HIV di dalam tubuh ODHA. Sebab ART langsung melawan HIV sehingga memperpanjang umur ODHA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepatuhan minum obat berdampak besar terhadap keberhasilan terapi ini. Kepatuhan meliputi aspek obat yang tepat, diminum pada waktu yang tepat dan dengan cara yang tepat pula. Hilang satu obat atau lupa dosis terlalu sering menyebabkan replikasi virus terus terjadi, kekebalan tubuh menurun, infeksi oportunistik, muncul resistensi, dan mengakibatkan terapi gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepatuhan merupakan tantangan berat bagi ODHA. Alasan ODHA kesulitan dengan kepatuhan adalah karena ART bukan pengobatan yang menyembuhkan. ART tak seperti minum obat sakit kepala, hilang sakit kepala berhenti minum obat. ART dipakai seumur hidup ODHA tersebut. Ini menjadi beban materiil, moril, fisik dan mental bagi ODHA. Belum lagi efek samping obat ARV yang harus dialami ODHA dalam menjalani ART. Seperti diare, mual dan muntah, masalah kulit (ruam, gatal), anemia, neuropati perifer (kesemutan, pegal, mati rasa, sulit jalan kaki), emosi yang labil, insomnia, serta halusinasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena alasan di atas, ODHA membutuhkan dukungan berkesinambungan dan semangat besar agar meneruskan terapi. Inilah perlunya Sobat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan survey kecil Yayasan Bali Plus, ODHA membutuhkan Sobat sebagai teman sebaya atau pendamping, pengawas minum obat (PMO), pendengar yang baik, pendukung bagi keluarga ODHA, dan sumber informasi HIV/AIDS, perawatan ARV serta rujukan bagi ODHA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pelatihan Relawan SOBAT Januari dan Maret lalu, saya dan 23 rekan Sobat lain dibekali materi terkait HIV/AIDS. Misalnya teknik komunikasi, dasar HIV, proses dukungan, dasar ART, Infeksi Oportunistik, Efek Samping ART, kode etik SOBAT, hingga perawatan ODHA di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program Relawan SOBAT ini mengarah pada pemberdayaan ODHA. Harapannya setelah program ini berakhir ODHA dapat mengakses layanan tersebut secara mandiri, sehingga pada prisipnya SOBAT lebih berperan dalam memudahkan akses daripada melakukan sesuatu untuk klien ODHA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Sobat berperan sebagai penyedia dukungan moril kepada ODHA. Dukungan ini dimaksudkan untuk menurunkan tingkat emosional dan perasaan terisolasi yang dialami ODHA. ODHA perlu dukungan emosional, cenderung memperlihatkan keinginan untuk berbagi perasaan dan ketakutan pada orang lain yang dapat mendukung dan berempati. ODHA perlu kepercayaan akan informasi pribadi yang mereka curahkan terjamin kerahasiaannya. Menjaga konfidensialitas (kerahasiaan) klien adalah salah satu kode etik Sobat. Kepercayaan tak dapat dibeli, hanya dapat dibangun dengan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, sebagai pendorong kepatuhan ART. Melalui pemberian informasi dengan intervensi yang cocok kepada ODHA tentang pemahaman efek samping, maka akan mendorong kepatuhan, serta memberantas mitos dan persepsi yang salah tentang ART. Selalu mengingatkan klien jam minum obat baik itu melalui telepon, SMS, maupun saat berkunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, sebagai pendorong pola hidup sehat, selalu mengingatkan pentingnya berpola hidup sehat bagi ODHA untuk mengurangi kemungkinan infeksi oportunistik. Sobat harus berusaha untuk menempatkan kesehatan secara fisik dan psikis kliennya sebagai prioritas utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, sebagai sumber informasi yang proporsional mengenai HIV/AIDS, perawatan ARV dan sistem rujukan untuk pelayanan ODHA di Bali. Tiap bulan diadakan pertemuan rutin Sobat, di mana informasi layanan dan rujukan selalu diperbarui. Pertemuan ini sekaligus sharing sesama Sobat tentang permasalahan yang dihadapi terkait pendampingan klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sobat adalah salah satu dari komunitas kelompok dukungan sebaya yang memiliki nilai-nilai hidup non-judgemental (tidak menghakimi), open mind (terbuka), dan tak diskrimintif. Memiliki kemampuan mendengarkan dan berempati sekaligus sensitif pada kebutuhan orang lain. Namun, yang terpenting memiliki motivasi dan komitmen, terlebih lagi kepedulian yang tinggi terhadap issue HIV/AIDS.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-115700681358592478?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/115700681358592478/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=115700681358592478&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115700681358592478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115700681358592478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/08/sobat-sebagai-pendorong-kepatuhan.html' title='Sobat sebagai Pendorong Kepatuhan Terapi ARV bagi ODHA'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-115691225777653501</id><published>2006-08-30T12:27:00.000+08:00</published><updated>2006-08-31T14:53:21.426+08:00</updated><title type='text'>Menghisap Teman</title><content type='html'>Seorang teman Odha, juga aktif di penanggulangan HIV/AIDS menulis puisinya soal benda unik ini. :))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silakan menikmati,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penunggu Blog&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghisap Teman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh Odha Imoet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentukmu bulat pipih. Tubuhmu dibalut warna putih. Kau&lt;br /&gt;teman setiaku. Dikala aku sedih, senang, tertawa,&lt;br /&gt;menangis. Tubuhmu mengandung racun. Mengelurkan asap&lt;br /&gt;dari setiap inci tubuhmu. Kau bisa membunuhKu. Kau&lt;br /&gt;bisa membuat, diriku mendapat serangan jantung, dan&lt;br /&gt;bahkan gangguan kehamilan. Aku senang bias selalu&lt;br /&gt;dekat denganmu. Meskipun aku tahu kau akan membunuhku&lt;br /&gt;pelan-pelan. Aku tahu kau akan menggerogoti setiap&lt;br /&gt;rongga paru-paruKu. Membuat sesak dada dan nafasku.&lt;br /&gt;Nikotin,Tar adalah bagian dari tubuhmu. Kau tidak&lt;br /&gt;hanya menggangguku. Tetapi juga mengganggu orang lain&lt;br /&gt;dengan asap laknatmu. Kau dijual bebas. Meskipun&lt;br /&gt;pemerintah selalu melarang. Rokok nama tenarmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kamu menabung uang yang kau belikan rokok,&lt;br /&gt;mungkin kau kan bisa membuat sebuah hotel," kata dokter&lt;br /&gt;yang selalu mengingatkanku untuk menjauhimu.&lt;br /&gt;Aku belum siap berpisah denganmu. Aku&lt;br /&gt;masih ingin kau menemaniku. Sampai aku bosan. Sampai&lt;br /&gt;aku lelah mengisap tubuhmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kadang kita mementingkan ketenangan dibanding&lt;br /&gt;kesehatan “ aku kutip dari temanku yang bertubuh&lt;br /&gt;kecil, gesit dan selalu tersenyum jika ia bertemu&lt;br /&gt;denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketenanganku, jika aku mengisap asap yang keluar dari&lt;br /&gt;tubuhmu. Aku tahu betapa bahayanya, jika aku selalu&lt;br /&gt;bersamamu. Aku tak peduli. Karena yang aku tahu, kau&lt;br /&gt;bias membuat diriku tenang. Aku tak perlu mengeluarkan&lt;br /&gt;banyak rupaiah dari katongku. Aku pun tak perlu&lt;br /&gt;menjual barang-barang yang ada dirumah demi&lt;br /&gt;mendaptkanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di setiap sudut desapun aku bisa mendaptkanmu. Aku tak&lt;br /&gt;perlu takut  tertangkap petugas keamanan jika&lt;br /&gt;kedapatan bersamamu. Kamu legal meskipun kata&lt;br /&gt;orang-orang yang berusaha menghindarimu, kamu itu&lt;br /&gt;haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau selalu setia, di saku belakang celana jeans&lt;br /&gt;bututku. Setiap aku habis makan, kau adalah dewa&lt;br /&gt;penyelamatkanmu. Aku tidak mengagung-agungkanmu. Tapi&lt;br /&gt;itu kenyataan, yang aku rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korek adalah bagian dari hidupmu. Kau tidak akan bisa&lt;br /&gt;berbuat tanpa api dari korekku. Tanpa korek kau akan&lt;br /&gt;terbengkalai di meja riasku,atau hanya menjadi&lt;br /&gt;pajangan lemari kaca di kios-kios, warung, toko bahkan&lt;br /&gt;supermarket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun akan meninggalkan abu dan puntungmu di asbak&lt;br /&gt;kecilKu. Hanya asapmu yang aku butuhkan.&lt;br /&gt;Aku senang kau tidak bisa berbicara. Kau hanya diam,&lt;br /&gt;menunggu mulut orang-orang mengisapmu. Tak seperti&lt;br /&gt;orang-orang aneh yang berada disekililingku. Yang&lt;br /&gt;selalu berkomentar tentang gaya hidup, dan kehidupan&lt;br /&gt;yang aku jalani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu, virus yang ada di tubuhku akan senang jika&lt;br /&gt;kau selalu bersamaku. Virus yang aku berinama cantik&lt;br /&gt;si virus iblis, akan tertawa dan dengan leluasa&lt;br /&gt;beranak pinak dalam darah dan tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cantik yang membuatku berubah. Sedikit merubah gaya&lt;br /&gt;hidupku yang dulu selalu menegak alkohol. Cantik  yang&lt;br /&gt;memisahkan aku dengan orang yang aku sayangi. Cantik&lt;br /&gt;dan kaupun akan memisahkanku dengan orang-orang yang&lt;br /&gt;aku sayangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau adalah sahabat dari cantik. Yang setiap saat,&lt;br /&gt;tanpa aku sadari akan membunuhku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-115691225777653501?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/115691225777653501/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=115691225777653501&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115691225777653501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115691225777653501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/08/menghisap-teman.html' title='Menghisap Teman'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-115673160524486300</id><published>2006-08-28T10:14:00.000+08:00</published><updated>2006-08-31T14:58:52.960+08:00</updated><title type='text'>Aku hanya menjadi asset !!</title><content type='html'>Membaca tulisan ini, sangat terasa emosinya. Ada kemarahan. Ada kekecewaan. Ada kegalauan. Tulisan yg sangat menyentuh..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bisa jadi bahan renungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penunggu Blog&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Odha Hanya jadi Asset!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh Odha Imoet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku adalah Tuhan untuk masa depanku. Meskipun aku hanya Tuhan dalam goresan pena hitamku . Aku optimis. Ambisius. Aku juga punya ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Virus Laknat yang menggerogoti setiap bagian tubuhku yang kurus. Setiap tetes darah dan peluhku adalah petaka bagi siapapun. Tentara imunitasku telah kalah dalam berperang. Perang melawan pasukan-pasukan iblis, dari planet HIV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;….aku takut!! aku takut jika virus iblis itu, memporak porandakan semua tentaraku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahkah kau dengar aku hari ini?! Sudahkah kau memberi dukungan padaku. Aku tidak butuh belaian sayangmu. Aku tidak butuh rayuan gombalmu. Aku tidak butuh!!! Aku mau, kau bisa menghargaiku. Walaupun hanya satu sendok kecil dukungan dari mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa kau berkedok menjadi sebuah lembaga yang mengatas namakan kepedulian terhadap orang-orang seperti aku? Apakah kau memanfaatkan kami untuk bisa menghidupi anak dan istrimu?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah itu yang dimaksud sosial?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya menjadi asset!! Asset untuk mendapatkan kucuran-kucuran dana. Asset untuk menjalankan akal busukmu. Kau tidak ada bedanya dengan teroris yang memporak-porandakan Bali dengan bom, tidak ada bedanya dengan pembunuh, pencuri yang sekarang sudah tinggal di Hotel Prodeo Kerobokan. Sampai kapan kau akan memperlakukan kami seperti kambing congek. Kesabaran kami ada batasnya!! aku ini manusia, bukan binatang peliharaanmu !!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-115673160524486300?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/115673160524486300/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=115673160524486300&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115673160524486300'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115673160524486300'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/08/aku-hanya-menjadi-asset.html' title='Aku hanya menjadi asset !!'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-115673080628101195</id><published>2006-08-28T10:01:00.000+08:00</published><updated>2006-08-28T10:06:46.296+08:00</updated><title type='text'>setiap perasaan adalah maya, namun</title><content type='html'>Lagi2 puisi Vicky, manajer program di Yayasan Hatihati Denpasar. Tetap tanpa tanggal dan tempat. Tapi puisi2 ini lahir karena pengalamannya pernah pakai narkoba dengan jarum suntik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         &lt;style&gt;  &lt;!--   @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in }   P { margin-bottom: 0.08in }  --&gt;&lt;/style&gt;***&lt;br /&gt;setiap perasaan adalah maya, namun&lt;br /&gt;perasaan dapat menjelma menjadi raga&lt;br /&gt;bila kau turuti perasaanmu&lt;br /&gt;setiap insan memiliki rasa, surga&lt;br /&gt;neraka jua di dalamnya, kau dan&lt;br /&gt;aku harus memaknai setiap rasa&lt;br /&gt;yang terlintas dalam nurani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-115673080628101195?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/115673080628101195/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=115673080628101195&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115673080628101195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115673080628101195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/08/setiap-perasaan-adalah-maya-namun.html' title='setiap perasaan adalah maya, namun'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-115639933534920492</id><published>2006-08-24T13:54:00.000+08:00</published><updated>2006-08-24T14:02:15.360+08:00</updated><title type='text'>Lomba Menulis dan Foto bagi Odha</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;color:black;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;" lang="SV"&gt;Barangkali ada yang berminat. Menarik juga. Didapat dari seorang teman.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;color:black;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;" lang="SV"&gt;Gudlak,&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;color:black;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;color:black;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;" lang="SV"&gt;Penunggu Blog&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;color:black;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;" lang="SV"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;color:black;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;" lang="SV"&gt;Subject: &lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lomba SANDAR&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya mohon maaf karena kami tidak membuat kerangka acuan (TOR) untuk lomba ini, karena acara ini kami adakan secara spontanitas untuk menggali bakat teman2 Odha. Adapun lomba yang kami adakan adalah lomba menulis dan&lt;br /&gt;lomba foto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk &lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;lomba menulis&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; tema bebas, entah itu tulisan artikel atau cerpen atau&lt;br /&gt;puisi, dengan ketentuan:&lt;br /&gt;a.. Asli hasil karya odha&lt;br /&gt;b.. Belum pernah dipublikasikan di manapun&lt;br /&gt;c.. Naskah diketik pada kertas A4, 1,5 spasi&lt;br /&gt;d.. Maksimal 600 kata (cek jumlah kata: klik tools --&gt; word count)&lt;br /&gt;Dimana juara akan memperoleh hadiah sebesar:&lt;br /&gt;Juara 1 = Rp. 1.000.000&lt;br /&gt;Juara 2 = Rp. 750.000&lt;br /&gt;Juara 3 = Rp. 500.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk &lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;lomba foto&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; juga tema bebas, namun dibagi menjadi 2 kategori, yaitu&lt;br /&gt;foto analog (film) dan foto digital (olah digital), dengan ketentuan:&lt;br /&gt;a.. Asli hasil karya Odha&lt;br /&gt;b.. Foto diambil di atas tahun 2000 (terbaru)&lt;br /&gt;c.. Foto dicetak dengan ukuran 10R&lt;br /&gt;d.. Menyertakan Film (klise) untuk foto analog dan file jpeg dalam CD untuk foto digital&lt;br /&gt;e.. Maksimal 2 foto tiap peserta&lt;br /&gt;f.. Setiap peserta mendapatkan penggantian cetak foto sebesar Rp.50.000&lt;br /&gt;g.. Foto-foto yang dilombakan menjadi hak milik SANDAR, yang tidak akan dikomersilkan.&lt;br /&gt; &lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;color:black;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;" lang="SV"&gt;Untuk juaranya Foto film (analog) dan Foto digital, masing-masing mendapatkan hadiah:&lt;br /&gt;Juara 1 Rp. 1.000.000&lt;br /&gt;Juara 2 Rp. 750.000&lt;br /&gt;Juara 3 Rp. 500.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik tulisan dan Foto beserta keterangannya (judul foto; lokasi obyek;&lt;br /&gt;kamera yg digunakan) dikirimkan paling lambat &lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5 September&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; &lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2006&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; ke:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;color:black;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black; font-weight: bold;" lang="SV"&gt;Sekretariat SANDAR Lt Basement, RSK. Dharmais Jl. Letjen S. Parman, Jakarta Barat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;color:black;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Info lebih lanjut hubungi:&lt;br /&gt;Telp: 021 5694 0929&lt;br /&gt;E-mail: &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;color:black;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;a target="_blank" href="http://mail.yahoo.com/config/login?/ym/Compose?To=sandarmais%40yahoo.com" _=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;sandarmais@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;color:black;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih atas perhatian dan kerjasamanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wasalam&lt;br /&gt;Ahmad Fauzi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-115639933534920492?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/115639933534920492/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=115639933534920492&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115639933534920492'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115639933534920492'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/08/lomba-menulis-dan-foto-bagi-odha.html' title='Lomba Menulis dan Foto bagi Odha'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-115613431704526086</id><published>2006-08-21T12:18:00.000+08:00</published><updated>2006-08-21T12:25:17.060+08:00</updated><title type='text'>Tes HIV Tidak Boleh Dipaksakan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Martin, panggilan akrab Martinus S Agus, prihatin dengan adanya tes HIV paksa. Karena itu, staf Yakeba tersebut menulis idenya di blog ini. Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;Penunggu Blog&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;Tes HIV Tidak Boleh Dipaksakan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;Oleh Martinus S Agus, staf Yayasan Kesehatan Bali [Yakeba]&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Salah satu perdebatan tentang HIV/AIDS yang sedang berlangsung saat ini adalah apakah perlu tes HIV untuk calon tenaga kerja Indonesia (TKI) yang akan dikirim ke luar negeri. TKI ini termasuk di antaranya adalah pekerja dari Bali yang sebagian besar bekerja di kapal pesiar. Pihak pengusaha, pemilik perusahaan memaksakan agar setiap calon TKI melakukan tes. Sementara kalangan aktivis penanggulangan HIV/AIDS menyatakan tes HIV tidak boleh dilakukan dengan paksaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tes &lt;i&gt;human immunodeficiancy virus&lt;/i&gt; (HIV), virus penyebab sindrom menurunnya sistem kekebalan tubuh atau &lt;i&gt;acquired immune deficiancy syndrome&lt;/i&gt; (AIDS) hanya boleh dilakukan setelah melalui &lt;i&gt;voluntary concelling and testing&lt;/i&gt; (VCT) atau tes dan konseling sukarela. Tujuannya untuk membantu mengenali perilaku atau kegiatan yang jadi saran penularan HIV. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Melalui VCT, orang yang dites akan diberi masukan oleh konselor sehingga pada akhirnya klien akan tes HIV berdasarkan pilihannya sendiri. Dari hasil konseling tersebut konselor juga akan tahu apakah klien siap tes atau tidak. Jika klien siap dan bersedia tes HIV secara sukarela, konselor pula yang akan memberitahu apa hasilnya dan apa langkah yang bisa diambil oleh klien. Manfaat konseling dan tes HIV secara sukarela adalah mempersiapkan mental klien untuk tes, membantu klien menerima hasil tes, mengarahkan klien yang positif HIV pada pelayanan yang dibutuhkan, serta merencanakan perawatan untuk masa depan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Namun VCT tak hanya dilakukan untk calon TKI. Bisa juga untuk masyarakat umum yang merasa punya risiko tertular HIV. Misalnya orang yang suka berganti pasangan seksual tanpa alat pengaman atau pengguna narkoba dengan jarum suntik yang suka memakai jarum secara bergantian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Untuk menurunkan angka penyebaran HIV/AIDS, perlu adanya kesadaran kita sebagai anggota masyarakat untuk tetap waspada dan menjaga perilaku. Misalnya tidak jangan melakukan hubungan seksual sebelum menikah, tidak menggunakan narkoba dengan jarum suntik bergantian, atau menggunakan alat pengaman (kondom) jika suka berganti pasangan seksual. Jika kita termasuk orang yang pernah melakukan perilaku tersebut, sebaiknya secara suka rela melakukan konseling dan tes HIV/AIDS.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Saat ini sudah banyak lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan instansi pemerintah yang menyediakan konselor dan rumah sakit untuk tes HIV secara gratis. Dan, ingat, hasil tes tersebut sangat dijaga kerahasiaannya. Orang lain tidak boleh tahu selama Anda tidak mengizinkan untuk memberitahu. Melanggar kerahasiaan tersebut sama dengan pelanggaran hak asasi manusia (HAM).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Jika ada yang melanggar asas kerahasiaan (konfidensialitas) ini, Anda bisa menuntut. Karena itu, tunggu apa lagi, semakin cepat Anda tahu status Anda, semakin cepat Anda bisa memutuskan kelangsungan dan perencanaan hidup Anda selanjutnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Hal yang harus paling diingat adalah bahwa jika hasil tes tersebut positif, bukan berarti dunia sudah berakhir. Anda masih bisa berkarir dan mengabdi pada masyarakat tanpa harus merasa rendah diri. Karena sudah terbukti banyak orang positif HIV yang bisa memberikan sumbangsih pemikiran dan sesuatu yang berguna pada komunitasnya. Jadi, tunggu apa lagi? Segera tes HIV...&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-115613431704526086?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/115613431704526086/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=115613431704526086&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115613431704526086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115613431704526086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/08/tes-hiv-tidak-boleh-dipaksakan.html' title='Tes HIV Tidak Boleh Dipaksakan'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-115605632330144227</id><published>2006-08-20T14:38:00.000+08:00</published><updated>2006-08-20T14:46:07.223+08:00</updated><title type='text'>Peduli pada Remaja dengan Memahami Hak-hak Remaja</title><content type='html'>12 Agustus lalu adalah hari remaja internasional. Empat relawan Kita Sayang Remaja (Kisara), yang peduli kesehatan reproduksi remaja juga narkoba, menulis artikel tentang remaja dan HIV/AIDS. Berikut salah satu tulisan relawan Kisara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penunggu Blog&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;  &lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 2.0  (Linux)"&gt;&lt;meta name="CREATED" content="20060820;14352000"&gt;&lt;meta name="CHANGED" content="16010101;0"&gt;          &lt;style&gt;  &lt;!--   @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in }   P { margin-bottom: 0.08in }  --&gt;&lt;/style&gt;&lt;b&gt;Peduli pada Remaja dengan Memahami Hak-hak Remaja&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh Yanitama Putri, relawan Kisara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data Departemen Kesehatan dan hasil survei lembaga swadaya masyarakat (LSM) peduli remaja menunjukkan remaja Indonesia usia 10-24 tahun, berjumlah 30 persen dari total penduduk Indonesia, telah melakukan hubungan seksual. Sekitar 15 juta remaja perempuan usia 15-19 tahun melahirkan tiap tahun. Sekitar 20 persen dari 2,3 juta kasus aborsi di Indonesia dilakukan remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga Juni 2006 ada 6332 kasus AIDS dan 4527 kasus HIV+ dengan sekitar 78,8 persen kasus baru pada remaja usia 15-29 tahun. Semua data tersebut bukanlah prosentase kecil yang bisa diabaikan begitu saja. Sebab data itu merupakan fenomena gunung es yang cuma diketahui puncaknya sementara yang terbenam di dasar laut kita tidak tahu pasti. Kasusnya kemungkinan lebih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengetahui data-data tersebut apa yang perlu kita perbuat? Bukan hanya menganga atau membisu meratapi nasib remaja yang terancam akan ”kepunahan”nya. Sekarang saatnya kita peduli pada segala permasalahan remaja, memberi dukungan, dan membantu remaja sebagai penerus bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang klise menyebut remaja sebagai generasi penerus bangsa. Tapi begitulah faktanya, begitulah harapannya. Yang perlu kita ingat adalah bagaimana membantu remaja menghadapi dan mengatasi masalahnya, terutama penyalahgunaan narkoba, seksualitas, HIV AIDS, pelecehan dan kekerasan seksual, bahkan &lt;i&gt;traficking&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang pernah remaja, akan remaja, atau sedang remaja. Sehingga apabila ada orang menyalahkan remaja secara ”membabi buta”, merupakan balas dendam atas perilaku yang dia terima dahulu ketika remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Remaja pada fase bingung. Bingung jati dirinya, bingung menentukan antara benar salah, bingung menunjukan diri ada dan bisa berprestasi, bingung bagaimana supaya diakui teman sebaya, dan kebingungan lain yang membuat remaja bermasalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Remaja sebagai masa peralihan antara kanak-kanak ke masa dewasa merupakan periode pencarian identitas diri yang membuat remaja mudah terpengaruh lingkungan. Rasa ingin tahu yang besar serta kuatnya pengaruh sebaya jadi salah satu faktor risiko bagi remaja untuk terjun ke hal negatif. Mudahya akses internet pun bisa jadi salah satu pemicu masalah remaja seperti pelecehan seksual atau pemerkosaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah &lt;i&gt;talkshow &lt;/i&gt;radio oleh Kisara, muncul pernyataan dari pendengar. Banyak temannya yang mengakses internet untuk mencari situs porno. Bahkan ada yang kemudian berperan sebagai pelaku dalam adegan porno yang disebarkan lewat &lt;i&gt;handphone&lt;/i&gt;. Memang bukan masalah baru, tapi bisa dikatakan ”biasa” sekarang ini, di zaman teknologi begitu pesat dan maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga sudah merupakan hal yang ”biasa” terdengar ketika remaja terjerumus ke penyalahgunaan narkoba karena keinginannya untuk diakui teman sebayanya (geng), karena masalah keluarga, kurangnya perhatian, atau cuma sekadar ingin melupakan  masalah maupun coba-coba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VCD atau majalah porno sudah menjadi ”konsumsi pengganti nasi” bagi remaja. Hubungan seksual pra-nikah, kehamilan tidak diinginkan (KTD), aborsi, infeksi menular seksual, hingga pemerkosaan atau pelecehan seksual pun masuk daftar masalah remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, apakah bisa kita katakan bahwa remaja merupakan sumber masalah? Ataui masalah remaja timbul karena remaja itu sendiri? Jika semua orang mempunyai pemikiran seperti itu, alangkah malangnya nasib remaja. Betapa remaja sangat tidak bisa diharapkan karena keberadaannya hanya membuat masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari renungkan bagaimana masalah remaja itu muncul. Misalnya &lt;i&gt;traficking &lt;/i&gt;(perdagangan anak-anak atau remaja) atau munculnya ayam kampus sebenarnya merupakan masalah yang ditimbulkan pihak lain. Bukan remaja yang menginginkan ”keperawanan” remaja atau sekadar pemuas nafsu gangguan orientasi seksual (paedofilia) yang kemudian membuat remaja tertular infeksi menular seksual, HIV/AIDS, KTD, hingga aborsi dan pelecehan seksual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, perlu diketahui bahwa remaja juga punya hak-hak yang melindungi dan menunjukan sisi positif keberadaannya. UU yang disahkan pemerintah melalui Peraturan Presiden nomor 7 tahun 2005 tersebut antara lain &lt;b&gt;Hak untuk menjadi diri sendiri&lt;/b&gt; dalam artian bebas mengekspresikan diri, membuat keputusan, menjadi aman; &lt;b&gt; Hak untuk tahu &lt;/b&gt;dalam artian berhak tahu tentang kesehatan reproduksinya&lt;b&gt; &lt;/b&gt;atau HIV AIDS&lt;b&gt;; Hak untuk dilindungi dan melindungi diri&lt;/b&gt; dari pelecehan seksual, aborsi, KTD, infeksi menular seksual;&lt;b&gt; Hak untuk mendapat pelayanan kesehatan &lt;/b&gt;yang bersahabat, tanpa mendiskriminasikan, secara profesional oleh ahlinya&lt;b&gt;; dan hak untuk terlibat dalam segala hal dalam kebijakan pemerintah tentang remaja.&lt;/b&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekaranglah saatnya kita peduli bahwa remaja tidak akan jadi sumber masalah. Kepedulian itu terjadi apabila kita peduli akan keberadaannya, ikut memberi perhatian pada remaja, serta membantu remaja mengatasi masalahnya. Dengan kata lain ikut ”membukakan pintu” sebagai jalan keluar bagi remaja yang bermasalah atau remaja yang terancam masalah. Tunjukan bahwa kita mendukung remaja. Tunjukan bahwa &lt;b&gt;Kita Sayang Remaja. Selamat Hari Remaja 12 Agustus..&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-115605632330144227?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/115605632330144227/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=115605632330144227&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115605632330144227'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115605632330144227'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/08/peduli-pada-remaja-dengan-memahami-hak.html' title='Peduli pada Remaja dengan Memahami Hak-hak Remaja'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-115597028881963110</id><published>2006-08-19T14:49:00.000+08:00</published><updated>2006-08-19T14:51:28.826+08:00</updated><title type='text'>ketika kulewati lereng gunung salju</title><content type='html'>Lodovickus Gerong, manajer program Yayasan Hatihati menyimpan puisi2nya lalu diberikan untuk diposting. Vicky, panggilan akrabnya pernah akrab dengan putaw sebelum kemudian aktif di penanggulangan HIV/AIDS di kalangan pecandu heroin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silakan dinikmati,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penunggu Blog&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika kulewati lereng gunung salju&lt;br /&gt;kutemukan gubuk kaca bermukim&lt;br /&gt;indah,&lt;br /&gt;amarahmu adalah duka bagi&lt;br /&gt;jiwa, dan kedamaian memberi&lt;br /&gt;keindanhan tanpa batas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-tanpa tanggal dan tempat-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-115597028881963110?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/115597028881963110/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=115597028881963110&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115597028881963110'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115597028881963110'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/08/ketika-kulewati-lereng-gunung-salju.html' title='ketika kulewati lereng gunung salju'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-115588081300100560</id><published>2006-08-18T13:56:00.000+08:00</published><updated>2006-08-18T14:00:13.010+08:00</updated><title type='text'>Lowongan Wartawan Media HIV/AIDS</title><content type='html'>Kalau berani, kenapa ga coba nglamar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penunggu Blog&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KULKUL, media mengulas HIV/AIDS dan Narkoba, mengundang Anda untuk bergabung menjadi tim redaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaratnya:&lt;br /&gt;1. Mampu menterjemahkan ide dalam bentuk tulisan&lt;br /&gt;2. Dapat mengoperasikan komputer&lt;br /&gt;3. Terbuka dengan wawasan dan ide serta menyukai bekerja sama dalam tim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat lamaran, biodata dan 1 (satu) contoh artikel tentang HIV/AIDS dan narkoba (tema dan gaya penulisan bebas) minimum 2 halaman quarto dikirim melalui email: mediakulkul@walla.com atau langsung ke kantor Kulkul, Jl. Melati 21 Denpasar, lt. 2. Paling lambat tanggal 31 Agustus 2006.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-115588081300100560?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/115588081300100560/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=115588081300100560&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115588081300100560'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115588081300100560'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/08/lowongan-wartawan-media-hivaids.html' title='Lowongan Wartawan Media HIV/AIDS'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-115581869393454830</id><published>2006-08-17T20:35:00.000+08:00</published><updated>2006-08-17T20:44:53.943+08:00</updated><title type='text'>Puisi Vicky</title><content type='html'>Lodovickus Gerong, manajer program Yayasan Hatihati menyimpan puisi2nya lalu diberikan untuk diposting. Vicky, panggilan akrabnya pernah akrab dengan putaw sebelum kemudian aktif di penanggulangan HIV/AIDS di kalangan pecandu heroin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silakan dinikmati,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penunggu Blog&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;banyak hal terlintas dalam angan&lt;br /&gt;dan mungkin sedikit yang bisa terwujud&lt;br /&gt;jiwa yang terkurung angan-angan&lt;br /&gt;mengkilik nurani seperti bara api&lt;br /&gt;jangan biarkan nuranimu terbakar&lt;br /&gt;hasrat, jua angan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-tanpa tanggal dan tempat nulis-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-115581869393454830?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/115581869393454830/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=115581869393454830&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115581869393454830'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115581869393454830'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/08/puisi-vicky.html' title='Puisi Vicky'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-115569811689233729</id><published>2006-08-16T11:07:00.000+08:00</published><updated>2006-08-16T11:15:16.903+08:00</updated><title type='text'>Gay Is Not A Crime!</title><content type='html'>“Gay is not a crime!” kata seorang gay pagi ini. Dia mengeluhkan banyaknya diskriminasi dan stigma dari masyarakat pada kelompok ini. Misalnya melalui media massa. Di Bali setahun terakhir memang terjadi pembunuhan terhadap dua gay. Itu setidaknya yang muncul di korang lokal. Keduanya dibunuh orang yang diduga pasangan seksnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa harus diberitakan orientasi seksualnya. Itu kan memperparah pandangan orang bahwa gay itu kelompok orang bermasalah,” lanjutnya. Masih dengan penuh semangat dia juga cerita bagaimana oleh tokoh agama dia disarankan memperbanyak ibadah agar orientasi seksualnya hilang. “Pulang dari ****** –salah tempat ibadah- saya kembali kepikiran cowok, bukan cewek. Kalau memang Tuhan itu tidak mau ada orang seperti kami kan tidak mungkin dia menciptakan orang seperti kami.” Ya, kurang lebih begitulah teman itu ngomong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua pekan lalu, salah satu waria juga cerita tentang bagaimana dia harus menghadapi keluarga yang tetap tidak bisa menerima keberadaannya sebagai waria –bahasa kerennya sekarang transjender-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua teman itu, satunya gay, satunya waria, bisa jadi contoh masih adanya pandangan minor terhadap kelompok tersebut, termasuk lesbian dan biseksual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling parah justru pandangan sebagian masyarakat ketika kelompok ini menunjukkan identitas atau orientasi seksual tersebut. Padahal mereka juga berhak berekspresi seperti halnya warga negara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, sejak kemarin hingga hari ini dilakukan semiloka Hak atas Kebebasan Pribadi bagi Kelompok Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transjender/Transeksual (LGBT) di Kuta. Sekitar 35 orang dari kalangan aktivis LGBT dan HAM, misalnya Gaya Dewata, Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI) Bali, maupun individu itu berdiskusi dengan Taheri Noor dan Heru W Susanto (Komnas HAM) dan Dede Oetomo (Gaya Nusantara).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semiloka oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) ini setidaknya menunjukkan bahwa negara pun kini peduli dan menjamin hak-hak LGBT untuk berekspresi. Hak itu misalnya hak mengembangkan diri, hak atas rasa aman, hak atas kebebasan pribadi, dan hak atas kesejahteraan (termasuk hak atas pekerjaan). Langkah positif untuk membuat LGBT sadar dan bisa memperjuangkan hak-haknya. Gudlak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penunggu Blog&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-115569811689233729?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/115569811689233729/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=115569811689233729&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115569811689233729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115569811689233729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/08/gay-is-not-crime.html' title='Gay Is Not A Crime!'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-115561413915320926</id><published>2006-08-15T11:49:00.000+08:00</published><updated>2006-08-15T12:01:03.423+08:00</updated><title type='text'>Ketika HIV/AIDS Diabaikan</title><content type='html'>HIV/AIDS di Bali tak lagi hanya di kelompok berisiko tinggi. HIV/AIDS menyebar juga ke anak-anak dan ibu rumah tangga. Luh De Suriyani, pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba di Bali, Kulkul, menulis panjang tentang masalah tersebut. Tulisan panjang ini dimuat majalah The Echo Mei lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silakan dibaca,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penunggu Blog&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika HIV/AIDS Diabaikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Luh De Suriyani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika matahari berada di ufuk barat, Jero Sari, sebut saja demikian, bergegas keluar rumah. Di pinggir jalan, ia menghampiri gerobak berisi sampah. Gerobak itu telah penuh berisi sampah plastik dan organik karena pagi harinya ia telah usai mengambil sampah di sekitar 50 rumah. Lalu ia mengalungkan tali dari bahan kain ke lehernya untuk memudahkan gerakan tangannya. Dengan tangkas ia mulai menarik gerobak yang terbuat dari besi beroda dua itu. Ia mulai menyusuri jalan Patimura di sela hiruk pikuk padat lalu lintas di Kota Denpasar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampah adalah sumber penghasilan Jero Sari hingga belasan tahun. Perempuan yang mengira-ngira berusia 47 tahun ini mengabdikan dirinya untuk memindahkan kotoran rumah tangga itu ke tempat penampungan sampah sementara di Kreneng, sekitar 2 kilometer dari rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan hingga kini, ketika Human Immunodefeciency Virus (HIV) menggerogoti tubuhnya. Berawal dari setahun lalu, ketika suaminya sakit-sakitan. Hampir sebulan, sejumlah penyakit datang bertubi-tubi ke tubuh suaminya. Diare, flu, dan kadang-kadang sesak nafas. Saat dirawat di rumah sakit selama seminggu, beberapa anggota keluarga diberitahu bahwa suami Sari telah kena Aquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS), suatu fase dimana gejala penyakit menyerang karena HIV telah melumpuhkan kekebalan tubuh manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita itu menyebar cepat hingga sejumlah tetangganya tahu. “Mereka bertanya-tanya kenapa bisa kena AIDS. Terus ditanyain dimana dapat. Banyak yang bilang pasti dia tertular dari cewek yang pernah diajaknya dulu,” ujar Sandat, ipar Sari. Sandat menyalahkan orang lain yang disebutnya telah menularkan HIV itu pada adiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami Sari hanya bertahan seminggu di rumah sakit sebelum akhirnya meninggal. Ketika dirujuk ke rumah sakit, kondisinya telah parah. Saat upacara pemakaman tiba. Seorang paramedis pun datang ke rumah Nyoman dan ikut memandikan jenazah suaminya. Hal ini dilakukan untuk meredam ketakutan warga masyarakat yang mengira dapat tertular HIV jika menyentuh jenazah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, hari-hari Sari berjalan kembali seperti bisa. Mengakrabi peluh dan sampah. Menjelang senja, sebuah gerobak penuh sampah menanti untuk diajaknya jalan-jalan. Tak ada guratan ketakutan seperti yang dialami sejumlah tetangga karena AIDS yang membuat suaminya meninggal. Tak sedikit pun bayangan itu ada, karena AIDS, kata yang baru dikenalnya, tak dipahaminya, hingga kini setelah lebih dari setahun ia positif HIV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah suaminya meninggal, dokter di Rumah Sakit Umum Sanglah Denpasar, tempat suaminya dirawat sebelum meninggal memberi perhatian khusus pada Sari. Seorang pendamping, Christian mengenalkannya dengan HIV/AIDS sebelum ia bersedia tes darah. Hari-harinya juga tak lantas berubah, kecuali ia mulai menyesuaikan waktu kerjanya dengan kewajiban minum beberapa pil yang disebut antiretroviral (ARV), penghambat perkembangbiakan HIV dalam tubuh. Ia bilang, obat itu harus diminumnya tiga kali sehari dengan tepat waktu. Tiap dua minggu sekali Christian mengantarkan ARV cuma-cuma itu ke rumahnya, sembari mengecek kondisi fisik Sari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katanya biar saya sehat harus minum obat ini. Saya juga disuruh istirahat dan rajin mandi,” ujar perempuan dengan dua anak ini. Dua anaknya, laki-laki dan perempuan telah menginjak dewasa. Yang laki-laki, melarang Sari memakai peralatan makan minum yang dipakainya. Padahal beberapa kali diberi tahu bahwa HIV hanya rentan tertular melalui kontak darah dan cairan kelamin secara langsung. Sari hanya membiarkan semua berjalan biasa, tanpa menjadi gundah karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakmengertian Sari dengan HIV/AIDS dan kondisi dirinya malah menumbuhkan pemahaman sejumlah orang yang berada dalam ruangan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bali, awal September lalu. Saat itu, Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Bali, lembaga non struktural pemerintah daerah Bali yang mengurusi HIV/AIDS tengah melakukan audiensi ke DPRD. Tujuannya agar para wakil rakyat memahami ancaman HIV dan memberikan komitmen untuk penanggulangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sari yang tak bisa berbahasa Indonesia itu duduk di meja panjang bersama dengan aktivis LSM dan mantan pengguna narkoba yang melakukan testimoni. “Saya tidak bisa bercerita seperti mereka. Tapi saya bisa jawab kalau ditanya sedikit-sedikit dengan bahasa Bali,” ujarnya terbata-bata. Dengan gugup mengatakan bahwa ia adalah pengangkut sampah, setiap bulan mendapatkan upah Rp 150 ribu. Setiap kali pertanyaan soal HIV/AIDS ia terdiam. Ia kelihatan bingung. Bahkan menyebut kata HIV/AIDS saja ia mengaku sulit. Seorang anggota DPRD, Anie Asmoro menitikkan air matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan keesokkan harinya, Sari terlihat mengangkut banyak kayu bekas bongkaran bangunan untuk diantarkan ke rumah seseorang. Kayu-kayu itu akan dijadikan bahan bakar. “Saya senang kalau dapat angkut-angkut gini, kan bisa nambah uang,” ujarnya riang. Bekas-bekas luka di sekujur tubuhnya yang ramping terlihat menghitam terbakar sinar matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 120 kilometer arah utara Denpasar, di Dusun Goris Desa Pejarakan Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Made Dakih, juga harus mengasuh dua ponakannya, Susan dan Sunan. Dua balita itu ditinggal mati ayah dan ibunya karena HIV/AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dakih yang berumur sekitar 45 tahun dan masih melajang itu kini tinggal sendiri di tengah ladang kering sekitar 100 meter dari Jalan Raya Gilimanuk-Singaraja. Jalan utama yang menghubungkan lalu lintas Bali dan Jawa ini membagi pesisir pantai utara Bali dengan daerah pegunungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dakih dan dua ponakannya tinggal di rumah tua peninggalan keluarganya, jauh dari keramaian dan perumahan penduduk. Dinding batako dan batu bata itu semuanya telah lapuk. Di sebuah kamar tempat tidur mereka, di atas meja tertera tulisan tangan, ”Nyoman Muna Meninggal 23 Juni 2003”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah ingatan yang ditulis untuk mengenang kematian ayah Sunan dan Susan karena tak kuasa melawan serangan banyak penyakit di tubuhnya. Tak satu pun anggota keluarga yang meyakini bahwa itu adalah HIV/AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berminggu-minggu dia sakit. Tidak punya nafsu makan, semua penyakitnya keluar. Mencret-mencret, mulutnya banyak lemak, sampai tidak bisa makan. Biar makanan masuk harus pakai larutan (sejenis minuman bersoda),” ujar Nadi, kakak perempuan Muna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kondisi Muna bertambah parah, ia dibawa ke seorang dukun yang dipercaya pintar mengobati segala penyakit. Dukun memberikan loloh, sejenis jamu dari racikan tumbuhan dan rempah. Muna tak membaik. Hingga suatu kali, Nadi mendengar adiknya dikatakan tetangganya kena AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya kaget. Kok bisa kena AIDS. Sungguh kami tak menyangka orang seperti kami bisa kena. Kan katanya cuma cewek-cewek nakal. Kami masih tidak bisa terima,” Nadi menceritakan kembali perasaannya waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, dua tahun setelah kematian Muna dan istrinya, Nadi dan Dakih mulai percaya HIV/AIDS bisa diidap siapa saja. Kenyataannya makin banyak orang mengalami gejala penyakit yang sama di Gerokgak. Sejumlah ibu rumah tangga pun telah dinyatakan positif HIV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini makin terbuka karena Yayasan Citra Usadha Indonesia (YCUI), lembaga swadaya masyarakat (LSM) penanggulangan HIV/AIDS di Bali melakukan pendampingan dan advokasi di wilayah ini. Mereka mendirikan PIGO, pos informasi Goris. Di pos ini, aktivis YCUI kerap berkumpul dengan warga untuk menginformasikan soal HIV/AIDS, infeksi menular seksual (IMS), dan pemakaian kondom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YCUI juga membuat kelompok dukungan Suryakanta, yang khusus memberi dukungan kesehatan dan ndampingan bagi orang dengan HIV/AIDS (Odha) di Buleleng. Suryakantha yang dikoordinatori Kadek Carna Wirtha juga secara rutin memberikan bantuan pangan dan biaya pendidikan bagi sejumlah anak yatim atau yatim piatu karena kehilangan orang tua akibat HIV/AIDS, seperti Susan dan Sunan. Bantuan ini berasal dari donasi dan pemerintah daerah Kabupaten Buleleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dakih dan Nadi mengaku menyesal baru mengetahui soal HIV/AIDS. “Coba saya tahu dari dulu, barangkali orang tua Susan dan Sunan masih ada. Sekarang kan sudah ada obat yang katanya diberikan gratis. Kita dulu setengah mati nyari orang yang bisa ngobatin. Sudah sakit parah, dikucilkan,” kata Nadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring makin banyaknya informasi dan akses pelayanan kesehatan di Gerokgak, tak banyak warga heran pada Odha. Puskesmas setempat juga kini membuka pintu untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi anak-anak yatim atau piatu yang telah kehilangan orang tua karena HIV/AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bertanya pada warga sekitar kenapa banyak yang terinfeksi HIV, salah satu jawabannya adalah karena banyaknya pekerja tempat hiburan malam seperti cafe dan warung karaoke. Tetapi faktanya, toh, lokasi hiburan malam, seperti cafe, warung kopi, dan tempat karaoke makin banyak dan menyebar lokasinya di pemukiman penduduk. Artinya, makin banyak yang suka ke lokasi hiburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menyusuri satu kawasan padat lokasi hiburan malam di wilayah itu, tampak deretan rumah semi permanen. Sejumlah papan nama warung atau cafe berbeda terlihat di depan rumah-rumah itu. Siang hari tak nampak ada aktivitas penghuninya. Mereka biasanya menjual makanan ringan dan minuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegemaran sejumlah laki-laki ke lokasi hiburan malam ekses dari keseharian mereka yang kebanyakan berprofesi sebagai sopir angkutan antar provinsi atau antar kabupaten. Tempat-tempat istirahat yang sering dikunjungi sopir adalah warung atau cafe di sepanjang jalur transportasi darat, termasuk Gerokgak. Hal ini diakui Merta, sebut saja demikian. Pria 33 tahun ini hingga kini mengatakan bersenang-senang adalah bagian dari tradisi pekerjaannya sebagai kernet truk. “Tak ada yang perlu ditakuti, sampai akhirnya saya katanya kena AIDS.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang petugas lapangan YCUI, Siti Mariani, mengatakan di Gerokgak tidak ada lokasi prostitusi karena kebanyakan transaksi seks terselubung. Persoalannya, banyak mitos di sekeliling ancaman HIV/AIDS ini. Misalnya, hanya orang yang fisiknya kelihatan kotor yang rentan tertular HIV atau mengidap IMS. Atau kebiasaan pelanggan seks yang menggunakan antibiotik untuk menghindari penyakit. Karenanya tak mudah mempopulerkan kondom sebagai alat pengaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengabaian-pengabaian ini sampai ke ranah rumah tangga. Ketika IMS dan HIV menghampiri suami, sang istri tak bisa mengelak penularannya. “Saya sekarang jadi takut, jangan-jangan suami nyeleweng. Banyak yang kelihatan jujur, kok kena AIDS,” heran Nadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data Suryakanta menyebutkan sedikitnya terdapat 13 Odha di Gerokgak. Sementara anak-anak yatim atau yatim piatu yang kehilangan orang tua karena AIDS berjumlah 14 orang, berusia 2-14 tahun. Mereka yang bersedia mendapat pendampingan dari YCUI. Sementara data kasus HIV/AIDS yang dilaporkan di Kabupaten Buleleng sebnayak 88 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini, Dinas Kesehatan Provinsi Bali melaporkan terdapat 161 kasus AIDS sejak 1987 di Bali. Sementara kasus HIV dipastikan lebih banyak dari itu dan hingga kini masih ditelusuri data pastinya. Hampir 60 persennya yang terinfeksi HIV adalah dampak penggunaan narkoba suntik bergantian (injecting drug users/IDU). Data itu diyakini hanya puncak dari sebuah gunung es, idiom yang menggambarkan betapa berlipatnya kasus HIV/AIDS di dasar gunung es yang tak terlihat. KPAD memperkirakan di Bali terdapat 3000 kasus HIV/AIDS, dimana sekitar 1100 karena penggunaan narkoba suntik, dan sisanya melalui hubungan seksual (hetero/transeksual). Dinas Kesehatan masih menggunakan istilah kelompok beresiko tinggi yang rentan tertular HIV/AIDS seperti pekerja seks dan IDU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, semakin banyak orang yang disebut bukan golongan beresiko tinggi yang tiba-tiba terinfeksi seperti Jero Sari. Juga beberapa ibu rumah tangga di Gerokgak serta kemungkinan anak-anak mereka. Persoalannya sebagian besar dari mereka tertutup sehingga sulit mendapatkan dukungan sosial dan kesehatan. Apakah pengabaian ini akan terus berlanjut? Saatnya membuka mata dan hati bahwa HIV tidak mengenal kelompok beresiko tinggi tapi bagian dari masyarakat umum.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-115561413915320926?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/115561413915320926/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=115561413915320926&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115561413915320926'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115561413915320926'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/08/ketika-hivaids-diabaikan.html' title='Ketika HIV/AIDS Diabaikan'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-115552742721959185</id><published>2006-08-14T11:44:00.000+08:00</published><updated>2006-08-15T10:58:20.263+08:00</updated><title type='text'>Puisi Vicky di Keremangan</title><content type='html'>Setelah puisi di zaman kegelapan, kini saatnya puisi Vicky -panggilan akrab Lodovickus Gerong, manajer program Yayasan Hatihati, saat di keremangan. Dia mulai melihat cahaya setelah di tengah gela gulita. :))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penunggu Blog&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;akal dan nurani terkadang&lt;br /&gt;tidak memberi arti&lt;br /&gt;seserihan debu pun tak berarti&lt;br /&gt;tanpa akal dan nurani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kita semua berusaha memberi makna&lt;br /&gt;terhadap semua cerita&lt;br /&gt;tapi mungkin akal dan nurani kita&lt;br /&gt;tak mampu memaknai&lt;br /&gt;semuanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-lagi-lagi Vicky lupa tanggalnya-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-115552742721959185?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/115552742721959185/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=115552742721959185&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115552742721959185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115552742721959185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/08/puisi-vicky-di-keremangan.html' title='Puisi Vicky di Keremangan'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-115552495743507866</id><published>2006-08-14T10:58:00.000+08:00</published><updated>2006-08-14T11:28:05.140+08:00</updated><title type='text'>Merayakan Youth International Day 2006</title><content type='html'>Sekitar 100 remaja ngumpul bareng di kantor Kisara, lembaga peduli remaja di Denpasar Sabtu malam lalu. Mereka merayakan hari remaja internasional tiap 12 Agustus. Para remaja itu bikin petisi dan renungan bersama. Menarik juga melihat mereka membicarakan isu-isu politis seperti akses terhadap persoalan kesehatan maupun kebijakan pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, meskipun bahan renungan mereka dibuat dr Oka Negara, koordinator Kisara -yang tentu sudah tidak remaja lagi. :))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini sebagian bahan renungan itu. Silakan direnungi. Atau ya paling tidak silakan dibaca. :))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penunggu Blog&lt;br /&gt;=======================================================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah kita bahwa jumlah remaja Indonesia yang berusia 10-24 tahun mencapai 65 juta orang atau 30% dari total penduduk Indonesia? Bahwa sekitar 15-20% dari remaja usia sekolah di Indonesia sudah melakukan hubungan seksual di luar nikah? Bahwa sekitar 15 juta remaja perempuan usia 15-19 tahun melahirkan tiap tahun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga Juni 2006 telah tercatat 6332 kasus AIDS dan 4527 kasus HIV positif di Indonesia, dengan 78,8% dari kasus-kasus baru yang terlaporkan berasal dari usia 15-29 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperkirakan terdapat sekitar 270.000 pekerja seks perempuan yang ada di Indonesia, dimana lebih dari 60% adalah berusia 24 tahun atau kurang, dan 30% berusia 15 tahun atau kurang.&lt;br /&gt;Setiap tahun ada sekitar 2,3 juta kasus aborsi di Indonesia di mana 20% diantaranya adalah aborsi yang dilakukan oleh remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikitnya 6% remaja usia 10-14 tahun tidak mendapatkan haknya untuk bersekolah dan terpaksa bekerja untuk kelanjutan hidup mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih belum banyak yang mengetahui tentang keberadaan tanggal 12 Agustus sebagai Hari Remaja Internasional. Tanggal ini ditetapkan sebagai Hari Remaja Internasional berdasarkan rekomendasi World Conference of Ministers Responsible for Youth yang diselenggarakan di Lisbon tahun 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 2000 Hari Remaja Internasional mulai dipromosikan sebagai momentum penting bagi remaja dalam upaya mengentaskan berbagai permasalahan di dunia. Untuk di Indonesia sendiri secara nasional baru diselenggarakan tahun 2005 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tackling Poverty Together” adalah tema Hari Remaja tahun 2006 ini dengan fokus perhatian yang cukup menarik yaitu The Role of Young People in Poverty Reduction. Karena memang isu kemiskinan adalah juga sebuah permasalahan global yang perlu disosialisasikan dan dihadapi bersama-sama termasuk oleh remaja di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sepuluh tahun terakhir World Programme of Action for Youth (WPAY) menarik kesimpulan bahwa remaja adalah juga komponen potensial dalam ikut berperan dalam menyelesaikan permasalahan di dunia, termasuk kemiskinan. Secara umum kemiskinan itu memiliki arti yang sangat luas, tidak hanya kemiskinan secara fisik, tetapi juga bagaimana bisa mengeliminasi bersama kemiskinan akan informasi dan edukasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosialisasi akan terus dilaksanakan untuk bisa membuat momentum ini lebih banyak mendapat perhatian lagi dari kalangan luas. Terutama bisa berpartisipasi di dalamnya dengan cara:&lt;br /&gt;Tunjukkan bahwa anda bisa memberi support. Dukungan untuk remaja kita. Dukungan buat HIV/AIDS. Termasuk bisa berpartisipasi aktif dalam kepedulian dan event kepedulian terhadap anak, remaja dan HIV/AIDS. Untuk bisa memberdayakan bersama anak, remaja dan AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkolaborasi. Secara bersama-sama dalam sebuah tim. Baik itu pemerintah, NGO/LSM, kalangan swasta, akademisi dan yang terpenting bisa mengajak remaja untuk berperan aktif untuk fokus dan ikut serta di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-115552495743507866?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/115552495743507866/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=115552495743507866&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115552495743507866'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115552495743507866'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/08/merayakan-youth-international-day-2006.html' title='Merayakan Youth International Day 2006'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-115526948633631189</id><published>2006-08-11T11:59:00.000+08:00</published><updated>2006-08-11T12:17:15.550+08:00</updated><title type='text'>Puisi Vicky Saat di Kegelapan</title><content type='html'>Lodovickus Gerong, panggilan akrabnya Vicky.&lt;br /&gt;Dia pernah akrab dengan putaw. Kini, tentu saja, tidak lagi.&lt;br /&gt;Lahirlah puisi2 ini setelah dia kembali tersesat ke jalan benar. :))&lt;br /&gt;Vicky kini program manager di Yayasan Hatihati, lembaga penanggulangan HIV/AIDS di kalangan pengguna narkoba suntik (penasun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ini puisi pertamanya. kedua dan seterusnya di posting lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penunggu Blog&lt;br /&gt;=========================================&lt;br /&gt;         &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;ketika pintu pertama kulewati&lt;br /&gt;kegelapan menyelimutiku, dan&lt;br /&gt;pintu kedua kubuka&lt;br /&gt;keremangan jua sedang menantikanku&lt;br /&gt;pintu ketiga kubuka, cahaya menerangi&lt;br /&gt;pandanganku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                       &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;karena cahaya aku melangkah&lt;br /&gt;dalam langkahku&lt;br /&gt;aku terjerumus dalam dosa&lt;br /&gt;saat kesalahan kekeliruan&lt;br /&gt;kesenangan dan semua&lt;br /&gt;cerita duka-lara menanti&lt;br /&gt;barulah aku sadari&lt;br /&gt;bahwa aku datang dari&lt;br /&gt;serpihan debu, yang&lt;br /&gt;tak berarti&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;-sayang banget Vicky lupa tanggal bikin puisi ini-&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-115526948633631189?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/115526948633631189/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=115526948633631189&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115526948633631189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115526948633631189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/08/puisi-vicky-saat-di-kegelapan.html' title='Puisi Vicky Saat di Kegelapan'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-115518864392039696</id><published>2006-08-10T13:41:00.000+08:00</published><updated>2006-08-10T13:44:03.930+08:00</updated><title type='text'>Ketika Aktivis Belajar Jadi Jurnalis</title><content type='html'>Well, akhirnya Klinik Jurnalistik [KaJe] pun kelar. KaJe diadakan 3-5 Agustus kemarin di Bedugul. Idenya muncul setelah beberapa teman aktivis penanggulangan HIV/AIDS sering minta diajarin nulis berita maupun artikel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula maunya datengin aja ke tiap LSM satu per satu. Satu wartawan diminta ke satu lembaga. Ngajarin dasar2 jurnalistik hingga nulis artikel opini. Tapi kalo gitu akan susah. Soalnya tak semua wartawan bisa ngasi pelatian lengkap gitu. Belum lagi soal waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya ya udah diadain saja di luar kota dalam waktu tiga hari. Normalnya sih lima hari untuk materi dasar seperti dasar2 jurnalistik, berita langsung, berita kisah, dan artikel opini. Karena diadakan di luar kota, peserta bisa ngerjain tugas malam2. Sengaja pilih tempat dingin. Didapatlah di Bali Handara Kosaido, yg punya lapangan golf dan pemandangannya asik banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pas baru dateng, 15 peserta dari 13 lembaga penanggulangan HIV/AIDS di Bali sudah kaget2 lita viewnya yg asik. But, mereka bilang sayang banget karena ga bisa puas menikmati pemandangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gimana bisa? Tiap hari mereka dikasi materi dari pukul 08.30 sampe 17.30 wita. Malamnya mereka ngerjain tugas. Pematerinya Slamet Riyadi [LP3Y], Wayan Junairta [The Jakarta Post], dan Darma Putra [Kolumnis, wartawan ABC]. Tugasku hanya ngasi tugas. :))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya di bawah target. Masih banyak yg belum ngerti beda berita langsung dengan berita kisah. Nulis opini juga belum lancar. But, paling tidak udah ngasi sesuatu buat orang lain. Sudah berbagi ilmu pada teman2 aktivis itu. Tinggal nunggu apakah mereka bisa memanfaatkan ilmu itu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-diambil dari jirovun.blogspot.com-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penunggu Blog&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-115518864392039696?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/115518864392039696/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=115518864392039696&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115518864392039696'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115518864392039696'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/08/ketika-aktivis-belajar-jadi-jurnalis.html' title='Ketika Aktivis Belajar Jadi Jurnalis'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32491063.post-115518710380639686</id><published>2006-08-10T13:15:00.000+08:00</published><updated>2006-08-14T11:23:19.870+08:00</updated><title type='text'>Tentu Saja untuk Hal Lebih Positif</title><content type='html'>Yup, inilah postingan pertama memulai blog ini. kabarpositif.blogspot.com dibuat untuk nampung semua tulisan, harapan, uneg2, masalah, kekecewaan, apa sajalah terkait masalah HIV/AIDS di Bali. Sebab kami percaya bahwa tulisan bisa jadi penyalur untuk perubahan. Hatjing!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja untuk hal yang lebih positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penunggu Blog&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32491063-115518710380639686?l=kabarpositif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabarpositif.blogspot.com/feeds/115518710380639686/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32491063&amp;postID=115518710380639686&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115518710380639686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32491063/posts/default/115518710380639686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabarpositif.blogspot.com/2006/08/tentu-saja-untuk-hal-lebih-positif.html' title='Tentu Saja untuk Hal Lebih Positif'/><author><name>Kabar Positif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06714899114872796578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
